Travelling memakai pesawat mirip Airbus, Boeing, Bombardier ataupun ATR tampaknya telah biasa. Lalu bagaimana rasanya terbang jikalau menggunakan pesawat mungil Cessna Grand Caravan 208 ? Tentu akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.
| Bandara Nusawiru Kabupaten Pangandaran |
Berikut ini adalah pengalaman salah seorang netizen yang mencoba pengalaman tersebut. Ini yakni ceritanya.
Pada sebuah pagi yang cerah, Sabtu (28/03/2015) detik Finance menjajal pesawat Cessna Grand Caravan 208 milik maskapai Susi Air dengan nomor penerbangan SI232. Tujuannya adalah Tunggul Wulung, Cilacap, Jawa Tengah via Nusawiru Pangandaran. Terbang melalui Bandara Halim Perdana Kusuma tepat pada pukul 06.30 WIB.
| Bersiap naik pesawat |
Sebelum menaiki pesawat, seperti umumpenumpang melaksanakan check-in tiket di bab pemesanan penerbangan. Tidak seperti ketika naik pesawat umumyang hanya perlu menyerahkan tiket dan menimbang bagasi, naik pesawat mungil ini, penumpang dan seluruh barang bawaan baik bagasi maupun tas yang dibawa ke dalam kabin mesti ditimbang.
Ada perasaan aib-aib dari para penumpang ketika ditimbang karena sensor digital penunjuk berat badan sebab mampu dilihat oleh banyak calon penumpang.
Usai mendapatkan tiket 2 lembar kertas putih, penumpang secepatnya boarding. Karena jumlah penumpang pesawat ini cukup sedikit adalah cuma 12 orang, penumpang bisa melenggang dengan kalem menuju ruang keberangkatan khusus Susi Air Lounge tanpa harus desak-desakan dengan penumpang yang lain. Di ruangan ini pula, kita bisa menemui satu buah foto sang pemilik yakni Susi Pudjiastuti.
Terbang dengan pesawat mini Cessna Grand Caravan 208 ternyata sarat kejutan. Setelah masuk ke dalam pesawat, penumpang mampu duduk dengan bebas di kursi yang sudah disediakan. Sang pilot kemudian menawarkan klarifikasi prosedur keselamatan penumpang tanpa dibantu pramugari.
Formasi kawasan duduk di pesawat Cessna Grand Caravan 208 terdiri dari empat baris. Tiap baris terdiri dari satu dingklik di sebelah kiri dan dua bangku di sebelah kanan. Khusus kawasan duduk paling belakang tiga kursinya tidak terpisah atau menyatu.
Antara ruang pilot (cockpit) dan ruang penumpang tidak dipisahkan sekat apa pun. Semua kegiatan pilot mulai dari menerbangkan pesawat hingga berkomunikasi dengan pihak bandara bisa dilihat eksklusif dengan terperinci.
Kemudian lepas landas, pesawat mungil ini ternyata memiliki tingkat kebisingan luar biasa. Suara dan getaran mesinnya cukup besar lengan berkuasa di pendengaran. Maka tidak aneh kedua pilot aneh menggunakan headset atau earmuff untuk meredam suara berisik tersebut.
Dengan jendela besar, pemandangan langit serta gunung-gunung yang membentang di Jawa Barat mampu terlihat dengan terang. Tidak cuma gunung, bukit-bukit hijau, hutan, dan birunya langit, sampai rumah-rumah penduduk mampu tampakdengan terperinci. Karena pesawat terbang tidak terlalu tinggi.
| Pemandangan pegunungan di bawah sana |
Pengalaman yang tidak terlupakan yaitu setiap manuver dan gerakan pesawat juga cukup terasa. Misalnya saja saat pilot memiringkan pesawat untuk berbelok atau dikala pesawat menembus awan.
"Are you okay," kata seorang pilot yang berkewarganegaraan gila terhadap penumpang.
Sekitar 60 menit terbang, daratan Pangandaran mulai terlihat. Landas pacu bandara yang panjangnya 1 km juga terlihat terang. Pilot secara sedikit demi sedikit menurunkan kecepatan pesawat dan daya jelajah ketinggian. Tidak usang lalu, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Nusawiru, Pangandaran tepat pukul 07.30 WIB.
"Thank you very much, selamat datang di Pangandaran," ucap sang pilot kepada penumpang.
Sumber teks dan foto : Detik
EmoticonEmoticon