Tampilkan postingan dengan label Perpetaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perpetaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2020

Unsur Metode Info Geografis


Sistem Informasi Geografis terdiri dari 5 bagian ialah hardware, software, data, insan, dan sistem yang digunakan untuk menganalisa. Kelima bagian ini saling terkait dan memiliki tugas yang sungguh penting dalam menertibkan alur informasi pada system SIG.






Perangkat Keras (Hardware)





Ahli SIG dengan perangkat keras yang performanya tinggi mampu menggunakan metode-metode analisis baru yang sangat membebani computer dan perangkat lunak lainnya
Ahli SIG dengan perangkat keras yang performanya tinggi mampu menggunakan tata cara-metode analisis baru yang sungguh membebani computer dan perangkat lunak lainnya




Perangkat keras umumnya berupa komputer dimana aplikasi SIG dijalakan. Sekarang, terdapat banyak jenis komputer, mulai dari desktop PC, laptop, sampai komputer berbasis server. Berikut ini yaitu bab-bab dari perangkat keras komputer untuk SIG





  • Motherboard: Menjadi pusat dari perangkat keras. Semua unsur dibawah ini harus dihubungkan ke motherboard supaya mampu berfungsi.
  • CPU/Processor: Perangkat untuk melakukan fungsi kalkulasi dan proses data
  • RAM: selaku penyimpanan sementara file temporal ketika komputer berlangsung
  • Printer: selaku alat output dalam bentuk hardcopy
  • Hard Disk/SSD: Sebagai kawasan penyimpanan data
  • Monitor: agar kita mampu melihat secara visual proses dan hasil olahan SIG kita




Selain komputer, hardware juga termasuk alat-alat pendukung proses dan acara yang ada pada SIG. Contoh hardware lainnya antara lain adalah





  • Digitizer: untuk melaksanakan digitasi dengan gampang
  • Scanner: untuk men-scan peta analog menjadi peta digital




 



Perangkat Lunak (Software)





Perangkat lunak seperti RDBMS, GUI, dan tools SIG memiliki peran yang penting dalam menunjang pengelolaan data menggunakan sistem informasi geografis
Perangkat lunak mirip RDBMS, GUI, dan tools SIG memiliki peran yang penting dalam menunjang pengelolaan data menggunakan sistem isu geografis




Komponen SIG selanjutnya yakni perangkat lunak yang menjadi tools untuk mengolah data spasial maupun aspasial yang telah dimiliki dalam database. Software membantu untuk melakukan fungsi query, edit, mengolah, dan memperlihatkan data SIG kepada pengguna.





Perangkat lunak system informasi geografis sangatlah banyak, namun, yang sering digunakan antara lain adalah ArcGIS, ArcView, QGIS, dan SAGA GIS. Software tersebut menggunakan RDBMS (relational database management system) untuk melakukan manajemen basis data.





Berikut ini ialah beberapa komponen dari perangkat lunak dalam tata cara gosip geografis





  • Software SIG: Bertujuan untuk mengolah data yang ada pada SIG
  • RDBMS: Bertujuan untuk menyimpan dengan rapih data-data SIG biar mampu digunakan dan diolah oleh software
  • Query Tools: Alat-alat yang berkerjasama dengan RDBMS untuk melaksanakan fungsi SQL mirip query, delete, dan insert.
  • GUI: interface antara komputer dan insan biar pengguna mampu mengakses software tersebut tanpa mesti mendalami coding atau bahasa mesin.
  • Layout: Fitur untuk melaksanakan rancangan dan layouting terhadap peta yang hendak dibuat




 



Data





Data SIG terdiri dari dua, yaitu data spasial yang terikat lokasi, dan data aspasial yang tidak terikat lokasi
Data SIG berisikan dua, yakni data spasial yang terikat lokasi, dan data aspasial yang tidak terikat lokasi




Salah satu unsur paling penting dan paling mahal dari system informasi geografis yakni data geografis itu sendiri. Data ini berisikan data spasial berupa sistem koordinat, foto, dan peta lama, serta data aspasial berupa statistik dan deskripsi.





Data yang dimasak oleh SIG bisa berbentukdata raster ataupun data vector. Data raster berupa gambar yang terdiri dari pixel-pixel kecil sedangkan data vector terdiri dari garis-garis. Data raster mampu diubah menjadi data vector dengan memakai proses digitasi, adalah tracing dan georeferencing. Georeferencing hanya dapat dilakukan saat kita mengetahui sistem proyeksi dan koordinat apa yang dipakai oleh data tersebut.





Berikut ini ialah data-data yang ada pada Sistem Informasi Geografis





  • Data Spasial: Gambaran nyata sebuah kawasan yang terdapat di permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan dalam bentuk grafik, peta, atau gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang mempunyai nilai tertentu.
  • Data Raster: Data disimpan pada sel-sel (pixel) dengan nilai-nilai tertentu. Nilai ini akan menggambarkan apa sebenarnya arti dari tiap pixel tersebut. Contohnya adalah foto udara dan foto satelit.
  • Data Vektor: Data diskrit, lazimnya berbentuk titik, garis (polyline), atau ruang (polygon) yang dilengkapi dengan data koordinat x,y,z.
  • Data Aspasial: Umumnya berbentukdata berupa tabel dimana tabel tersebut berisi informasi- isu yang dimiliki oleh obyek dalam data spasial. Data tersebut berbentuk data tabular yang saling terintegrasi dengan data spasial yang ada.




 



Manusia





Kualitas SDM yang tinggi ialah salah satu aspek terpenting dalam pembuatan data memakai SIG




Manusia yakni pengguna dari Sistem Informasi Geografis. Secanggih apapun hardware dan softwarenya, jikalau manusia dibalik semua itu tidak berkompeten, maka SIG tidak akan menciptakan apa apa.





Pada mulanya, sangat sulit bagi para praktisi untuk menggunakan SIG. Dahulu, seluruhnya dikerjakan dengan memakai Bahasa mesin dan pemrograman. Hal ini menyebabkan hanya sedikit saja orang yang bisa mempergunakan SIG, padahal, SIG memiliki berbagai faedah.





Oleh alasannya itu, diciptakanlah GUI yang lebih simpel agar siapa pun dapat menggunakan SIG. Sekarang, orang-orang cuma perlu mengklik tombol untuk melaksanakan sebuah fungsi, tidak lagi harus mengetik coding fungsi tersebut.





Selain itu, perangkat keras mirip komputer juga makin tinggi kemampuannya dan murah harganya. Sehingga, bertambah banyak praktisi GIS yang mampu memakai tata cara-metode analisis tingkat tinggi yang memerlukan komputer berkekuatan tinggi. Kedua hal tersebutlah yang mendorong demokratisasi SIG di penduduk .





Umumnya, SIG dipakai untuk pekerjaan yang membutuhkan analisis spasial, seperti tata guna lahan, pengerjaan peta, pengerjaan rencana pengembangan, inventarisasi sumber daya, atau peninjauan tempat beresiko tragedi.





 



Metode Penggunaan





Metode penggunaan dan analisis yang jelas serta terkodifikasi membuat para ahli SIG mampu mengikuti arahan proyek dan menyesuaikan dengan standar industry terbaru
Metode penggunaan dan analisis yang terperinci serta terkodifikasi menciptakan para hebat SIG bisa mengikuti arahan proyek dan menyesuaikan dengan persyaratan industry terbaru




Agar pengoperasian metode info geografi dapat berlangsung dengan tanpa kendala, diharapkan planning penggunaan dan sistem yang terdokumentasikan dengan baik. Organisasi-organisasi besar dan institusi akademik pastinya mempunyai tata cara penggunaan SIG mereka masing-masing.





Metode ini membicarakan perihal proses penyimpanan data, pengaplikasian RDBMS dalam penyimpanan data, pengolahan data, dan masih banyak lagi. Dengan adanya metode penggunaan yang jelas, proses SIG mampu dilakukan dengan baik.





Selain tata cara pemrosesan data, diharapkan pula metode analisis data tersebut. Metode analisis ini beragam, mulai dari analisis spasial sampai aspasial. Metode apa yang digunakan sangat tergantung dengan apa yang sedang diteliti oleh para mahir SIG yang mengolah data tersebut.





 



Referensi





Grindgis





ESRI, Learn ArcGIS



Sumber ty.com

Rabu, 23 September 2020

Tahapan Kerja Metode Informasi Geografi


Tahapan kerja metode informasi geografi terbagi menjadi 4 yaitu, input, pengelolaan dan pengolahan data, serta output. Keempat proses ini menggambarkan alur pergerakan data, mulai dari pengambilannya sampai keluar menjadi sebuah produk visual seperti peta atau produk analisis mirip planning.





Sistem info geografi sendiri ialah metode digital untuk melaksanakan manajemen dan pengolahan data baik spasial maupun aspasial. SIG sungguh memudahkan proses perencanaan, pembuatan peta, dan pengambilan kebijakan, utamanya yang berafiliasi dengan faktor spasial.





Seperti yang sudah kita bahas pada bagian metode berita geografi, adanya tata cara yang terorganisir mengenai penggunaan SIG serta alur datanya sangatlah penting. Hal ini dikarenakan tanpa adanya metode dan alur yang jelas, pengelolaan dan pengolahan data mampu menjadi tidak efisien.





Berikut ini ialah tahapan-tahapan yang perlu dilakukan dikala ingin melaksanakan analisis data memakai tata cara isu geografi.






Tahap Input Data





Survey lapangan langsung merupakan salah satu metode pengambilan data yang paling sering dilakukan
Survey lapangan pribadi merupakan salah satu sistem pengambilan data yang paling sering dikerjakan




Tahap pertama dalam penggunaan SIG yaitu memasukkan data yang ingin diatur dan diolah kedalam sistem. Data yang dimasukkan mampu berupa data spasial maupun data aspasial, bentuknya pun bebas, mampu berbentukdata vektor, raster, ataupun data tabular.





Data vektor/raster lazimnya merupakan data spasial yang memiliki informasi lokasi perihal suatu obyek. Informasi lokasi ini mampu berupa jarak, ketinggian, koordinat, ataupun gambar yang menawarkan lokasi relatif daripada objek referensi lainnya.





Data tabular biasanya berbentuktable atau informasi atribut yang bertujuan untuk menerangkan secara rinci atau mendeskripsikan data spasial yang sudah ada. Data tabular ini dikenal juga sebagai data aspasial sebab tidak memiliki isu lokasi yang berupa koordinat.





Jenis Data Sistem Informasi Geografi





Secara lazim, data SIG yang dipakai dalam observasi mampu dibedakan menjadi dua ialah





  1. Data spasial, yaitu data SIG yang berbentuk vektor dan raster. Data vektor mempunyai arah dan jarak serta berupa garis dan titik sedangkan data raster berupa gambar/piksel.
  2. Data atribut/aspasial yakni identitas yang dimiliki data grafis. Data ini berfungsi untuk menerangkan sejelas-jelasnya perihal data spasial yang sudah ada.




Jenis data SIG menurut cara perolehannya terbagi menjadi dua, ialah terestrial dan sekunder.





  • Data terestrial yakni data yang diperoleh dan pengukuran pribadi di lapangan. Contoh pengambilan datanya yakni dengan memakai survey theodolite dan foto lokasi
  • Data sekunder yaitu data yang diperoleh bukan dan pengukuran eksklusif di lapangan. Contoh pengambilan datanya ialah dengan memakai digitasi dan penginderaan jauh




Dalam mengambil data untuk pengolahan SIG, tentu saja diperlukan sumber data yang valid dan terpercaya supaya menciptakan analisis yang bagus. Berikut ini ialah beberapa sumber data yang kerap dipakai dalam Sistem Informasi Geografis (SIG)





  • Peta analog. Umumnya peta RBI yang dibentuk oleh badan pemetaan resmi seperti Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia
  • Data sistem penginderaan jauh. Umumnya berupa foto Udara ataupun gambaran satelit
  • Data hasil pengukuran lapangan
  • Data Global Positioning System (GPS) atau GLONASS




 



Tahapan Input Data pada Sistem Informasi Geografi





Setelah melakukan akuisisi data-data yang diharapkan, data tersebut perlu dimasukkan kedalam tata cara SIG semoga mampu diatur dan dimasak dengan baik. Proses pendapatan data dilaksanakan dalam beberapa tahap yang berurutan. Input data mengikuti urutannya sungguh penting untuk mengurangi kesalahan data.





Berikut ini yakni tahapan-tahapan input data yang ada pada sistem isu geografi





  1. Akuisisi ialah proses awal berupa pendapatan dan perekaman data ke komputer yang diawali dengan digitasi.
  2. Editing ialah proses perbaikan hasil digitasi. Terkadang, data hasil akuisisi tidak terlampau rapih sehingga mesti disesuaikan biar tepat dengan data referensinya.
  3. Penguraian topologi data yang memisahkan antara data titik, garis, dan area (untuk vektor) atau nilai-nilai antar piksel (untuk raster)
  4. Memasukkan data atribut yang nantinya akan dipakai selaku identitas dari data spasial. Umumnya dimasukkan kedalam attribute table (bila memakai ArcGIS)
  5. Transformasi koordinat, pada tahap ini, sistem koordinat dan metode proyeksi yang ada pada data diadaptasi dengan persyaratan yang berlaku di negara tersebut.




 



Tahap Pengelolaan Data





Data-data SIG umumnya disimpan di database seperti ini
Data-data SIG umumnya disimpan di database seperti ini




Setelah kita memasukkan data yang dibutuhkan kedalam metode gosip geografi, maka kita harus mengelola data tersebut agar nantinya gampang digunakan ketika ingin dianalisis. Pengelolaan data umumnya terbagi menjadi dua tahap besar, adalah tahap pengarsipan data dan tahap pemodelan kerangka analisis.





Pengarsipan data banyak membahas mengenai bagaimana kita dapat menyimpan data dengan baik agar dapat dipakai oleh banyak orang. Pemodelan kerangka analisis banyak membicarakan tentang bagaimana kita mampu mengenali data apa saja yang diharapkan dan mana yang tidak dibutuhkan dalam observasi.





Pengarsipan Data





Pengarsipan data mencakup penyimpanan data-data secara rapih semoga mudah diambil dikala ingin dipakai. Umumnya, pengarsipan data dalam SIG memakai RDBMS (relational database management system) yang menggolongkan data-data menurut kedekatannya dengan data lain. Pada sistem ini, data yang saling berhubungan akan dikelompokkan dalam database yang sama.





Dengan adanya pengarsipan yang rapih dan terorganisir dengan baik, para mahir SIG mampu senantiasa memakai data-data yang ada pada arsip. Bahkan, para andal mampu menggunakan data usang yang mungkin dapat dijadikan tumpuan analisis.





Sayangnya, banyak data-data usang kita yang masih disimpan dalam bentuk peta analog, kaset magnetic, ataupun kertas roti yang sudah rusak sebab umurnya yang bau tanah, bahkan, ada pula beberapa yang hilang. Oleh karena itu, digitasi dan memindahkannya kedalam database digital sangatlah penting untuk menyingkir dari kehilangan data.





 



Pemodelan Kerangka Analisis





Setiap kali kita hendak melakukan analisis, kita mesti memodelkan dulu seperti apa kira-kira analisis kita akan berjalan. Pemodelan ini meliputi pengerjaan dasar teori, kerangka berfikir, kerangka analisis, dan versi flowchart atau diagram alir bernafsu yang berisi hipotesa kita terhadap objek yang diteliti.





Ketika kita sudah memiliki model dan kerangka analisis ini, kita akan bisa menjawab pertanyaan data apa saja yang diharapkan?. Jawaban pertanyaan ini sangat penting sebab kita harus selalu tahu data apa saja yang dibutuhkan dalam penelitian kita dari jauh-jauh hari, agar dapat diambil dari arsip atau diakuisisi kalau tidak ada.





Tanpa adanya pemodelan yang bagus, maka bisa saja peneliti resah di tengah jalan alasannya adalah ternyata kekurangan data, sehingga harus meminta data atau mengakuisisi data gres. Hal ini dapat memperlambat penelitian dan meningkatkan anggarannya, sehingga pemodelan dan kerangka analisis sangat penting.





 



Tahap Pengolahan Data dan Analisis





Analisis merupakan salah satu tahap krusial dalam SIG. Tanpa ada analisis, tidak akan ada output
Analisis ialah salah satu tahap krusial dalam SIG. Tanpa ada analisis, tidak akan ada output




Kita telah akhir melakukan akuisisi data dan menciptakan kerangka analisis yang baik, sehingga kita tahu data apa saja yang diharapkan dalam observasi. Sekarang, kita mesti melakukan observasi tersebut dengan cara mengolah dan menganalisis data.





Pada tahap ini, kesempatannya ialah muncul data gres yang nantinya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan observasi kita. Data baru ini merupakan hasil kompilasi dan pembuatan dari berbagai macam data yang telah kita pilih pada tahap pemodelan.





Dalam melaksanakan pembuatan data, terdapat beberapa proses yang sering dilaksanakan oleh peneliti spasial, proses-proses tersebut antara lain adalah





Buffering





Proses ini membuat data polygon (area) yang gres menurut parameter tertentu. Umumnya dipakai ketika ingin mengenali apakah suatu objek sudah mencakup objek lain dalam daerah pelayanannya. Contoh pertanyaannya yakni apakah seluruh area permukiman telah dilayani oleh rumah sakit atau apakah seluruh area permukiman sudah dilayani oleh akomodasi Pendidikan dasar.





Buffering juga mampu dipakai untuk mengecek, apakah boleh kita menempatkan sebuah obyek di kawasan tersebut. Contoh pertanyaannya adalah apakah kita boleh membangun perumahan di akrab pembangkit listrik, maka, kita dapat melaksanakan buffer disekitar pembangkit listrik. Buffer ini digunakan untuk menentukan, di jarak berapa dengan pembangkit suatu daerah perumahan mampu dibangun.





 



Overlay





Overlay merupakan proses untuk menimpa-nimpa (menyusun) berbagai macam peta semoga nantinya mampu menjadi satu kesatuan peta. Umumnya dipakai untuk menganggap kesesuaian suatu objek. Contohnya yakni ketika kita ingin melihat kesesuaian suatu hutan buatan, syaratnya yakni dia tidak curam, ada air tanah yang baik, dan dekat dengan pabrik kayu. Maka, cara menganalisisnya yaitu selaku berikut.





Pertama, buffer apalagi dulu area pelayanan pabrik kayu (misal 500 km). Lalu overlay hasil buffer tersebut dengan peta kemiringan lereng yang mampu diterima (missal <10%) dan peta kandungan air tanah. Setelah itu, kita lihat, tempat mana saja yang masuk kedalam ketiganya, area buffer, kemiringan lereng, dan air tanah.





 



Scoring





Scoring merupakan proses evaluasi kelayakan sebuah lokasi untuk dijadikan sesuatu, contohnya pertanian atau tempat industri. Scoring sangat mirip dengan overlay, tetapi, pada scoring, kita tidak serta merta menyaksikan apakah semuanya saling tumpang tindih. Ada nilai dari setiap variabel tersebut.





Kita ambil pola memakai studi kasus hutan bikinan diatas. Akan dibuat pembobotan untuk memberikan variabel yang penting dan variabel yang dianggap kurang penting.





Ternyata, bobot untuk kedekatan dengan pabrik adalah 45% alasannya perusahaan sangat menginginkan ongkos transport yang rendah. Skor untuk keadaan air tanah 35% karena perusahaan menilai bahwa adanya air tanah penting untuk kesuburan tanah dan kestabilan ekosistem local. Skor untuk kemiringan hanya 25% alasannya adalah perusahaan tidak terlampau peduli dengan efek eksternalitas berupa pengikisan yang mungkin terjadi, tetapi masih peduli terhadap pajak lingkungan yang mungkin dikenakan oleh pemerintah.





Maka, kita niscaya memilih tempat dengan skor akumulasi yang paling tinggi setelah dikerjakan pembobotan sesuai dengan matriks bobot diatas.





 



Tahap Output Data





Peta merupakan salah satu contoh output dari Sistem Informasi Geografi
Peta ialah salah satu contoh output dari Sistem Informasi Geografi




Tahapan terakhir dalam sistem informasi geografi ialah membuat keluaran data, atau output yang mampu dinikmati oleh peneliti dan para pemangku kepentingan yang terkait. Tahap output data ini diharapkan mampu membuat hasil yang dapat dikenali oleh siapa pun dan mampu menjawab pertanyaan penelitian kita.





Output umumnya meliputi rancangan dan layouting peta sedemikian rupa biar indah untuk dilihat, gampang untuk dikenali, dan efisien dalam segala faktor.





 



Referensi





ESRI, Learn ArcGIS



Sumber ty.com

Selasa, 22 September 2020

Keunggulan Tata Cara Info Geografi Beserta Kelemahannya


Keunggulan dari metode informasi geografi yakni kemampuannya untuk mengolah data dalam jumlah besar secara cepat, sempurna, dan fleksibel. Berbeda dengan insan, system computer SIG memungkinkannya untuk melaksanakan banyak proses dalam waktu yang sungguh singkat atau bahkan berbarengan.





Keunggulan-kelebihan ini mengakibatkan SIG primadona bagi peneliti pada ilmu-ilmu spasial seperti perencanaan wilayah, geografi, geosains, dan geodesi. Namun, SIG juga memiliki beberapa kelemahan yang dapat menghambat observasi yang dijalankan.





Kali ini, kita akan mengenal lebih jauh keunggulan dan kekurangan yang ada pada sistem gosip geografis.






Keunggulan Sistem Informasi Geografi





Seperti yang sudah dijabarkan diatas, SIG memiliki berbagai keunggulan yang menjadikannya menjadi primadona bagi para peneliti ilmu spasial. Berikut ini adalah kelebihan-kelebihan yang menciptakan SIG sungguh dicintai.





  • Pemrosesan data yang lebih singkat
  • Lebih fleksibel dalam melakukan visualisasi data
  • Pengelolaan data yang lebih mudah
  • Biaya yang relative lebih hemat biaya dalam mengolah data
  • Pengolahan dan analisis data yang lebih akurat serta mudah
  • Fleksibilitas dalam memilih format data




Berikut ini yakni penjabaran dari kelebihan tata cara geografi yang telah disebutkan diatas.





Pemrosesan Data yang Lebih Singkat





Penggunaan perangkat keras yang dengan spesifikasi tinggi mampu meningkatkan kecepatan proses data SIG hingga jauh diatas kemampuan manusia
Penggunaan perangkat keras yang dengan spesifikasi tinggi mampu mengembangkan kecepatan proses data SIG sampai jauh diatas kemampuan manusia




Sistem Informasi Geografi dapat menolong geografer untuk mengolah data-data spasial dengan lebih singkat. Dengan adanya computer sebagai salah satu komponen hardware dalam SIG, para geografer hanya perlu menawarkan perintah dan nanti akan dijalankan oleh komputer.





Komputer tidak merasakan Lelah, tidak perlu istirahat, dan dapat disuruh melaksanakan apa saja asal ada perintahnya, berlainan dengan insan. Hal ini menciptakan para peneliti mampu bekerja dan mengolah lebih banyak data dalam waktu yang lebih singkat.





Oleh alasannya adalah itu, geografer yang memakai SIG untuk mengolah data spasial dan aspasialnya menerima keuntungan waktu, dimana data mereka diolah dengan lebih singkat, sehingga mampu menghasilkan output yang lebih singkat pula.





 



Lebih Fleksibel Melakukan Visualisasi Data





Karena tata cara gosip geografi merupakan aplikasi yang berbasis GUI atau graphics user interface, pengguna SIG mampu dengan mudah melihat bentuk visual dari data yang sedang mereka olah. Kini, para geografer mampu melihat, bergotong-royong hasil overlay mereka mirip apa dalam bentuk peta.





Kemudahan ini membantu mereka dalam menentukan layout peta yang ideal untuk menawarkan gosip tersebut sejelas mungkin. Selain itu, sekarang ahli SIG juga mampu mengajak andal desain grafis untuk mendesain visualisasi dari data yang sudah diolah.





Hal ini mungkin terjadi karena system GUI adalah WYSIWYG (what you see is what you get), artinya, apa yang kita lihat di layar sama dengan apa yang akan dijadikan output nanti. Orang-orang rancangan grafis dapat dengan gampang melakukan editing grafis untuk memperindah dan memperjelas data tersebut.





Dahulu, sebelum adanya SIG yang memakai GUI seperti kini, orang-orang yang melakukan visualisasi data mesti ahli melakukan coding juga. Karena dulu, layouting output data mesti dipakai dengan menggunakan coding atau bahkan mesti diprint apalagi dahulu lalu dilaksanakan secara manual.





 



Pengelolaan data yang lebih mudah dan terencana





Dengan adanya database yang terstruktur, pengelolaan data di SIG dapat dilakukan dengan lebih mudah
Dengan adanya database yang terorganisir, pengelolaan data di SIG mampu dijalankan dengan lebih mudah




Dengan adanya system database terstruktur yang ada pada metode informasi geografi, pengelolaan data menjadi lebih mudah dan terorganisir. Sekarang, para geografer hanya perlu untuk memasukkan data kedalam database dan menertibkan parameter penyimpanannya.





Dengan adanya system database terbaru, data-data yang telah disimpan dapat dipertahankan selamanya. Data-data tersebut tidak akan rusak seiring dengan berjalannya waktu, tidak mirip peta-peta dan dokumen fisik yang kini disimpan dalam gudang. Selain itu, database digital yang dimiliki SIG juga mempermudah susukan data, sekarang, geografer hanya perlu mengetik perintah dan data tersebut akan langsung datang.





Hal-hal diatas membuat pengelolaan data sungguh gampang bila memakai SIG dan databasenya. Oleh alasannya itu, salah satu kelebihan dari SIG ialah mudahnya pengelolaan data, sehingga diperlukan mampu memajukan produktivitas dan juga menurunkan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan analisis.





 



Biaya yang relatif lebih hemat biaya dalam mengolah data





Sistem berita geografi memiliki biaya penggunaan yang jauh lebih hemat biaya dibandingkan analisis fisik kepada data-data spasial dan aspasial. Namun, hal ini menjadi realita kalau kita melihat analisis tersebut dari kacamata yang luas, bukan hanya satu proses yang terisolasi.





Proses-proses yang dimaksud mencakup akuisisi data, input data, penyimpanan data, pembuatan data, dan output data. Setelah itu, data yang sudah ada dan disimpan mungkin digunakan lagi untuk analisis lain kalau dianggap berhubungan . Oleh sebab itu, data-data SIG mampu dipakai untuk banyak observasi, bukan cuma satu.





Memang benar kalau dilihat dari segi per-projek, SIG memang dapat dikatakan mahal. Biaya pengadaan software, hardware, serta training manusia agar bisa menggunakan perangkat SIG memang tidak murah. Terlebih lagi bila kita mesti selalu mengikuti kriteria industri dengan mengupdate perangkat ke model terbaru setiap ada inovasi, akan menyantap ongkos yang sangat tidak murah.





Namun, mahal tersebut bila SIG hanya dipakai untuk satu atau dua projek saja. Jika SIG digunakan untuk belasan bahkan puluhan projek, tentu saja akan lebih hemat biaya alasannya adalah lebih simpel dan cepat dalam mengolah data. Terlebih lagi, terdapat opportunity cost atas waktu yang hilang bila harus memakai metode manual.





Maka, dapat kita asumsikan bahwa SIG memiliki kelebihan dari segi penghematan biaya dalam mengurus dan mengolah data.





 



Pengolahan dan analisis data yang lebih gampang serta akurat





Sistem Informasi Geografi dengan pengolahan berbasis komputernya mengurangi potensi terjadinya human errors
Sistem Informasi Geografi dengan pembuatan berbasis komputernya meminimalkan kesempatanterjadinya human errors




Penggunaan software pengolah data seperti SIG pasti akan membuat hasil pengolahan data akan kian akurat. Dibandingkan dengan pembuatan data secara manual, perkiraan dengan komputer akan lebih akurat kesannya. Hal ini dikarenakan sebuah komputer tidak menciptakan human errors yang kerap kali menghemat akurasi penelitian manusia.





Jika terjadi kesalahan, biasanya kesalahan itu disebabkan oleh operator SIG ataupun peneliti yang melaksanakan analisis. Kesalahan-kesalahan tersebut umumnya disebabkan oleh penentuan parameter yang kurang tepat, penggunaan coding yang salah, atau bahkan metode analisis yang tidak sempurna. Human errors seperti inilah yang mungkin menciptakan penelitian-observasi dengan memakai SIG kurang akurat.





Kemudahan juga menjadi salah satu kelebihan SIG terbesar. Pengolahan data dengan menggunakan komputer pastinya akan dibantu oleh banyak pilihan aplikasi yang dapat mempersingkat proses serta meminimalisir waktu dalam mengolah data. Tidak hanya dalam pembuatan data, dalam memperlihatkan hasil serta kesimpulan data pun lebih singkat sehingga keputusan dapat diambil dengan lebih taktis dan sempurna.





Contohnya adalah dalam perencanaan ataupun evaluasi rencana banjir di sebuah kota. Jika kita memakai tata cara manual, tentu saja ada ratusan peta yang mesti dioverlay memakai kertas kalkir dan spidol. Hal ini mengkonsumsi waktu yang sangat usang, disamping itu, kemungkinan kesalahannya juga tinggi, khususnya dikala operator petanya mengalami kelelahan. Sehingga, akan memerlukan waktu yang sangat usang untuk menyaksikan daerah banjir dan menciptakan rencana mitigasinya. Terlebih lagi, ada kemungkinan hasil analisis tersebut salah alasannya factor human error tadi.





Bandingkan dengan penggunaan SIG, kita cuma tinggal meng-input data, melaksanakan overlay, meminta computer untuk mengolah dan menyaksikan tempat mana saja yang rawan, kemudian akan keluar outputnya. Para pemangku kepentingan pun dapat secepatnya merapatkan langkah strategis untuk memitigasi banjir di lokasi-lokasi beresiko yang sudah diidentifikasi.





 



Fleksibilitas dalam menentukan format data





Salah satu keunggulan SIG lain yang kerap kita lupakan yaitu fleksibilitasa dalam memilih format data, baik itu sebagai input maupun output dari proses pengolahan. Karena semua data SIG berada dalam bentuk digital, maka data-data tersebut sungguh gampang diubah-ubah formatnya.





Dari sisi input, kebanyakan software SIG (ArcGIS, QGIS) sudah mampu mendapatkan nyaris semua jenis data digital. Jika ada yang tidak mampu diolah, kita pun mampu mencari software untuk mengkonversi format data tersebut menjadi format yang diterima. Oleh sebab itu, SIG sangat fleksibel dalam mendapatkan data, suatu kelebihan yang sangat penting di Indonesia, menyaksikan data kita yang masih belum terintegrasi antar kementrian dan antar Lembaga.





Dari sisi output, software SIG dapat menciptakan berbagai format file. Mulai dari shp (shapefile) dan gdb (geodatabase) untuk keperluan arsip dan penyuntingan ulang di lain waktu, hingga format jpeg dan pdf kalau kita sudah percaya dan ingin menerbitkan layout peta kita. Oleh alasannya itu, SIG juga sangat dicintai karena memungkinkan terjadinya kerja sama antar peneliti yang lebih mudah. Sekarang, mereka hanya perlu sharing file shp dan gdb untuk melanjutkan observasi orang lain.





 



Kelemahan Sistem Informasi Geografi





Sistem berita geografis bukanlah system sempurna yang tidak mempunyai kelemahan sama sekali. Namun, jikalau kita bandingkan, kelebihan SIG dalam mengolah data jauh lebih banyak dibandingkan kelemahannya.





Agar dapat menjadi pengguna SIG yang bagus, kita mesti mengetahui apa saja kelemahannya agar mampu kita antisipasi dan kita perbaiki dikala menggunakan SIG. Berikut ini adalah beberapa kekurangan dari metode berita geografi.





  • Teknologi pendukungnya sering beranti-ganti mengikuti pertumbuhan zaman. Hal ini akan menjadikan kesulitan karena mesti selalu membeli alat yang baru seiring dengan berkembangnya teknologi pendukung yang ada
  • Membutuhkan sumber daya manusia yang mahir. Sayangnya, di Indonesia, masih banyak orang yang belum melek teknologi sehingga tidak bias mencar ilmu SIG
  • Data 3D masih jelek visualisasinya. Hal ini mampu dengan mudah dituntaskan dengan cara berkerjasama dengan ahli rancangan grafis untuk mengembangkan mutu visualisasi data
  • Format yang terlalu beragam. Bagi sebagian orang, format data yang dihasilkan sungguh bermacam-macam sehingga sukar untuk menyesuaikannya. Namun, hal ini mampu dengan gampang diatasi dengan menyetujui format apa yang hendak dipakai oleh suatu instansi/Lembaga
  • Kelengkapan data. Sulit untuk memproses data yang diperoleh cuma sebagian-sebagian (bersifat temporal). Sayangnya, data-data di Indonesia kebanyakan bersifat parsial dan tidak lengkap
  • Update software. Keharusan untuk senantiasa meng-update software SIG modern agar mampu mengolah data secara optimal dan berada dalam kriteria kerja industri geospasial.




Namun, dapat dilihat bahwa kelemahan-kekurangan tersebut selalu ada solusinya sehingga mampu diatasi dengan baik agar tidak menyebabkan kerugian.



Sumber ty.com

Sabtu, 15 Agustus 2020

Bagian Bagian Peta


Kalian niscaya telah sungguh mengenal peta, suatu lembaran datar yang terdiri dari penggambaran dari permukaan bumi pada sebuah skala tertentu. Peta ialah alat dan kelengkapan dasar dalam melaksanakan analisis spasial, bahkan analisis aspasial.





Oleh alasannya itu, sungguh penting bagi kalian semua untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang peta dan apa saja yang semestinya ada pada peta. Pada peluang kali ini, kita akan mencoba membicarakan secara lebih mendalam perihal unsur-bagian yang ada pada peta.






Komponen Peta





Komponen peta intinya yakni hal-hal yang harus ada pada suatu peta, agar peta tersebut dapat digunakan dengan baik oleh para penggunanya.





Secara biasa , berikut ini yaitu komponen yang semestinya ada pada suatu peta.





  1. Judul peta
  2. Garis astronomis
  3. Inset
  4. Garis tepi peta
  5. Sumber peta
  6. Tahun pengerjaan peta
  7. Mata angin
  8. Simbol peta
  9. Warna peta
  10. Legenda peta
  11. Lettering
  12. Skala peta
  13. Grid peta




Berdasarkan list diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa secara umum, terdapat 12 bagian yang sebaiknya ada pada suatu peta. Setelah ini, kita akan membahas secara lebih mendalam tiap-tiap poin bagian tersebut.





Judul Peta





Judul peta




Judul peta yakni salah satu unsur paling penting yang ada pada suatu peta. Hal ini terjadi alasannya adalah judul peta semestinya menggambarkan isi dan topik yang dijelaskan pada peta tersebut.





Tanpa mengenali judul peta, pastinya kita tidak akan bisa mengetahui isi peta dalam waktu yang singkat. Kita harus menganalisis apalagi dahulu komponen-unsur yang lain serta penampilan peta tersebut.





Judul peta mesti ditaruh pada bab yang terperinci terlihat biar semua yang memakai peta dapat dengan gampang melihat judulnya. Umumnya pada peta rupabumi Indonesia, judul peta diletakkan pada sudut kanan atas.





 



Garis Astronomis dan Garis Grid





Ilustrasi garis astronomis dan grid
Ilustrasi grid peta (GIS Stack Exchange)




Garis astronomis disini tujuannya adalah informasi perihal garis lintang dan garis bujur yang ada pada lokasi yang digambarkan oleh peta tersebut.





Garis lintang sendiri merupakan garis yang membentang dari timur ke barat, sedangkan garis bujur adalah garis yang membentang dari utara ke selatan. Kedua jenis garis ini sangat penting dalam menentukan lokasi astronomis dari suatu tempat.





Garis-garis astronomis juga penting selaku bimbingan bagi beroperasinya sistem navigasi serta penentuan posisi seperti GPS (Global Positioning System) dan GLONASS.





Garis grid pada peta juga sungguh berguna semoga kita bisa untuk mereferensikan sebuah lokasi dengan segera pada peta. Hal ini bretujuan untuk membuat lebih mudah penggunaan peta.





Coba perhatikan peta diatas, sangat gampang bukan untuk memperlihatkan suatu lokasi? Kalian cuma perlu menyebutkan Q-3 dan N-5 untuk memperlihatkan sebuah lokasi pada peta tersebut.





 



Inset Peta





Inset peta intinya yaitu sebuah peta kecil yang disisipkan pada peta yang lebih besar untuk memberikan berita embel-embel. Terdapat beberapa macam inset yang dapat digunakan oleh seorang kartografer dalam sebuah peta.





Inset penanda lokasi





Inset penunjuk lokasi
Contoh inset penunjuk lokasi (BIG)




Ini ialah inset yang sering sekali dipakai pada peta. Fungsinya adalah untuk mengenali tempat yang digambarkan pada peta berada dimana pada konteks regional yang lebih luas.





Contohnya yaitu pada peta RBI Indonesia yang membahas kabupaten, niscaya akan memasukkan inset peta skala kecamatan untuk menerangkan kabupaten tersebut berada dimana pada level kecamatan.





 



Inset penjelas





Inset Penjelas
Contoh inset penjelas (wiki.gis)




Inset seperti ini berupaya untuk memperjelas info tentang suatu lokasi. Umumnya, inset penjelas ialah hasil zoom-in dari lokasi yang digambarkan pada peta.





Contohnya yakni inset yang zoom in pada suatu daerah perkotaan misalnya Jabodetabek dan Surabaya Raya padahal yang dibahas adalah peta urbanisasi pulau Jawa.





 



Inset penyambung





Inset penyambung
Contoh Inset Penyambung (wiki.gis)




Inset seperti ini berupaya untuk menerangkan lokasi yang terpotong dari peta utama, padahal bahu-membahu kedua daerah tersebut saling berhubungan sehingga harus tetap ditunjukkan dalam peta.





Contohnya adalah pada peta negara Amerika Serikat dimana peta khususnya menggambarkan semua negara bab Amerika dataran sedangkan Hawaii dan Alaska umumnya ditambahkan dalam bentuk peta inset





Setelah melihat klarifikasi diatas, kalian telah cukup terbayang bukan seberapa pentingnya inset peta dalam memahami konteks sebuah peta?





 



Garis Tepi Peta





Garis tepian peta yakni garis yang ada pada ujung data frame. Garis ini berkhasiat untuk memisahkan visualisasi peta dengan berita lain yang ada pada peta seperti legenda, skala, dan judul.





Garis tepi lazimnya diisi oleh gosip mengenai garis lintang dan bujur serta sistem grid peta. Kedua gosip ini berkhasiat bagi pengguna peta untuk menentukan lokasi sebuah kawasan yang ada pada peta, atau menentukan lokasi mereka pada peta tersebut.





 



Sumber Peta









Sumber peta atau sitasi ialah hal yang penting pula untuk diperhatikan oleh para geografer dan pengguna peta yang lain. Hal ini terjadi sebab sumber peta merupakan salah satu bentuk validasi peta tersebut dibentuk oleh siapa dan memakai data apa.





Tentu saja dogma peta dari BIG atau TNI yang mempergunakan data gambaran serta survei lapangan akan lebih terpercaya daripada peta hasil praktikum mahasiswa geodesi, ataupun praktikum perpetaan mata pelajaran geografi kelas 12 SMA.





 



Tahun Pembuatan Peta





Tahun pembuatan peta




Selain sumber peta, tahun pengerjaan peta juga sungguh penting untuk menilai validitas suatu peta. Peta yang baru dibuat tentu saja akan lebih akurat dibandingkan dengan peta yang telah lama.





Hal ini terjadi alasannya ada proses fisik seperti abrasi, pengikisan, dan pelapukan yang terjadi pada bentang alam yang ada pada peta. Sehingga, mampu jadi bentuk mereka kini telah tidak sama dengan yang digambarkan.





Saya sendiri memiliki pengalaman yang cukup unik dalam memakai peta renta ketika bernavigasi di pesisir selatan Jawa. Peta tahun 1996 tersebut ternyata memiliki garis pantai yang jauh berlawanan dengan ketika itu (tahun 2017).





Oleh karena itu, aku dan tim yang sedang berlatih navigasi kompas serta resection kesusahan untuk menemukan posisi kami di peta. Bahkan acap kali kami berdiri di air sedangkan kalau dimasukkan pada peta, lokasi kami berada belasan meter di daratan, cukup jauh dari pinggiran pantai.





Hal ini menunjukkan pentingnya menggunakan peta yang up to date supaya tidak menyesatkan ketika memakai peta. Hal ini bisa berbahaya kalau kalian sedang bernavigasi di hutan dan hanya mengandalkan peta untuk menemukan arah.





 



Arah Mata Angin





Contoh arah mata angin
Contoh Arah Mata Angin (GIS Stack Exchange)




Arah mata angin merupakan unsur peta yang sungguh penting bagi sebuah peta supaya pengguna mampu mengetahui informasi yang tergambarkan pada peta dengan baik.





Informasi ini memperlihatkan peta sebelah mana yang ialah utara, mana yang selatan, dan mana yang mengarah terhadap mata angin lainnya. Ini sangat penting jika kalian memakai kompas atau alat navigasi lainnya yang mengandalkan mata angin, mirip melihat matahari atau lumut yang ada pada pohon.





Selain itu, arah mata angin juga akan membantu pengguna peta untuk mengorientasikan peta tersebut terhadap peta dan landmark lainnya yang ada pada sebuah lokasi.





 



Simbol Peta





Simbol-simbol yang kerap digunakan pada peta




Simbol peta adalah simbologi-simbologi tertentu yang dipakai oleh kartografer untuk menggambarkan suatu kenampakan pada peta. Sebagai pengguna peta, kita harus mengetahui apa makna dari simbol-simbol tersebut.





Secara umum, terdapat tiga jenis simbol pada peta yang kerap dipakai oleh kartografer yaitu





  • Simbol garis: Umumnya menggambarkan kenampakan alam yang memanjang seperti jalan raya, pipa gas, rel kereta, ataupun batas daerah manajemen
  • Simbol wilayah: Umumnya menggambarkan kenampakan yang memiliki luasan tertentu mirip sawah, hutan, kawasan permukiman, danau, dan gurun
  • Simbol titik: Umumnya menggambarkan lokasi penting yang berbentuk point atau spesifik lokasi mirip ibukota, kantor polisi, bandara, stasiun, dan pelabuhan




Tanpa adanya simbol, akan sungguh sulit untuk menggambarkan fenomena-fenomena di dunia positif pada peta. Oleh itu, semua kartografer dan pengguna peta wajib memahami cara membaca dan menafsirkan simbol-simbol tersebut.





 



Warna Peta





Contoh penggunaan warna pada peta




Sama seperti simbologi, lazimnya peta memiliki corak warna tertentu untuk menggambarkan fenomena. Contohnya adalah gosip ketinggian yang lazimnya digambarkan dengan warna hijau untuk dataran rendah hingga coklat/merah untuk dataran tinggi. Atau warna biru untuk daerah perairan.





Bersama dengan simbologi, warna ialah unsur yang cukup penting dalam menafsirkan suatu peta dengan lebih cepat dan lebih mudah.





 



Legenda Peta





Contoh legenda sederhana pada peta
Contoh legenda sederhana (GIS.Stackexchange)




Sebuah peta biasanya memiliki aneka macam simbol dan pewarnaan-pewarnaan khusus. Terkadang, pengguna peta tidak bisa mengetahui semua simbol yang digunakan karena terlalu banyak atau memang tidak lazim.





Oleh alasannya itu, diharapkan suatu kolom legenda yang merupakan penjelas dari setiap simbol-simbol dan tema pewarnaan tersebut. Kolom ini intinya diisi oleh arti dari setiap simbol dan warna yang digunakan.





 



Lettering





Lettering atau penulisan kata ialah salah satu tata cara untuk mempertegas arti dari simbol atau informasi lainnya yang ada pada peta. Lettering yang kerap dipakai antar lain yakni kata yang dimiringkan, di-bold, dan ditulis tegak seperti biasa.





 



Skala Peta





Contoh skala peta




Skala peta berfungsi untuk memberikan ukuran bahwasanya dari objek-objek yang ditampilkan pada peta. Sangat penting untuk memahami desain skala ini alasannya adalah ukuran yang ada pada peta mampu menipu bila kita tidak melihat skalanya.





Secara umum, terdapat 3 jenis skala yang ada pada peta. Berikut ini yakni jenis-jenis skala yang digunakan





  • Skala Garis: Skala yang menggunakan kafetaria atau garis yang ditandai oleh angka-angka
  • Skala Angka: Skala yang menggunakan angka (misal 1:20.000) untuk menjelaskan skala peta
  • Skala Kalimat: Skala yang memakai kalimat untuk menerangkan skala tersebut ( satu cm berbanding dengan sepuluh ribu cm)




Semuanya penting dan berguna tertentu sesuai dengan tujuan peta tersebut.





 



Referensi





Wiki.GIS





Badan Informasi Geospasial (BIG)





GIS Stack Exchange



Sumber ty.com

Kamis, 02 Juli 2020

Latitude Dan Longitude: Pengertian Dan Perbedaannya


Latitude dan Longitude yakni desain geografi dan perpetaan yang sungguh penting untuk kalian pelajari serta pahami.





Dalam pelajaran geografi niscaya Anda pernah mempelajari tentang peta dunia bukan? Ketika menyaksikan apa yang ada di peta mungkin Anda merasa gundah.





Bukan alasannya terdapat banyak negara melainkan ada berbagai macam angka diikuti garis yang mengkotak-kotakkan peta dunia tersebut. Nah garis-garis itulah yang dinamakan latitude dan longitude atau juga lebih diketahui dengan sebutan garis lintang serta garis bujur.





Pada postingan kali ini, kita akan membicarakan secara lengkap apa itu latitude dan longitude serta apa yang menjadi perbedaan antara keduanya.






Pengertian Latitude dan Longitude





Sebelum beranjak lebih jauh, ada baiknya kita mengenali apalagi dahulu apa yang dimaksud ketika seseorang menyebutkan ungkapan latitude dan juga longitude.





Pengertian Latitude





Pengertian latitude




Latitude atau garis lintang ialah sebuah garis yang bertujuan untuk menentukan jarak dari kutub utara atau selatan menuju garis khatulistiwa. Garis ini membentang dari timur ke barat mengitari bumi dan mempunyai titik tengah kathulistiwa.





Peran garis khatulistiwa selaku sirkuler imajiner menjadikannya membagi kawasan bumi menjadi 2 bagian.





Karena merupakan titik tengah dari latitude, maka garis kathulistiwa sendiri terbagi menjadi dua, yang menjadi bab bumi utara dan yang menjadi bagian bumi selatan.





Adapun sebuah garis melingkar yang berada tepat di tengah kathulistiwa yakni garis lintang 0 derajat. Garis ini menjadi garis pembagi pecahan bumi utara dan kepingan bumi bagian selatan.





Lebih jauh perihal penerapan garis lintang dapat dicermati melalui sumbangan penulisan angka berbentuk0 derajat hingga dengan 90 derajat.





Perlu Anda tahu bahwa lokasi pada peta yang menerangkan angka 0 derajat lintang akan mengacu pada garis khatulistiwa. Sedangkan, jikalau angka terlihat bertuliskan 90 derajat lintang maka itu akan menandakan lokasi di kutub, entah itu selatan atau utara.





Satu derajat lintang mempunyai ukuran yang berubah-ubah, makin bersahabat dengan kathulistiwa, maka makin besar ukurannya. Pada kawasan kathulistiwa, dikenali bahwa 1 derajat lintang mempunyai panjang yang setara dengan 111 km.





Derajat lintang ini akan dibagi lagi menjadi satuan ukuran yang lebih kecil adalah menit. Satu derajat setara dengan 60 menit dan satu menit latitude ini setara dengan jarak sekitar 1,8 km





Menit ini juga akan dikecilkan lagi menjadi detik, satu menit setara dengan 60 detik. Bila dikalkulasikan dalam detik maka jumlah satu detik garis lintang mencapai 31 meter.





Perhitungan-perhitungan inilah yang akan menjadi dasar operasionalisasi GPS dan hitung-hitungan dalam ilmu perpetaan.





 



Pengertian Longitude





Pengertian Longitude




Berbeda dengan garis lintang, garis longitude ialah sebuah garis yang membentang dari arah utara menuju selatan. Garis ini juga memiliki nama lain ialah garis meridian atau garis bujur.





Garis ini membagi bumi menjadi dua bab, yakni potongan bumi bagian timur dan juga bagian bumi bagian barat.





Longitude mempunyai 2 titik tengah yakni pada derajat 0 meridian yang kita kenal sebagai greenwich mean time dan standar zona waktu internasional, serta meridian 180 yang menjadi zona perpindahan hari.





Daerah yang berada di sebelah timur garis prime meridian di Greenwich akan dianggap sebagai belahan bumi bagian timur, sedangkan yang berada di bagian barat akan dianggap selaku cuilan bumi bab barat.





Garis ini memiliki pengaruh yang sungguh besar pada zona waktu di Indonesia. Bahkan, seluruh zona waktu di dunia dikelola berdasarkan garis bujur.





Jarak antar garis bujur mempunyai ciri khas akan menjadi 0 saat ada di kutub utara ataupun selatan. Perlu dimengerti bahwa jarak antar garis bujur ini adalah 1 derajat lintang, sehingga jarak antar bujur 0 dengan bujur 1 di Kathulistiwa yaitu 111 km setara dengan 1 derajat lintang.





Hal ini berlaku sebaliknya, ialah jarak antar garis lintang ialah 1 derajat bujur.





Perlu dimengerti bahwa 1 derajat bujur setara dengan jarak sekitar 110 km pada kawasan kathulistiwa sampai sekitar 111 km pada tempat kutub. Namun, dalam perkiraan biasanya telah ada keterangan tertentu patokan apa yang dipakai.





 



Perbedaan Latitude dan Longitude





Perbedaan latitude dan longitude




Setelah mengetahui apa itu latitude dan longitude, kita perlu mengenali perbedaan antara keduanya. Secara biasa , lintang dan bujur memiliki perbedaan selaku berikut





  • Perbedaan koordinat
  • Berbeda arah
  • Derajat yang berlawanan
  • Jumlah garis
  • Fungsinya yang berlawanan
  • Panjang yang berlawanan
  • Garis rujukan yang berbeda




Ternyata, cukup banyak juga ya perbedaannya. Agar kalian lebih paham, kita akan membicarakan secara lebih dalam setiap perbedaan tersebut dibawah ini





Perbedaan Koordinat





Perbedaan pertama yang mampu dilihat dari garis lintang dengan garis bujur antara lain terletak pada titik koordinat keduanya. Tetapi jangan salah, sistem koordinat mereka berdua sama saja, yang beda adalah penggunaannya.





Bila mana garis tersebut mengacu pada satu titik dari timur ke barat maka akan disebut selaku longitude atau garis bujur.





Sedangkan kalau koordinat sebuah garis geografis berfaedah untuk mengenali jarak dari utara ke selatan khatulistiwa maka dinamakan latitude atau garis lintang.





 



Perbedaan arah





Arah garis latitude dan longitude juga terperinci sangat berbeda. Keduanya bahkan berpotongan yang artinya arah mereka berlainan, baik awal maupun alhasil.





Garis lintang akan membentang dari timur ke barat. Sedangkan garis bujur akan membentang dari utara ke selatan planet bumi.





 



Derajat yang Berbeda





Seperti yang sudah diketahui bahwa perhitungan pada suatu peta di potongan dunia terbentuk dari angka-angka. Nah penggunaan angka pada garis lintang dan juga bujur sangatlah berlainan.





Latitude atau garis lintang menerapkan angka dari 0 sampai ke 90 derajat, beda dengan longitude atau garis bujur yang menandakan angka berkisar dari 0 sampai dengan 180 derajat.





Hal ini terjadi karena lintang cuma membagi setengah bumi, sedangkan garis bujur membagi seluruh bumi. Selain itu, garis lintang mulai dari kathulistiwa derajat 0 hingga kutub yang memiliki derajat 90.





Sedangkan, garis bujur dimulai di prime meridian greenwich adalah derajat 0, hingga garis antemeridian pada derajat 180.





 



Jumlah Total Garis





Selain memiliki perbedaan dari sisi perhitungan, perbedaan lain juga nampak dari jumlah total garis.





Perlu Anda tahu bahwa pada sebuah peta akan terlihat banyak sekali garis yang melintang. Umumnya, garis-garis ini digambarkan setiap 1 derajat.





Oleh sebab itu, sesuai dengan perbedaan yang telah kita jelaskan sebelumnya, pasti jumlah garisnya pun berbeda antara latitude dengan longitude.





Garis yang menandakan lintang yakni berada di angka sebanyak 180. Lalu pada garis bujur terdapat jumlah yang lebih banyak yakni sejumlah 360.





 



Berbeda Fungsi





Baik latitude maupun longitude mempunyai tugas sendiri-sendiri. Jadi pada penerapannya, umum terjadi perbedaan yang mutlak antara kedua garis tersebut.





Hal itu tampakdari fungsi garis lintang yang digunakan untuk mempermudah dalam pengelompokan iklim tertentu, adalah pembagian terstruktur mengenai iklim matahari.





Jadi pembagian zona iklim ini akan nampak dari suatu garis lintang. Misalnya zona panas terik, zona iklim sedang, ataupun zona cuek.





Pengelompokan berlainan tampakpada penerapan garis bujur. Garis yang juga disebut mediteran ini dimanfaatkan untuk menunjukkan gambaran terperinci tentang pembagian terstruktur mengenai waktu.





Pada tiap serpihan dunia terbagi dari zona waktu yang ada. Hal itu pula yang mensugesti perbedaan waktu dari setiap di belahan dunia.





 



Panjang Garis yang Berbeda





Setiap dari garis baik itu lintang ataupun bujur mempunyai panjang yang berbeda, sebab bentuk bumi tidak bundar tepat.





φΔ1
Latitude
Δ1
Longitude
110.574 km111.320 km
15°110.649 km107.551 km
30°110.852 km96.486 km
45°111.133 km78.847 km
60°111.412 km55.800 km
75°111.618 km28.902 km
90°111.694 km0.000 km
Perbedaan jarak antar garis untuk latitude dan longitude




Anda dapat melihat sendiri perbedaan antar garis latitude dengan longitude pada tabel diatas. Perlu dimengerti bahwa tabel tersebut diukur pada setiap garis lintang dari kathulistiwa sampai ke tempat kutub.





 



Penggunaan Huruf Yunani yang Berbeda





Setiap garis mempunyai simbol dalam huruf Yunani yang berlainan-beda pula. Penggunaan simbol berfaedah untuk memudahkan para kartografer dan geografer dalam penulisan.





Lambang latitude




Pada latitude, dituliskan sebuah simbol yang dibaca phi. Lambang ini dapat kalian lihat di atas.





Lambang longitude




Sedangkan, garis longitude lazimnya dilambangkan dengan lambda dalam karakter Yunani. Lambang tersebut juga mampu kalian lihat di atas.





Tujuan penggunaan abjad yang berlainan-beda ini pasti bermaksud dalam memperlihatkan perbedaan yang jelas antar keduanya. Selain itu penentuan huruf juga menunjukkan kesan unik dengan bentuk yang tidak biasa sehingga tidak tertukar-tukar.





 



Perbedaan Garis Referensi





Perbedaan terakhir yang mampu dicermati yaitu dari segi garis referensi yang digunakan. Artinya baik pada lintang maupun bujur mempunyai garis referensi yang tidak sama.





Hal itu tampakpada garis lintang yang memiliki garis acuan bernama parallel. Garis tumpuan pada dasarnya yaitu garis kathulistiwa pada derajat 0 utara dan selatan.





Sedangkan, garis tumpuan longitude dinamakan selaku meridian lines. Garis tumpuan pada dasarnya yakni garis prime meridian pada derajat 0 dan garis antemeridian pada derajat 180.





Diatas telah kita bahas beberapa penjelasan dan perbedaan antara latitude dan longitude. Kedua garis tersebut mempunyai peranan yang serupa- sama penting dalam dunia perpetaan.





Jika Anda sudah membaca postingan ini maka dibutuhkan mampu memperbesar wawasan perihal garis lintang dan bujur. Ketika lain kali kalian membaca peta, kalian tidak akan tertukar-tukar lagi antara kedua garis ini.



Sumber ty.com