Gempa bumi dan tsunami yaitu musibah yang dahsyat dan saling terkait kejadiannya. Gempa bumi dan tsunami yang melanda Pangandaran pada bulan Juli tahun 2006 yang mengkonsumsi banyak korban ternyata ialah gempa bumi yang unik. Hal ini diungkap oleh tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mirip yang dipublikasikan di Journal of Asian Earth Science dan Journal of Applied Geodesy bulan Juli 2017.
![]() |
Ilustrasi indahnya Pantai Pangandaran. |
Banyaknya korban ini mungkin diakibatkan sebab sebelum kejadian gempa, warga Pangandaran tak mencicipi guncangan apapun. Berbeda dengan peristiwa tsunami di Aceh, sebelum peristiwa tsunami warga Banda Aceh merasakan guncangan gempa yang sungguh berpengaruh, sehingga lebih waspada.
Menurut Endra Gunawan, dan tim peneliti dari ITB, ternyata gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Pangandaran pada 17 Juli 2006 kemudian memiliki karakteristik unik. Hal ini dikarenakan 5 tahun sesudah insiden gempa, ternyata masih terdapat pergerakan deformasi di daerah sekitar episentrum. Data aktifitas deformasi dalam waktu 5 tahun peristiwa gempa dikenali dari hasil pendataan GPS (Global Positioning System).
Keunikan gampa dan tsunami Pangandaran yang lain yakni ternyata deformasi berjalan lama alasannya adalah gempa Pangandaran yang terjadi pada 17 Juli 2006 hanya bermagnitudo 7, berlainan dengan gempa yang terjadi di Aceh yang meraih magnitudo 9,2. Keunikan aktifitas tektonik di Pangandaran itu dipicu oleh perbedaan bagian dalam bumi antara selatan Jawa dengan Barat Sumatera.
Menurut tim Peneliti ITB, perbedaan bagian dalam bumi antara Jawa dengan bagian Barat Sumatera ini diantaranya adalah ternyata bab Selatan Jawa lebih fluid. Hal ini dibuktikan dengan nilai kekentalan mantle astenosfer Selatan Jawa yang lebih kecil dibandingkan Barat Sumatera.
Masih berdasarkan Endra, tim Peneliti dari ITB, gempa Pangandaran yakni tsunami-earthquake. Gempa jenis tsunami-earthquake menyebabkan tsunami yang datang tanpa peringatan.
Bencana tsunami bisa tiba tanpa perayaan alasannya kecepatan robekan pada bidang gempa lebih lambat dibandingkan dengan gempa normalnya. Pada gempa wajar , kecepatan robekannya 2 sampai 2,5 km per detik. Sedangkan tsunami-earthquake memiliki kecepatan di bawah 1,5 km per detik. Kecepatan robekan yang lebih pelan itu juga yang memicu kegiatan deformasi sampai 5 tahun sehabis kejadian gempa.
Deformasi ini potensial memicu gempa susulan. Seperti yang terjadi di Jepang misalnya, riset menyebutkan bahwa gempa Tohoku pada 2011 terjadi akhir dorongan dari gempa lain di sekitarnya.
Akan tetapi, tim Peneliti ITB belum mengenali apakah gempa Pangandaran dan deformasi lanjutannya akan mejadi prekursor gempa lain sepanjang palung di Selatan Jawa. Prekursor baru dapat dimengerti jika telah ada analisis terhadap gempa sebelumnya.
Dan ternyata, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah mendeteksi adanya jalur sesar dan kejadian gempa di Selatan Jawa Barat sehabis insiden gempa Pangnadaran tahun 2006.
Endra menerka, jikalau hal ini yakni suatu rentetan insiden dari deformasi pasca gempa Pangandaran tahun 2006. Kejadian ini tentunya hal yang mempesona untuk dipelajari.
Hasil observasi Endra dan Tim Peneliti dari ITB ini ialah info baru terkait aktifitas tektonik di Selatan Pulau Jawa. Hal inilah yang mengungkap uniknya gempa bumi dan tsunami yang melanda Pangandaran pada tanggal 17 Juli 2017.
Sumber https://ghost-ships.blogspot.com
EmoticonEmoticon