Tampilkan postingan dengan label Gempa Bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gempa Bumi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Maret 2021

Pengertian Gempabumi Dan Upaya Mitigasi

Pengertian Gempa Bumi dan Mitigasi Gempa Bumi - Gempa bumi yakni salah satu bencana alam geologi yang sangat berbahaya. Disebut berbahaya sebab ia  tidak mampu dilarang, tidak mampu diperkirakan kapan hadirnya, serta sering menjadi pemicu terjadinya beberapa macam bencana alam besar yang lain mirip tsunami serta tanah longsor.

Kita harus mengenal baik peristiwa yang satu ini, baik itu mengenai pemahaman gempa bumi itu sendiri, penyebabnya, dampaknya, juga bagaimana upaya mitigasi dikala terjadi tragedi ini. Berdasarkan hal tersebut, maka pada potensi ini geologinesia akan membahas tentang Apa itu gempa bumi serta bagaimana melakukan mitigasi terhadap bencana alam ini.

Menurut ilmu geologi, pemahaman gempa bumi yakni berguncangnya bumi alasannya adalah terjadinya tumbukan antar lempeng bumi, patahan akibat acara gunungapi, serta runtuhan batuan. Kekuatan gempa akibat kegiatan gunungapi serta runtuhan batuan relatif kecil sehingga kita akan lebih memusatkan pembahasan pada pengertian gempa bumi, proses terjadinya gempa, serta akibat gempa yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng dan patahan aktif.

Baca juga: Wilayah di Amerika Serikat yang Sering mengalami Gempabumi

Proses Terjadinya Gempa Bumi

Rapat massa lempeng samudera lebih besar dikala bertumbukan dengan lempeng benua di zona tumbukan (subduksi) menghasilkan gerak menyusup ke bawah. Gerak lempeng tersebut berikutnya akan mengalami perlambatan akibat gesekan dari selubung bumi.

Perlambatan gerak itu menyebabkan penumpukkan energi di zona subduksi maupun di zona patahan. Akibatnya, di zona-zona itu terjadi tekanan, tarikan, juga geseran.

Pada dikala batas elastisitas lempeng terlampaui maka terjadilah patahan batuan yang disertai oleh lepasnya energi secara datang-datang. Peristiwa ini menghasilkan gelombang getaran partikel ke segala arah yang biasa disebut dengan gelombang gempa.

Pengertian Gempa Bumi dan Mitigasi Gempa Bumi Pengertian Gempabumi dan upaya Mitigasi
Gambar denah tektonik relevansinya dengan gempa bumi.

Kita tahu bahwa Indonesia terletak pada konferensi 3 lempeng utama dunia, adalah lempeng pasifik, eurasia, dan australia. Lempeng eurasia maupun australia bertumbukan di lepas pantai barat Pulau Sumatera, lepas pantai selatan pulau Jawa, lepas pantai Selatan kepulauan Nusatenggara, selanjutnya berbelok ke arah utara ke perairan Maluku sebelah selatan.

Antara lempeng Australia dan Pasifik terjadi tumbukan di sekeliling Pulau Papua, sementara konferensi antara ketiga lempeng itu terjadi di sekeliling Sulawesi. Itulah sebabnya mengapa di pulau-pulau sekitar pertemuan 3 lempeng itu sering terjadi gempa.

Berikut ini yaitu 25 tempat kawasan rawan gempa bumi di Indonesia yakni: Aceh, Sumatera Utara (Simeulue), Sumatera Barat - Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten Pandeglang, Jawa Barat, Bantar Kawung, Yogyakarta, Lasem, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kepulauan Aru, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sangir Talaud, Maluku Utara, Maluku Selatan, Kepala Burung - Papua Utara, Jayapura, Nabire, Wamena, juga Kalimantan Timur.

Dampak Akibat Gempa Bumi

Besarnya efek akhir gempa bumi sungguh diputuskan oleh intensitas gempa. Intensitas gempa yakni tingkat kerusakan yang terasa pada lokasi terjadinya gempa. Angkanya ditentukan dengan menganggap hasil kerusakannya, pengaruhnya pada benda-benda, bangunan, tanah, serta karenanya pada manusia.

Intensitas gempa bumi diukur dengan suatu nilai MMI (Modified Mercalli Intensity), diperkenalkan oleh Giuseppe Mercalli pada tahun 1902. Magnituda adalah parameter gempa yang diukur menurut goncangan pada sentra gempa, satuannya ialah Skala Richter.

Skala Richter diperkenalkan oleh Charles F. Richter tahun 1934. Sebagai teladan, gempa bumi dengan kekuatan 8 Skala Richter setara dengan kekuatan materi peledak TNT seberat 1 gigaton atau 1 milyar ton.

Akibat gempa bumi yakni yang paling utama hancurnya bangunan-bangunan sebab goncangan tanah. Jatuhnya korban jiwa biasanya terjadi sebab tertimpa reruntuhan bangunan, terkena longsor, dan kebakaran.

Jika sumber gempa ada di dasar maritim maka bisa menyebabkan gelombang tsunami besar mematikan. Tsunami dapat memukul pesisir pantai tidak cuma disekitar sumber gempa tetapi juga mampu meraih beberapa km ke arah daratan.

Mitigasi Gempa Bumi

Di Indonesia, korban jiwa terbesar akibat gempa bumi terjadi di Nias pada bulan Maret 2005 adalah sebanyak 300 orang tewas. Sementara itu korban tsunami paling besar yang merupakan imbas akhir terjadinya gempa bumi yakni di Aceh dan Sumut pada Desember 2004, sebanyak 250.000 jiwa tewas.

Baca juga: Tsunami yang terjadi di Samudra Pasifik

Mengacu pada data akibat gempa bumi di atas, dapat kita lihat bahwa betapa berbahayanya bencana alam ini. Akan tetapi, pada jenis petaka ini kita sebetulnya hanya bisa melakukan langkah-langkah yang sekiranya mampu meminimalisasi jatuhnya korban balasan gempa bumi.

Tindakan ini umumdisebut dengan upaya mitigasi gempa bumi, yaitu mampu dilaksanakan dengan cara-cara selaku berikut:
  • Membangun kewaspadaan masyarakat dan pemerintah daerah lewat training persiapan jika ketika-waktu terjadi gempa.
  • Menyelenggarakan pendidikan dini melalui jalur pendidikan formal dan non-formal wacana pengertian gempa bumi dan bahayanya di kawasan rawan pengaruh akhir gempa bumi.
  • Tidak membangun permukiman dan aktifitas penduduk baik itu diatas, pada, ataupun dibawah tebing.
  • Melakukan pemetaan mikrozonasi diwilayah riskan gempa dan mempersiapkan alur serta tempat penyelamatan tragedi.
  • Menggunakan konstruksi bangunan tahan kepada gempa dan tidak mendirikan bangunan diatas tanah timbunan yang tidak menyanggupi tingkat kepadatan sesuai dengan daya dukung tanah terhadap konstruksi bangunan diatasnya.
  • Perlu adanya RUTR dan RTRW yang dituangkan dalam peraturan tempat yang berwawasan dan memikirkan faktor kebencanaan sehingga prinsip bangunan berkelanjutan dapat tercapai.
  • Mambangun alur evakuasi dan tempat pengungsian serta bukit-bukit untuk mengelak dari gelombang tsunami yang ialah salah satu akibat gempa bumi.

Sumber https://www.geologinesia.com/

Sabtu, 06 Februari 2021

Bagaimana Sentra Gempa Dan Lapisan-Lapisan Bumi Dapat Dikenali

Pertanyaan yang sering muncul mengenai gempa bumi yaitu bagaimana gempa bumi mampu terjadi, baik itu kekuatannya, kedalamannya/pusat gempa (hiposentrum), ataupun lokasinya (episentrum). Bahkan beberapa orang pernah bertanya kepada aku, bagaimana para mahir mampu mengenali lapisan lapisan bumi, baik dari aspek ketebalan lapisannya (kerak, mantel, dan inti bumi), karakteristik material penyusunnya, bahkan diameter ataupun jari-jari bumi.

Pertanyaan tentang lapisan-lapisan bumi yakni hal yang lumrah, karena mereka mengenali bahwa sampai saat ini lapisan-lapisan bumi (khususnya bab mantel bumi - inti bumi) belum mampu dibuktikan secara pasti berdasarkan data pengeboran (alasannya adalah penetrasi alat bor yang terbatas). Tulisan singkat dibawah ini mudah-mudahan mampu memberi pencerahan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Mengetahui Kekuatan, Kedalaman, dan Lokasi Gempa Bumi

Bumi yaitu bahan yang dinamis, akhir massa batuan yang aktif bergerak satu dengan yang lainnya, sehingga menghasilkan gempabumi di zona penunjaman lempeng pada kedalaman tertentu. Zona penunjaman lempeng biasanya banyak terdapat di bawah dasar-dasar samudera. Gempabumi berasal dari pergerakan secara perlahan massa batuan balasan pertambahan gaya (energi) deformasi, sehingga massa batuan akan melebihi batas elastisitasnya dan balasannya patah (pecah). Perlu dicatat bahwa kunci penyebab gempabumi ini yaitu gaya (energi) deformasi yang biasa dikenal sebagai "gelombang seismik".

Tempat lepasnya energi deformasi elastis yang biasa disebut "geolombang seismik" ini akan menyebar ke segala arah yang diketahui dengan sebutan "hiposenter". Sedangkan rekahan yang terbentuk akhir deformasi tersebut dinamakan patahan (fault). Patahan (fault) terbentuk akhir massa batuan yang terkena energi deformasi kehilangan batas elastisitasnya, sehingga menimbulkan massa batuan akan patah atau pecah.

Dengan mempelajari struktur dalam (interior) bumi, disimpulkan adanya dua jenis gelombang seismik, yaitu : "compresional wave" lazimdisebut dengan P wave (gelombang P), dan "shear wave" umumdisebut S wave (gelombang S). Gelombang P ialah gelombang tekanan penyebab deformasi lentur pada massa batuan, yang bergerak searah dengan arah gaya deformasi. Sedangkan gelombang S ialah gelombang tarikan, yang bergerak membuat sudut dengan arah gaya deformasi.

Kecepatan gelombang P ternyata 40% lebih besar dibanding kecepatan gelombang S. Alat untuk mencatat gerakan perlahan interior bumi yang berasosiasi dengan gelombang seismik disebut dengan "seismograph" (lihat gambar 1A). Gelombang P senantiasa berjalan lebih singkat dari gelombang S, sehingga gelombang P akan datang di seismograph lebih dahulu dan direkam oleh defleksi pada diagram seismograph. Gelombang S direkam dengan cara yang serupa, tetapi pada waktu selanjutnya. Sehingga perbedaan kedatangannya mampu dicatat.

Jika kecepatan kedua gelombang P dan S mampu diketahui dari seismograph, dan selang (perbedaan) waktu kehadiran kedua gelombang dicatat, maka kedalaman pusat gempa (hiposentrum) dapat ditentukan. Sedangkan lokasi gempa mampu diputuskan jika jarak gempa dari beberapa stasiun seismograph dihitung. Proyeksi (posisi) tegak lurus hiposentrum ke permukaan bumi disebut selaku "episentrum".

Mengetahui Lapisan-lapisan Bumi

Gelombang P didalam bumi memiliki kecepatan yang berlawanan-beda, sebagai akibat ketidak-homogenan batuan pembentuk struktur dalam bumi (interior bumi). Sifat dari gelombang ini baik pada fasa padat maupun fasa cair mampu ditransmisikan. Sedangkan untuk gelombang S, tidak dapat ditransmisikan pada fasa cair.

Gelombang P mampu dicatat hingga posisi 120 derajat dari pusat pengukuran. Tetapi pada koordinat 102 - 143 derajat, getaran gelombang P tidak dapat direkam, dan daerah tersebut dinamakan "shadow zone" atau kawasan bayangan (lihat gambar 1B). Gerakan gelombang P tercatat mulai lemah kecepatannya pada koordinat 143 - 180 derajat.

Dari beberapa penelitian terhadap kecepatan gelombang P dan gelombang S di dalam bumi, para hebat menawan kesimpulan bahwa di dalam bumi terdapat dua bidang utama diskontinuitas. Pertama, sekitar 5 - 70 km dari permukaan bumi, dan yang kedua pada kedalaman sekitar 2900 km dari permukaan bumi. Dari sinilah asal muasal diketahuinya lapisan-lapisan bumi dengan masing-masing ketebalannya.
Pertanyaan yang sering muncul mengenai gempa bumi adalah bagaimana gempa bumi dapat terjad Bagaimana Pusat Gempa dan Lapisan-lapisan Bumi Dapat Diketahui
Gambar 1. Konsep gelombang seismik yang dipakai untuk pengukuran gempa dan kenali lapisan bumi.

Berdasarkan gambar diatas (gambar 1C), maka secara garis besar lapisan-lapisan bumi (interior bumi) terdiri atas : 1) Kerak bumi (crust) dengan ketebalan sekitar 5-70 km, 2) Selubung bumi (mantel) dengan ketebalan sekitar 70-2900 km, dan 3) Inti bumi (core) dengan ketebalan sekitar 3450 km. Hasil inilah yang secara akumulasi jari-jari bumi dapat diperkirakan panjangnya, yaitu sekitar 6350 km (jari-jari bumi di katulistiwa).

Kerak Bumi

Bagian ini sering disebut juga sebagai kulit bumi, ialah lapisan terluar yang disusun oleh batuan yang padat. Kerak bumi mampu dibedakan menjadi kerak benua (kerak kontinen) dan kerak samudera (kerak oseanik).

Kerak benua merupakan kerak yang menyusun daratan atau benua dan menyusun sekitar 79% dari volume kerak bumi. Batuan yang menyusun kerak benua pada umumnya batuan granitik yang bersifat asam. Bagian atas dari kerak benua biasanya disusun oleh batuan beku, batuan metamorf, dan batuan sedimen. Kerak benua bagian atas dan bab bawah dipisahkan oleh bidang Diskontinuitas Conrad.

Kerak samudera (kerak oseanik) yakni kerak bumi yang menyusun lantai samudera, sekitar 65% dari total luas kerak bumi. Rata-rata kedalaman kerak samudera sekitar 4 km dari permukaan air laut. batuan penyusunnya ialah batuan yang bersifat basa atau mafik. Bagian atas (pada ketebalan 1,5 km) disusun oleh batuan yang bersifat basa atau basaltik, sedangkan pada bagian bawahnya tersusun atas batuan metamorf dan batuan beku gabro.

Selubung Bumi (Mantel)

Bagian ini ialah penyusun bagian dalam bumi yang paling besar. komposisi kimia selubung bumi belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan terdiri atas oksigen dan silikon dalam jumlah yang besar. Komposisi lazim dari bab ini yaitu bahan material yang bersifat ultramafik, seperti dunit, peridotit, dan batuan lainnya yang kaya akan olivin.

Selubung bumi atau mantel bumi dapat dibedakan menjadi tiga bagian yakni : 1) selubung bumi bagian atas, 2) selubung bumi bagian tengah, dan 3) selubung bumi bab bawah. Informasi lapisan bumi yang cukup dalam ini dapat diketahui berdasarkan atas mampu merambatnya gelombang S lewat material penyusunnya.
Pertanyaan yang sering muncul mengenai gempa bumi adalah bagaimana gempa bumi dapat terjad Bagaimana Pusat Gempa dan Lapisan-lapisan Bumi Dapat Diketahui
Gambar 2. Anatomi lapisan-lapisan bumi (interior bumi).

Inti Bumi

Bagian bumi ini terletak mulai kedalaman sekitar 2900 km dari dasar kerak bumi sampai ke pusat bumi. Inti bumi terbagi atas 2 bab ialah inti bumi bagian luar dan inti bumi bagian dalam. Karakteristik mengenai batas antara selubung bumi dan inti bumi ditandai dengan penurunan kecepatan gelombang P secara drastis dan gelombang S yang tidak mampu diteruskan. Diperkirakan hal ini berhubungan dengan meningkatnya berat jenis material penyusun inti bumi serta pergeseran sifat materialnya dari padat menjadi cair.

Peningkatan berat jenis lebih banyak disebabkan oleh pergeseran material silikat pada selubung bumi menjadi material yang kaya akan besi (Fe) di inti bumi. Diperkirakan, perubahan sifat tersebut akibat turunnya titik lebur material yang mengandung besi ketimbang material yang kaya silikat. Inilah mengapa inti bumi bab luar berwujud cairan yang melimpah logam Fe, sedangkan inti bumi bagian dalam disusun oleh material yang serupa, tetapi dalam fase padat.

Sumber https://www.geologinesia.com/

Rabu, 03 Februari 2021

Belum Ada Bangunan Yang 100% Tahan Gempa : Iai Ntt

Kupang (11/3/16) - Don Arakian, Ketua DPD Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Nusa Tenggara Timur menyampaikan secara teknis belum ada bangunan yang tahan kepada gempa.

"Memang belum ada bangunan yang mampu tahan gempa sama sekali. Akan namun yang ada yakni melaksanakan desain yang bisa menghemat kerusakan akibat gempa" katanya terhadap Antara di Kupang, merespon insiden gempa yang mulai 2015 masih terus mengguncang beberapa daerah di NTT.

Don Arakian yang merupakan dosen Jurusan Arsitek Universitas Widya Mandira (Unika) itu menyampaikan bahwa saat ini di provinsi NTT beberapa kabupaten/kota sedang menyusun Peraturan Daerah (Perda) wacana Bangunan Gedung. Perda ini merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

Kata Don, UU tersebut berisi perihal kaidah arsitektur lokal dan aspek kebencanaan. "Penjelasan panjang dan sungguh teknis seluruhnya telah ada dalam Peraturan Daerah tersebut, dan saya merupakan orang yang terlibat langsung dalam penyusunan Peraturan Daerah tersebut", jelasnya.
 Nusa Tenggara Timur mengatakan secara teknis belum ada bangunan yang tahan terhadap gempa Belum Ada Bangunan yang 100% Tahan Gempa : IAI NTT
Gambar ilustrasi balasan gempa pada bangunan/gedung.

Lanjut dia, dalam UU tersebut disebutkan juga soal pembangunan gedung yang semipermanen yang tahan akan guncangan yang besar. Menurutnya, sampai saat ini para andal masih terus meneliti berbagai tipe bangunan mirip apa yang mampu bertahan kepada guncangan gempa.

Seperti yang kita pahami, insiden gempa 6,2 skala richter mengguncang Kabupaten Alor pada November 2015 kemudian. Gempa tersebut merusak sejumlah bangunan di Alor dan tidak ada korban jiwa dalam gempa tersebut.

Selanjutnya, gempa kedua terjadi di Kabupaten Sumba Barat pada bulan Februari 2016 dengan kekuatan 6,6 skala richter. Gempa tersebut tidak menjadikan korban jiwa dan kerusakan bangunan mirip yang terjadi di Alor pada November 2015.

Pernyataan Don Arakian diatas sudah pasti mampu memacu penemuan para hebat di bidang arsitektur, sipil, geologi, dan beberapa bidang profesi terkait lainnya di Indonesia, untuk menciptakan sebuah bangunan yang 100% tahan terhadap gempa. Mungkinkah itu? (Sumber : economy.okezone dotcom).

Sumber https://www.geologinesia.com/

Minggu, 17 Januari 2021

Gempa Bumi Terkini: Gorontalo Di Guncang Gempa 4,4 Skala Richter

Gempa yang berkekuatan 4,4 SR telah mengguncang Provinsi Gorontalo pada hari ini Sabtu 21 mei 2016. Gempa terjadi pada pukul 15.01 WITA pada kedalaman sekitar 40 kilometer.


Indar Adi Waluyo dari Stasiun Meteorologi dan Geofisika Gorontalo mengatakan bahwa Gempa terjadi pada posisi 1,07 LU dan 122,77 BT ke arah 34 kilometer Timur Laut Gorontalo Utara.

Menurutnya, episenter gempa berada di sekitar pesisir Kecamatan Sumalata Timur, dan warga diharapkan melaporkan bila mencicipi kekuatan gempa tersebut.

“Kami berharap ada laporan dari warga atau siapapun yang mencicipi guncangan tersebut, khususnya di daerah sekitar episentrum,” katanya.


Gorontalo merupakan salah satu kawasan yang paling rawan terjadi gempa bumi. Bahkan dalam catatan BMKG, intensitas gempa di tempat itu hampir terjadi saban hari.
 SR telah mengguncang Provinsi Gorontalo pada hari ini Sabtu  Gempa Bumi Terkini: Gorontalo di Guncang Gempa 4,4 Skala Richter

Sebelumnya, tanggal 7 April 2016 pukul 12.09/Wita terjadi gempa bumi berkekuatan 5,1 Skala Richter yang berpusat di Kabupaten Gorontalo Utara.

Juga pada November 2008 terjadi gempa berkekuatan 7,7 SR di Gorontalo, menimbulkan seorang warga tewas. Meskipun demikian, gempa jarang dirasakan oleh warga Gorontalo sebab rata-rata berkekuatan di bawah 5 Skala Richter (SR).

Sumber: Antaranews

Sumber https://www.geologinesia.com/

Rabu, 06 Januari 2021

Gempa Chile Pemegang Rekor Gempa Terbesar Di Dunia

Rekor kejadian gempa paling besar di dunia yang terdokumentasikan secara lengkap terjadi pada tanggal 22 Mei 1960 di negara Chile akrab Valdivia, Chile Selatan. Gempa tersebut tercatat oleh United States Geological Survey (USGS) berkekuatan 9,5 SR. Gempa tersebut sering disebut juga sebagai "Great Chilean Earthquake" atau "1960 Valdivia Earthquake."

Baca juga : Jejak Rekam Tsunami di Samudra Pasifik

USGS melaporkan kejadian ini selaku "gempa bumi terbesar periode ke-20". Gempa bumi lainnya banyak tercatat dalam sejarah dan mungkin lebih besar, tetapi ini ialah gempa terbesar yang sudah terjadi sejak dilakukannya perkiraan magnitude gempa yang lebih akurat pada awal 1900-an.

 yang terdokumentasikan secara lengkap terjadi pada tanggal  Gempa Chile Pemegang Rekor Gempa Terbesar di Dunia
12 rekor gempa paling besar di dunia (kiri), perjalanan tsunami gempa Chile melintasi samudera pasifik.

Gempa Chile terjadi di bawah Samudera Pasifik di lepas pantai Chile. Longsoran balasan gempa merusak ribuan bangunan. Pemerintah Chili memperkirakan bahwa sekitar 2 juta orang kehilangan daerah tinggal. Beruntung bahwa gempa tersebut terjadi di sore hari dan didahului oleh "foreshock" yang besar lengan berkuasa. Foreshock yang terjadi mengakibatkan kebanyakan orang sudah keluar dari rumah mereka sebelum gempa utama terjadi.

Sebagian besar kerusakan dan kematian yang terjadi disebabkan oleh tsunami yang dihasilkan oleh gempa bumi ini. Gelombang tsunami menyapu daerah di pesisir beberapa saat sehabis gempa terjadi. Tsunami menghanyutkan bangunan dan menenggelamkan banyak orang.

Ada banyak perkiraan jumlah korban yang berlainan pada gempa ini. Jumlah korban jiwa berkisar dari 490 hingga 6000 orang. Biaya kerusakan diperkirakan antara 400 - 800 juta dolar, yang kalau dikonversi saat ini mampu mencapai sekitar 3 - 6 miliar dollar (disesuaikan dengan inflasi sekarang).

Tsunami yang dihasilkan dari gempa ini ialah salah satu dari beberapa tsunami yang telah menewaskan banyak orang pada cakupan area yang luas. Tsunami yang terjadi melintasi Samudera Pasifik dengan kecepatan lebih dari 200 mil per jam, sehingga terjadi perubahan permukaan maritim diseluruh cekungan Samudera Pasifik.

Baca juga : Patahan Lembang Bandung Meyimpan Potensi Gempa Dahsyat

Tsunami tersebut bahkan meraih wilayah Hawaii 15 jam sehabis gempa terjadi. Gelombang dengan tinggi sekitar 11 meter menyapu wilayah pesisir Hawaii. Banyak kemudahan di pantai dan bangunan yang akrab dengan daerah pesisir hancur lebur. Dilaporkan 61 orang tewas oleh gelombang tsunami di Hawaii yang diakibatkan oleh gempa ini.

Sedangkan di California, gelombang dengan tinggi sekitar 2 meter mengakibatkan kerusakan struktur garis pantai dan perahu-perahu kecil. Sedangkan di Jepang, gelombang hingga 6 meter menghantam pulau Honshu, sekitar 22 jam sehabis gempa Chile terjadi, menimbulkan 1.600 rumah hancur dan 185 orang tewas atau hilang. Selain itu, tercatat 32 orang tewas di Filipina sekitar 24 jam sehabis gempa terjadi. Kerusakan juga terjadi di Pulau Paskah dan Samoa.

USGS juga melaporkan bahwa terjadi penurunan sebesar 1,5 meter di sepanjang pantai Chile dari ujung selatan Semenanjung Arauco sampai di Quellon, Pulau Chiloe. Subsidence ini menimbulkan sejumlah bangunan berada dibawah permukaan air pada ketika pasang. Sedangkan di Isla Guafo terjadi "uplift" sebesar 3 meter.

Gempa Chile masuk dalam kategori gempa "megathrust" yang terjadi pada kedalaman sekitar 20 mil, dimana Lempeng Nazca mensubduksi Lempeng Amerika Selatan. Subduksi tersebut menciptakan zona patahan sepanjang 500 mil, membentang dari Talca sampai ke Chiloe Archipelago. Banyak gempa bumi besar sudah terjadi di sekeliling tempat tersebut sebelum dan sehabis kejadian 22 Mei 1960 itu.

Sumber https://www.geologinesia.com/

Senin, 30 Maret 2020

Wilayah Di Amerika Serikat Yang Paling Sering Terjadi Gempa Bumi

Gempa bumi mampu dinikmati ketika permukaan bumi bergetar akhir pelepasan energi secara datang-datang di litosfer yang mengirimkan gelombang seismik dari sentra gempa. Mereka dapat beraneka ragam dalam ukuran, dari yang lemah yang tidak mampu dicicipi sampai sungguh berpengaruh yang dapat merusak struktur bangunan dan mampu membunuh makhluk hidup.

Aktivitas seismik di sebuah wilayah mengacu pada frekuensi, ukuran, dan jenis gempa yang dialami di daerah tertentu selama beberapa waktu. Jika sentra gempa bumi berada di lepas pantai dan terjadi dengan cukup berpengaruh, maka bisa mengakibatkan terjadinya tsunami.

Gempa bumi juga dapat memicu tanah longsor dan juga acara gunung berapi. Di Amerika Serikat, beberapa negara bagiannya rentan kepada gempa bumi. Dibawah ini merupakan wilayah bab Amerika Serikat yang paling riskan/sering mengalami peristiwa gempa bumi.

Alaska

Alaska sudah mengalami banyak kali peristiwa gempa bumi dibandingkan negara bab lain di Amerika Serikat. Antara 1974 dan 2003, Alaska telah mengalami 12.053 gempa berpengaruh. Gempa bumi 1946 yang melanda Kepulauan Aleut di Alaska adalah salah satu gempa yang paling mematikan di negara bab tersebut. Gempa ini terjadi pada 1 April 1946 dan berkekuatan 8,6 sehingga menewaskan 165 sampai 173 orang. Kerusakan properti diperkirakan mencapai $26 juta.

Akibat gempa tersebut, dasar laut di garis patahan terdorong ke atas, sehingga menciptakan tsunami yang bergerak melintasi Samudra Pasifik. Gelombang yang tercipta balasan tsunami tersebut meraih ketinggian 25 hingga 130 kaki dengan kecepatan sampai 500 mil per jam. Tsunami ini membutuhkan waktu 4,5 jam untuk hingga di Hawaii.

Gempa bumi dapat dirasakan saat permukaan bumi bergetar akibat pelepasan energi secara tib Wilayah di Amerika Serikat Yang Paling Sering Terjadi Gempa Bumi

California

Setiap tahun California mengalami banyak peristiwa gempa bumi, dan sebagian besar dengan magnitude yang kecil bahkan sukar dicicipi. Hanya sedikit yang berada di atas magnitude 3.0. Antara tahun 1974 dan 2003, wilayah bagian ini telah mengalami 4.895 gempa kuat.

Salah satu gempa terburuk yang merusak California yakni gempa bumi pada tahun 1906 yang melanda pantai utara California di San Francisco. Gempa bumi tersebut berkekuatan 7,9 sehingga mengakibatkan kebakaran ahli di kota San Francisco selama beberapa hari. Akibatnya, sekitar 3.000 orang kehilangan nyawa, dan lebih dari 80% kota San Francisco hancur.

Peristiwa ini dikenang selaku salah satu gempa paling mematikan dan terburuk dalam sejarah Amerika Serikat. Korban yang tewas sebab gempa ini ialah yang paling besar akibat petaka geologi dalam sejarah California.

Hawaii

Hawaii mempunyai dua gunung berapi aktif, Mauna Loa dan Kilauea. Antara 1974 dan 2003, Hawaii sudah mengalami sekitar 1.533 gempa besar lengan berkuasa. Gempa pada tahun 1868 yakni gempa yang paling besar dalam sejarah Hawaii dengan kekuatan 7,9. Gempa bumi yang terjadi pada 2 April 1868 ini juga mengakibatkan tsunami dan tanah longsor di pulau Hawaii.

Tanah longsor yang disebabkan oleh gempa bumi tersebut meliputi area yang luas, dan tanah longsor terbesar meliputi area sekitar 3 kilometer sehingga menimbulkan 31 orang meninggal. Kejadian tsunami yang dipicu oleh gempa bumi ini pun menggenangi lahan yang sebelumnya kering hingga sekitar 1,5 meter ke arah daratan.

Nevada

Negara bab Nevada ialah salah satu negara bab di AS yang riskan gempa bumi. Antara tahun 1974 dan 2003, sudah terjadi 788 gempa berpengaruh di negara bab tersebut. Nevada yakni wilayah dengan aktivitas seismik teraktif ke-4 di AS. Patahan akhir gempa aktif didapatkan hampir di semua bagian daerah tersebut.

Diperkirakan bahwa wilayah yang terletak 30 mil dari Las Vegas ini memiliki peluang 12% terjadinya gempa bumi dengan kekuatan 6,0 dalam 50 tahun ke depan. Salah satu gempa bumi yang paling merusak di daerah ini ialah di Pleasant Valley pada Mei 1915.

Gempa bumi dengan kekuatan 7,1 ini secara signifikan sudah mengubah aliran sungai dan mata air di bab utara negara bagian tersebut. Gempa itu terasa di sampai kawasan-daerah seperti Oregon, California Selatan, dan Pantai Pasifik.

Washington

Washington yaitu salah satu negara bab di AS yang acara seismiknya paling aktif, dimana antara tahun 1874 dan 2003, negara itu telah mengalami 424 kali gempa besar lengan berkuasa. Salah satu gempa bumi terkuat yang dialami Washington yakni gempa bumi pada pada tanggal 28 Februari tahun 2001.

Gempa bumi tersebut berkekuatan 6,8, dengan pusat gempa terletak di Southern Puget Sound di Timur Laut Olympia. Gelombang kejutnya mampu dinikmati hingga ke wilayah Idaho, Oregon, dan Kanada. Kerusakan properti yang diakibatkan oleh gempa ini diperkirakan meraih $2 miliar.

Idaho

Antara Tahun 1973 hingga 2003, negara bagian Idaho mengalami 404 kali gempa bumi berpengaruh. Salah satu gempa bumi paling merusak di negara bab ini ialah gempa Borah Peak yang terjadi pada 28 Oktober 1983. Gempa bumi ini berkekuatan 6,9 dan ini merupakan gempa bumi terburuk di daerah tersebut.

Penyebab gempa Borah Peak yaitu tergelincir batuan di sepanjang patahannya. Wilayah Challis-Mackay yang mengalami kerusakan parah, 50 bangunan mengalami kerusakan jago, sedangkan 200-an rumah yang lain mengalami kerusakan ringan. Diperkirakan kerugian balasan kerusakan properti sekitar $12,5 juta.

Sumber https://www.geologinesia.com/