Tampilkan postingan dengan label Geografi Fisik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Fisik. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2020

Acuan Pemikiran Sungai: Penjelasan Dan Misalnya


Sungai adalah pemikiran air di permukaan bumi yang berupa memanjang dari hulu ke hilir. Sesuai dengan hukum alam, sungai senantiasa mengalir dari kawasan yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Namun, sungai tidak senantiasa lurus, ada teladan-pola pemikiran tertentu yang ada pada sungai-sungai.





Nah, contoh ajaran yang berbeda-beda ini tentu saja disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan sekitarnya yang berlainan-beda pula. Oleh alasannya itu, penting bagi kita untuk mengenali dimana dan bagaimana tiap acuan pemikiran tersebut terbentuk.Berikut ini adalah beberapa acuan fatwa sungai yang kerap kita temui






Pola Aliran Sungai Paralel





Pola Aliran Sungai Parallel




Karakteristik dari acuan pedoman paralel yakni sungainya yang condong lurus-lurus memanjang dan anak sungai yang bergabung dengan sungai utama pada sudut lancip. Selain itu, umumnya sungai paralel juga memiliki sedikit anak sungai dan sungai utama yang lebih besar.





Umumnya, teladan anutan sungai paralel terbentuk di daerah yang mempunyai kemiringan tinggi, kemiringan yang tinggi ini menyebabkan air eksklusif mengalir terhadap daerah yang lebih rendah tanpa berbelok-belok apalagi dahulu.





Kita sering melihat contoh pemikiran sungai ini pada kawasan disekitar pantai yang masih muda atau pantai dengan kelerengan yang cukup curam. Selain itu, kita juga mampu melihat teladan aliran paralel pada daerah dengan kelurusan-kelurusan atau patahan tektonik.





 



Pola Aliran Sungai Dendiritk





Pola Aliran Sungai Dendritik




Jika kita menyaksikan gambar diatas, maka pola anutan sungai dendritik akan terlihat menyerupai dedaunan bukan? Banyak sungai-sungai tributaries kecil yang karenanya menyatu menjadi satu sungai utama. Pola pemikiran dendritik ialah teladan aliran sungai yang paling biasa dijumpai di seluruh dunia.





Pola ajaran ini lazimnya terbentuk ketika sungai-sungai mengalir mengikuti kemiringan suatu lereng. Umumnya, sungai dendritik terbentuk di lembah berbentuk V dengan karateristik batuan yang impermeable (tidak mampu ditembus air) dan non-porous (tidak ber-rongga).





Pola anutan sungai dendritik juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik batuan di daerah tersebut. Jika batuan yang ada tergolong batuan yang resisten dan susah ter-abrasi, maka jarak antar anak sungai akan cenderung renggang. Sedangkan, bila batuan mudah ter-abrasi, maka jarak antar anak sungai akan condong rapat.





 



Pola Aliran Sungai Radial





Pola Aliran Sungai Radial




Pada contoh fatwa sungai radial, air mengalir keluar dari sebuah titik sentral yang biasanya berada pada ketinggian yang lebih tinggi daripada kawasan sekitarnya. Umumnya, teladan anutan sungai radial timbul pada perbukitan, pegunungan, dan gunung api.





Sungai jenis ini dapat kita jumpai pada bentang alam vulkanik berupa domes atau laccolith. Pada kedua bentang alam tersebut, umumnya sungai yang terbentuk mempunyai sifat-sifat aliran seperti radial.





Contoh sungai dengan contoh radial yaitu sungai-sungai yang terbentuk pada pegunungan Amarkantak di India dan kawasan Dogu’a Tembien di Ethiopia.





Mungkin kalian mengajukan pertanyaan-tanya, kenapa anutan sungai ini mengalir dari sebuah titik sentral di dataran tinggi? Alasannya mampu banyak, tetapi umumnya ada 2 argumentasi untuk hal ini. Yang pertama, karena terdapat mata air di lokasi tersebut, sehingga air mengalir keluar. Yang kedua, alasannya terjadi pengumpulan air hujan pada lokasi tersebut, seperti kodratnya, air akan mengalir ke kawasan yang lebih rendah, ialah daerah sekitarnya.





Nah, kalian mungkin bertanya juga, jikalau ada pola sungai yang sama tetapi ia mengalir dari daerah sekitarnya ke tempat yang lebih rendah, apakah masih tetap dianggap radial? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, bekerjsama pola aliran sungai radial ini mempunyai nama lengkap radial sentrifugal, ada juga temannya berjulukan radial sentripetal yang akan kita bahas dibawah.





 



Pola Aliran Sungai Sentripetal





Pola Aliran Sungai Sentripetal




Pola fatwa sungai sentripetal atau radial sentripetal secara lazim mempunyai karakteristik yang serupa dengan pola pemikiran radial sentrifugal diatas. Namun, yang membedakannya adalah pemikiran sungai disini berasal dari kawasan-tempat disekitar satu titik rendah. Lalu, sungai-sungai tersebut akan bermuara pada titik rendah sentral yang ada pada lokasi itu.





Umumnya, teladan pedoman sungai sentripetal muncul pada tempat-daerah yang berupa depression atau cekungan yang lebih rendah dari daerah sekitarnya. Contohnya ialah pada suatu danau, cekungan alami yang disebabkan oleh exfoliasi atau erosi dari kubah sinklin, atau pada sinkhole tempat karst.





Sungai-sungai radial sentripetal biasanya terbentuk di tempat barat dan barat maritim Amerika Serikat.





Seiring dengan berjalannya waktu, sungai dengan pola anutan radial sentripetal mampu bertransformasi menjadi sungai annular. Sungai annular adalah sungai radial sentripetal yang memiliki sungai obsekuen.





 



Pola Aliran Sungai Rektangular





Pola Aliran Sungai Rektangular




Pola fatwa sungai rektangular terbentuk pada kawasan-tempat yang terdiri dari batuan-batuan yang condong memiliki resistensi terhadap erosi yang sama namun mempunyai rekahan pada sudut 90 derajat.





Rekahan-rekahan ini biasanya mempunyai resistensi yang lebih rendah terhadap erosi ketimbang batuan induknya. Oleh alasannya itu, air yang mengalir akan lebih gampang mengikis rekahan-rekahan ini. Seiring dengan berjalannya waktu, rekahan tersebut akan bermetamorfosis pemikiran sungai dikala telah cukup dalam dan cukup banyak air yang melewatinya.





Umumnya, sungai ini terbentuk pada kawasan-kawasan yang terdiri dari jenis batuan beku. Hal ini terjadi karena batuan beku mempunyai karakteristik rekahan yang mengkotak-kotak dan condong tegak lurus kepada rekahan yang lain, atau 90 derajat.





 



Pola Aliran Sungai Trellis





Pola Aliran Sungai Trellis




Jika kalian menyaksikan pola yang dibuat oleh aliran sungai trellis, maka kalian akan menemukan kesamaan dengan teralis atau pagar di taman-taman rumah Inggris kebanyakan. Pada pemikiran sungai ini, terdapat sebuah sungai utama yang mengalir lurus dan disuplai oleh anak sungai yang mengalir dari samping-samping sungai utama.





Pada pemikiran trellis, sungai utama berada pada dataran rendah sedangkan sungai-sungai anak tersebut mengalir dari kawasan yang lebih tinggi, umumnya dari lereng-lereng barisan pegunungan. Anak sungai tersebut masuk kedalam sungai utama dengan sudut yang menyiku, umumnya sekitar 90 derajat.





Pola ajaran sungai mirip ini umumnya terbentuk pada kawasan yang mempunyai formasi batuan lunak yang saling parallel dengan batuan lunak lainnya. Pada perkara ini, lunak memiliki arti resistensi terhadap abrasi dan gerakan deformasi yang lain yang relatif rendah ya sahabat-teman. Aslinya, batunya tetap keras kok jikalau kalian pukul.





Pola pemikiran sungai ini juga identik dengan kawasan pegunungan lipatan seperti pegunungan Appalachian di Amerika Utara. Pada pegunungan lipatan, sungai utama akan berada di bawah lembah yang terlipat sedangkan sungai anaknya akan berasal dari lereng-lereng pegunungan lipat tersebut.





 



Pola Aliran Sungai Annular





Pola aliran sungai Annular




Mirip dengan contoh pedoman sungai radial, sungai yang memiliki pola pemikiran annular mengalir melingkari sabuk watu yang lunak. Pola ajaran ini akan ibarat cincin-cincin yang melingkari sebuah bentang alam berbentuk kubah.





Berbeda dengan radial yang mana air pribadi mengarah keluar dari hulunya di kawasan yang tinggi. Pada sungai annular, anutan sungai melingkar terlebih dahulu membentuk teladan mirip cincin-cincin.





Pola aliran annular dapat kita peroleh pada sungai-sungai yang mengalir melalui kubah struktural ataupun frustasi tektonik berupa basin yang sudah mengalami erosi. Erosi ini mengakibatkan kelemahan-kekurangan pada lapisan batuan sehingga muncul rekahan yang nantinya akan dilalui oleh pedoman air.





 



Pola Aliran Sungai Pinnate





Pola aliran sungai pinnate




Pola aliran sungai pinnate mempunyai bentuk yang cukup seperti dengan bulu binatang. Terdapat sungai utama yang relatif lurus dengan banyak sungai-sungai cabang yang masuk kedalam sungai utama sepanjang hulu ke hilirnya. Umumnya, sungai-sungai cabang ini masuk dengan sudut yang cukup tajam.





 



Pola Aliran Sungai Angular





Pola aliran sungai angular




Pola pedoman sungai angular pada dasarnya cukup seperti dengan sungai rektangular. Namun, rekahan-rekahan yang ada pada bentang alam dimana sungai angular mengalir umumnya mempunyai sudut yang lebih lancip dari 90 derajat. Oleh alasannya itu, akan muncul ajaran-pedoman sungai yang berkelok cukup tajam.





 



Pola Aliran Sungai Deranged





Pola Aliran Sungai Deranged




Sungai yang memiliki teladan ajaran deranged cukup unik karena tidak terdapat acuan terstruktur dari sungai dan danau yang ada pada wilayah tersebut. Pola pedoman ini umumnya terjadi pada kawasan yang sudah terdisrupsi secara geologis dalam skala yang cukup besar.





Contoh paling baik dari pola pedoman ini ialah di kawasan Canadian Shield dimana nyaris tidak ada tanah disitu, cuma ada batuan. Mencairnya gletser di tempat ini menimbulkan pengikisan terhadap batuan, sehingga muncul topografi yang tidak beraturan.





Ketidakberaturan lahan ini menjadikan terbentuknya banyak danau-danau kecil dan pedoman-ajaran sungai kecil antar danau tersebut. Namun, alasannya adalah usia bentang alam dan sungai-sungai disini masih relatif muda, kita belum dapat memprediksi kedepannya apakah tetap akan seperti ini, atau berubah menjadi lebih stabil.





 



Referensi





Mejía, Alfonso I., and Jeffrey D. Niemann. “Identification and Characterization of Dendritic, Parallel, Pinnate, Rectangular, and Trellis Networks Based on Deviations from Planform Self-Similarity.” Journal of Geophysical Research, vol. 113, no. F2, 2008, doi:10.1029/2007jf000781.





Lambert, David (1998). The Field Guide to Geology. Checkmark Books. pp. 130–131. ISBN 0-8160-3823-6.





Waugh, David. Geography: an Integrated Approach. Nelson Thornes, 2009.





Islam, Kamrul. Types of Drainage Pattern Presentation. Shah Jahal University of Science and Technology







Sumber ty.com

Kamis, 10 September 2020

Genetika Sungai: Concordant Dan Discordant


Sungai pada dasarnya merupakan pemikiran air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke kawasan yang lebih rendah. Sungai sendiri mempunyai banyak jenis pola pemikiran, sungguh tergantung dengan bentang alam yang dilewatinya dan keadaan batuan yang ada disekitarnya.





Selain teladan alirannya, sungai juga dapat diklasifikasikan menurut arah anutan dari sungai tersebut. Sebuah sungai yang dipengaruhi oleh topografi wilayah sekitarnya yaitu






Genetika Sungai yang Concordant





Sungai concordant intinya ialah sungai yang alirannya mengikuti dan dipengaruhi oleh bentang alam yang ada disekitarnya. Sungai-sungai berjenis concordant ialah jenis sungai paling umum di dunia. Nah, untuk arah alirannya sendiri, bisa searah atau berbalik arah kepada arah perlapisan batuan.





Mungkin pertama kali kita mesti mengklarifikasi terlebih dulu ya, arah pemikiran disini maksudnya yakni arah ajaran sungai relatif terhadap jurus perlapisan batuan yang ada pada lokasi tersebut. Tidak ada sungai yang mengalir dari kawasan yang lebih rendah ke kawasan yang lebih tinggi (kecuali di One Piece).





Ilustrasi sungai konsekuen, subsekuen, resekuen, dan obsekuen
Ilustrasi sungai konsekuen, subsekuen, resekuen, dan obsekuen
(ESCI 307, Fall 2003, Lecture 3)




Gambar diatas tersebut yaitu ilustrasi dari jenis-jenis sungai yang tergolong kedalam sungai concordant beserta dengan lokasi relatifnya kepada perlapisan batuan. Penjelasan dari tiap-tiap jenis sungai itu akan diterangkan dibawah ini.





Sungai Konsekuen





Sungai konsekuen ialah sungai yang mengalir searah dengan kemiringan perlapisan batuannya. Aliran sungai ini secara eksklusif dipengaruhi oleh kondisi topografi dari wilayah sekitarnya.





Nama konsekuen sendiri berasal dari kata consequent yang artinya konsekuensi dari keadaan lereng lokal. Mayoritas sungai-sungai di benua India ialah sungai Konsekuen.





Pada gambar diatas, kita mampu melihat bahwa sungai konsekuen memiliki arah yang sejajar dengan perlapisan batuan. Selain itu, sungai ini juga mengikuti kelerengan umum dari bentang alam diatas, yaitu miring ke kiri.





 



Sungai Subsekuen





Sungai subsekuen ialah tributary atau sungai anak dari sungai utama, yang umumnya bersifat konsekuen. Sungai ini berkembang disepanjang suatu zona perlapisan batuan yang non-resisten sehingga gampang ter-pengikisan dan membuat sungai.





Umumnya, sungai subsekuen memiliki umur yang lebih muda dari sungai konsekuen. Contohnya ialah sungai Chambal, Sind, dan Tons yang bergabung dengan sungai Ganga di India.





Dapat dilihat pada gambar diatas bahwa sungai subsekuen terbentuk pada titik temu antar lapisan batuan. Pada lokasi tersebut, terdapat kekurangan dalam bentuk batuan gampang ter-abrasi atau rekahan. Sehingga, air mudah mengerosi dan membentuk pemikiran sungai.





 



Sungai Resekuen





Sungai resekuen adalah anak sungai dari sungai subsekuen. Artinya, sungai resekuen ini meningkat belakangan dibandingkan dengan sungai subsekuennya.





Sungai resekuen sama mirip sungai konsekuen karena arah fatwa mereka mengikuti jurus perlapisan batuan dan kemiringan lereng. Namun, sungai ini berada pada perlapisan yang berbeda dengan sungai konsekuen.





Seperti yang mampu dilihat pada gambar diatas, sungai resekuen bermuara pada sungai subsekuen.





 



Sungai Obsekuen





Sungai obsekuen yaitu sungai yang arah alirannya berbanding terbalik dengan jurus perlapisan batuan. Sungai seperti ini muncul saat ada escarpment yang merupakan perlapisan batuan yang tererosi.





Seperti yang mampu dilihat pada gambar diatas, kita dapat menyaksikan bahwa sungai obsekuen terbentuk pada escarpment salah satu lapisan batuan.





Kita juga mampu menyaksikan, meskipun arah alirannya berbanding terbalik dengan konsekuen dan arah perlapisan batuan, sungai ini tidak mengalir keatas. Sungai ini tetap mengalir ke kawasan yang lebih rendah dan bermuara di sungai subsekuen.





 



Sungai Insekuen





Sungai insekuen pada dasarnya yaitu sungai yang alirannya pada sebuah lereng tidak diatur oleh aspek kemiringan atau struktur perlapisan batuan yang ada.





 



Genetika Sungai yang Discordant





Berbeda dengan sungai concordant sungai yang termasuk kedalam sungai discordant adalah sungai-sungai yang tidak terlalu dipengaruhi oleh topografi yang ada disekitar sungai tersebut.





Sungai Anteseden





Sungai Anteseden




Sungai anteseden yaitu sungai yang timbul apalagi dulu daripada struktur perlapisan yang terbentuk pada alirannya. Artinya, bentang alam yang ada disekitar sungai tersebut hampir niscaya lebih muda ketimbang sungainya.





Berdasarkan gambaran diatas, terdapat 3 proses dalam pembentukan sungai anteseden





  1. Sungai mengalir secara wajar pada suatu bentang lahan yang relatif wajar
  2. Terdapat aktivitas tektonik yang signifikan di kawasan tersebut, sehingga terjadi pengangkatan wajah tanah. Terbentuklah hanging wall atau pegunungan yang memotong jalur sungai tersebut
  3. Karena kemampuan abrasi sungai yang besar lengan berkuasa, sungai tersebut berhasil memotong melalui lapisan batuan yang terangkat tersebut.




Makara, secara umum mampu disimpulkan bahwa sungai anteseden yakni sungai yang relatif tua terhadap kawasan sekitarnya dan biasanya memiliki laju erosi yang cukup tinggi.





Pada sungai anteseden, lazimnya sungai tersebut tetap memiliki teladan ajaran dendritik meskipun berada pada tempat barisan pegunungan. Seharusnya, pada kawasan pegunungan, pedoman sungai mempunyai sifat trellis alasannya adalah dipengaruhi oleh kelerengan.





Namun, sebab laju abrasi vertikal yang berpengaruh, sungai ini mampu menjaga dengan baik bentuk alirannya, tanpa terpengaruh oleh topografi tersebut. Hal inilah yang mengakibatkan sungai ini disebut sebagai sungai discordant, sebab tidak dipengaruhi oleh topografi sekitarnya.





Sungai-sungai yang berada pada pegunungan Himalaya lazimnya tergolong sebagai sungai anteseden. Sungai-sungai yang cukup populer antara lain yaitu sungai Indus, sungai Gangga, dan sungai Brahmaputra.





 



Sungai Superposed





Sungai superimposed




Sungai superposed atau superimposed yakni sungai yang terbentuk diatas suatu lapisan atau bentang alam. Seiring dengan berjalannya waktu, erosi vertikal yang disebabkan oleh sungai ini memangkas struktur tersebut sehingga sungai kian dalam dan mengalir kian jauh ke arah muara.





Dapat dilihat pada ilustrasi diatas, terdapat 3 tahap terbentuknya sungai superimposed.





  1. Terdapat lapisan batuan yang lebih resisten/berlainan daripada batuan disekitarnya
  2. Lama kelamaan, batuan tersebut tertutup oleh sedimen sehingga berada di bawah tanah. Namun, muncul sungai yang mengalir diatas struktur lapisan tersebut
  3. Seiring dengan berjalannya waktu, abrasi vertikal dari sungai mengerosi lapisan sedimen, sehingga balasannya air sungai juga mengerosi lapisan batuan resisten tersebut.




Berdasarkan penjelasan diatas, kita dapat mempesona kesimpulan bahwa sungai superimposed adalah sungai yang terbentuk lebih belakang ketimbang struktur batuannya.





Namun, daya abrasi yang tinggi dari sungai ini sukses memotong lapisan batuan yang ada, sehingga tercipta sungai seperti yang mampu kita lihat.





Artinya, sungai yang terbentuk di lapisan batuan atas (gambar 2) akan memiliki karakteristik yang sama dengan gambar 3, padahal, struktur batuannya berlainan. Nah, hal ini disebabkan oleh daya abrasi vertikal yang sangat tinggi dari sungai tersebut.





Sama mirip anteseden, sungai ini disebut discordant alasannya adalah tidak dipengaruhi oleh perlapisan batuan dan topografi yang ada disekitarnya. Justru, sungai ini yang mensugesti kawasan sekitarnya.





Contoh sungai anteseden yakni sungai Son di tempat Madhya Pradesh India.





 



Referensi





Waugh, David. Geography: an Integrated Approach. Nelson Thornes, 2009.



Sumber ty.com

Teori Apungan Benua: Pemahaman, Bukti, Dan Dampaknya


Bumi kita berisikan 6 benua yang berbeda-beda, mereka dibatasi oleh barisan pegunungan yang tinggi dan samudra yang luas. Secara sekilas, terlihat bahwa mereka tidak bergerak sama sekali bukan?





Ternyata, benua-benua tersebut bergerak teman-sahabat. Sebenarnya, bukan benuanya sih yang bergerak, namun lempeng tektonik yang ada dibawah benua tersebut.





Namun, dikala itu para mahir belum mengetahui adanya lempeng tektonik, sehingga yang dianggap bergerak ialah benua-benua itu sendiri. Inilah yang menjadi dasar dari teori apungan benua atau continental drift yang dipopulerkan oleh Alfred Wegener.





Sekarang, teori apungan benua sudah digantukan oleh teori tektonik lempeng modern yang lebih komprehensif dan saintifik.






Pengertian Teori Apungan Benua





Ilustrasi teori apungan benua




Teori apungan benua intinya yaitu sebuah teori yang menyatakan bahwa benua-benua yang ada di bumi ini tidak bersifat statis, namun senantiasa bergerak seiring dengan waktu.





Pada zaman dulu periode, semua benua di bumi tergabung kedalam satu super-benua yaitu Pangaea. Seiring dengan berjalannya waktu, super-benua ini pecah menjadi Gondwana dan Laurasia. Kedua benua ini juga kelak akan berubah menjadi benua-benua yang sekarang kita kenal.





Teori apungan benua menerangkan bahwa seiring dengan berjalannya waktu, benua-benua yang ada di dunia akan terus bergerak. Mereka akan senantiasa menyatu dan terpecah lagi, menciptakan benua dan super-benua gres.





Namun, pada masa permulaan ini, belum dimengerti argumentasi apa yang menimbulkan benua-benua tersebut dapat bergerak. Pergerakan yang ternyata disebabkan oleh arus konveksi di mantel bumi ini gres ditemukan dan dijelaskan lebih lanjut pada teori tektonik lempeng terbaru.





 



Sejarah Teori Apungan Benua





Teori apungan benua berawal dari observasi Abraham Ortelius (1596), Christoph Lilienthal (1756), Alexander von Humboldt (1801 dan 1845), Antonio Snider – Pellegrini (1858) dan beberapa ilmuwan yang lain.





Mereka memperoleh bahwa ternyata, bentuk benua Afrika dan Amerika Selatan sangat mirip bagaikan suatu puzzle. Mereka berspekulasi bahwa kedua benua tersebut mulanya tergabung, namun terpecah sebab gampa bumi atau petaka yang lain.





Pandangan ini dilanjutkan oleh Alfred Russel Wallace yang pada tahun 1889 menyatakan bahwa permukaan bumi memang sangat dinamis dan senantiasa berubah seiring dengan berjalannya waktu.





Wallace mengutip Charles Lyell yang pernah mengatakan bahwa walaupun benua-benua tampakstatis, pada zaman geologi yang panjang, mereka dapat berganti seiring dengan waktu.





Namun, pandangan ini ditentang oleh James Dwight Dana yang pada tahun 1849 menyatakan bahwa benua-benua yang ada di dunia ini telah ditetapkan dari permulaan. Tidak ada pergeseran-pergeseran besar di dunia, hanya pergeseran kecil seperti sedimentasi dan pengikisan, tidak ada perubahan benua. Teori ini dikenal sebagai Permanence Theory.





Dana yang merupakan figur besar di dunia geologi dan mineralogi Amerika Serikat tentu saja sukses membuat orang-orang mewaspadai pandangan-persepsi bahwa benua bisa bergerak.





Alfred Wegener






Alfred wegener merupakan pemrakarsa dari teori apungan benua ini

Meskipun terdapat beberapa ilmuwan yang menggagas desain ini sebelum Wegener, rancangan apungan benua yang dibawakan oleh Wegener dalam risetnya ialah yang paling komprehensif dan mampu dipercayai orang banyak. Namun, ada satu hal yang kurang, Wegener bukanlah ialah seorang geologist.







Selain bukti yang dirasa kurang meyakinkan, hal inilah yang menjadi penyebab banyak ilmuwan di ranah keilmuan geofisika dan geologi yang menolak persepsi Wegener. Mereka lebih oke dengan persepsi Dana mengenai permanence theory bahwa tidak terjadi pergerakan benua-benua di bumi ini.





Faktor-faktor yang menjadikan teori apungan benua memiliki dapat dipercaya rendah pada ketika itu adalah tidak ditemukannya gaya yang mampu menggerakkan benua dan laju kecepatan benua yang dianggap terlalu tinggi.





Saat itu, ilmu perihal struktur bumi belum terlalu maju, oleh alasannya adalah itu, mereka belum mampu mendapatkan arus konveksi mantel yang sekarang diduga menjadi penggerak lempeng tektonik. Anggapan ketika itu yaitu benua-benua terlalu berat untuk bergerak, sehingga sukar menemukan gaya yang mampu mendorongnya dengan baik.





Selain itu, fikiran bahwa benua-benua bergerak sekitar 250 cm/tahun oleh Wegener dirasa terlalu tinggi. Jika benar seperti itu, maka perubahannya dapat dicicipi oleh pengamat yang ada di pantai, atau setidaknya oleh petugas mercusuar pantai.





Saat ini, disepakati bahwa laju pergerakan lempeng-lempeng tektonik di seluruh dunia hanya sekitar 2,5 cm per tahun. 10x lebih kecil dari prediksi awal Wegener yakni 250 cm/tahun.





Seiring dengan berjalannya waktu, didapatkan fakta-fakta gres tentang pergerakan benua-benua oleh beberapa ilmuwan antara lain Vening Meniesz, Umbgrove, Holmes, dan Harry Hess.





Ilmuwan-ilmuwan ini berhasil mendapatkan bahwa ternyata memang benar benua-benua bergerak sesuai prediksi Wegener. Merekalah yang menjadi penggerak teori tektonik lempeng modern yang sekarang kita pelajari tolong-menolong.





 



Bukti yang Memperkuat Teori Apungan Benua





Persebaran fosil-fosil merupakan bukti yang sangat kuat bahwa benua-benua yang ada di dunia ini senantiasa bergerak




Secara umum, bukti-bukti yang memperkuat dugaan bahwa benua-benua yang ada di dunia ini bergerak sebenarnya lumayan banyak. Namun, yang paling besar lengan berkuasa yaitu





  • Kesamaan fossil hewan dan flora di pesisir benua-benua yang berlainan. Contohnya adalah mesosaurus yang didapatkan di Brazil dan Afrika
  • Kesamaan bentuk pesisir pantai Amerika Selatan dan Afrika. Hal ini mendorong dugaan bahwa dahulu kedua benua ini tergabung dan mengalami pemisahan seiring dengan berjalannya waktu
  • Tersebarnya sedimen gletser permo-carboniferous di Amerika Selatan, Afrika, Madagascar, Jazirah Arab, India, Antarktika, dan Australia. Hal ini memperlihatkan bahwa pada zaman dahulu, daerah-daerah tersebut menyatu.
  • Adanya deposit watu bara di daerah lintang tinggi dan kutub, padahal daerah ini tidak memungkinkan adanya hutan lebat. Artinya, mereka dahulu tidak berada pada lokasi tersebut, melainkan di kawasan tropis.




Berdasarkan poin-poin diatas, kita mampu mengklasifikasikan bukti-bukti yang memperkuat teori apungan benua menjadi tiga adalah bukti klimatik, geologik, dan biologis. Berikut ini yaitu penjabarannya.





Bukti Klimatik





Bukti klimatik terkuat dari apungan benua ialah keberadaan deposit kerikil bara di tempat kutub dan lintang tinggi. Padahal, kita tahu bahwa proses terbentuknya kerikil bara memerlukan hutan-hutan lebat, yang tentu saja tidak tumbuh di kawasan kutub dan lintang tinggi.





Oleh sebab itu, berpengaruh prasangka bahwa daerah-daerah ini pernah berada di tempat tropis atau subtropis. Sehingga mampu terbentuk batu bara di lokasi tersebut.





Namun, pergerakan benua-benua menggeser mereka ke posisi mereka sekarang, yakni di kawasan kutub dan lintang tinggi. Hal ini sejalan dengan perkiraan dari teori apungan benua bahwa benua-benua bisa bergerak.





 



Bukti Geologis





Secara geologis, bukti paling kuatnya adalah terdapat kesamaan-kesamaan endapan sedimen dan struktur lapisan batuan di lokasi-lokasi yang berjauhan. Oleh karena itu, logis untuk berpendapat bahwa pada zaman dulu, tempat-tempat ini tergabung.





Contoh paling mudahnya yakni adanya sedimen gletser permo-carboniferous di Amerika Selatan, Afrika, Madagascar, Jazirah Arab, India, Antarktika, dan Australia.





Diduga, dahulu daerah-tempat tersebut tergabung kedalam satu benua yang lebih besar dan berada di lokasi yang serupa. Kini, kita mengetahui bahwa benua tersebut yaitu benua Gondwana.





Selain itu, coba perhatikan barisan pegunungan di Amerika Serikat. pegunungan Appalachian dan Adirondacks di pantai timur Amerika tiba-datang menghilang di daerah Newfoundland.





Namun, kita dapat mendapatkan barisan pegunungan dengan karakteristik yang cukup sama di tempat Greenland, Inggris, Norwegia, dan Swedia. Hal ini menunjukkan bahwa pada zaman dulu, mereka ialah baris pegunungan yang sama.





 



Bukti Biologis





Bukti biologis dari adanya pergerakan benua yaitu ditemukannya fossil binatang yang sama namun lokasi penemuannya berjauhan, sampai beda benua. Hal ini memberikan bahwa pada zaman dulu, benua tersebut menyatu dengan benua lain, atau setidaknya dihubungkan oleh daratan.





Berikut ini adalah teladan-pola fossil hewan maupun tumbuhan yang didapatkan di banyak sekali daerah yang berjauhan. Untuk membuat lebih mudah visualisasi, mampu kalian bisa merujuk pada gambaran diatas.





  • Fossil Cynognathus didapatkan di Amerika Selatan dan Afrika. Hewan ini merupakan reptil yang hidup sekitar 240 juta tahun silam
  • Fossil Mesosaurus ditemukan di Amerika Selatan dan Afrika. Hewan ini ialah reptil air tawar yang hidup di danau, rawa, dan sungai-sungai sekitar 260 juta tahun yang kemudian
  • Fossil Lystrosaurus ditemukan di Afrika, India, dan Antarktika. Hewan ini merupakan reptil yang hidup sekitar 240 juta tahun yang lalu
  • Fossil Clossopteris didapatkan di Afrika, Amerika Selatan, Australia, Antarktika, dan India. Tanaman ini merupakan sejenis pakis yang hidup sekitar 260 juta tahun silam




Ditemukannya berbagai fossil hewan dan tanaman yang serupa di berbagai bagian dunia ini menawarkan bahwa pada zaman dahuku, mereka hidup di satu daratan. Daratan inilah yang kita kenal selaku super-benua Pangaea.





 



Dampak





Terbentuknya pegunungan merupakan dampak langsung dari terjadinya continental drift




Secara biasa , dicetuskannya teori apungan benua menghasilkan beberapa pengaruh besar. Namun, kita harus mengklasifikasikan imbas ini kedalam 2 klasifikasi. Dampak dari teori apungan benua, dan pengaruh dari apungan benua itu sendiri.





Dampak dari Teori Apungan Benua





Terdapat dua dampak besar dari dicetuskannya teori apungan benua ialah





  • Muncul pikiran bahwa permukaan bumi akan senantiasa berganti seiring dengan berjalannya waktu
  • Meningkatkan minat observasi geofisika pada masanya dan mendorong perkembangan sains tektonik




Dahulu, orang-orang tidak percaya bahwa benua-benua yang ada di dunia senantiasa bergerak. Padahal, bukti-buktinya telah lumayan banyak pada zaman itu. Hal ini menimbulkan ilmu wawasan tektonik dan geofisik mengalami keterbelakangan.





Pencetusan teori apungan benua oleh Wegener dan penerus-penerusnya berhasil membuat para geofisikawan berfikir dan berkontemplasi. Awalnya, Wegener dicaci maki oleh para geofisikawan dan geologist alasannya adalah dianggap abnormal dan aneh.





Namun, observasi lanjutan oleh mahir-ahli mirip Vening Meinez dan Harry Hess turut memperkuat keabsahan teori apungan benua. Sehingga risikonya, diakui bahwa memang benar benua-benua di bumi ini selalu bergerak.





Seiring dengan berjalannya waktu, teori ini bertransformasi menjadi teori tektonik lempeng modern yang kita kenal dan pelajari di sekolah-sekolah.





 



Dampak dari Apungan Benua





Kita telah bahas efek dari teori apungan benuanya, kini kita akan diskusikan imbas dari apungan benua itu sendiri.





  • Menciptakan pegunungan-pegunungan
  • Mempengaruhi luas bahari dan samudera
  • Mempengaruhi iklim setempat




Seiring dengan pergerakan benua-benua di dunia, terkadang pasti akan terjadi tabrakan. Hal ini mampu menimbulkan terbentuknya pegunungan-pegunungan. Contoh yang paling terperinci yakni pegunungan Himalaya yang disebabkan oleh gesekan antara India dengan Eurasia, lebih tepatnya Tibet dan China.





Karena benua terus bergerak, maka luas lautan dan samudera juga akan berganti-ubah seiring dengan pergerakan tersebut. Kalau kedua benua saling bergerak mendekat, maka samudera yang ada diantara kedua benua itu akan menjadi makin mengecil. Begitu juga jikalau terjadi sebaliknya.





Tentu saja pergerakan benua ini akan mempunyai dampak pada iklim lokal yang ada di daerah tersebut. Karena, keberadaan laut dan daratan ialah salah satu faktor yang mempengaruhi iklim dan cuaca.





Semakin banyak tubuh perairan, maka suhu akan makin stabil, sedangkan kian banyak daratan di sebuah lokasi, suhu akan kian tidak stabil. Daerah yang murni daratan mirip gurun Sahara bisa merasakan suhu yang sangat panas di siang hari namun sungguh hambar di malam hari.



Sumber ty.com

Rabu, 02 September 2020

Pegunungan Sirkum Pasifik Dan Sirkum Mediterania


Bumi kita mempunyai 2 baris pegunungan utama yang membentuk barisan pegunungan-pegunungan besar. Kedua barisan pegunungan tersebut ialah sirkum pasifik yang meliputi daerah Asia-Pasifik dan sirkum mediterania yang mencakup kawasan Asia-Eropa.






Pegunungn Sirkum Pasifik





Pegunungan Sirkum Pasifik atau lebih dikenal sebagai pacific ring of fire adalah sebuah barisan pegunungan yang sangat aktif secara tektonis maupun vulkanis
Pegunungan Sirkum Pasifik atau lebih diketahui selaku pacific ring of fire adalah suatu barisan pegunungan yang sungguh aktif secara tektonis maupun vulkanis




Pegunungan sirkum pasifik yakni barisan pegunungan yang ada di benua Amerika dan Asia. Barisan pegunungan ini terhampar dari pegunungan Andes di Amerika Selatan, melewati barisan pegunungan Central American Volcanic Arc di Amerika Tengah, hingga ke pegunungan Sierra Madre di Meksiko, dan Rocky di Amerika Utara.





Setelah melewati pegunungan Rocky, barisan sirkum pasifik kemudian melalui kepulauan Aleut dan memasuki kepulauan Jepang. Seperti yang kita pahami, Jepang merupakan negara yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung. Daerah ini mempunyai aneka macam gunung dan gunung api, serta kegiatan tektonik lempeng yang sangat aktif.





Setelah melalui Jepang, pegunungan sirkum pasifik juga melewati Filipina yang lagi-lagi ialah negara bergunung dengan salah satu gunung api besar asia Pinatubo. Setelah melewati Filipina, sirkum pasifik masuk ke kawasan Indonesia adalah Sulawesi, Maluku, pulau Halmahera, Papua, dan Selandia Baru. Sirkum pasifik pada akhirnya selsai di kutub Selatan.





Berikut ini adalah rute pegunungan sirkum pasifik secara ringkas





Pegunungan Andes – Central American Volcanic Arc mesoamerika – Sierra Madre – Pegunungan Rocky – Kepulauan Aleut – Jepang – Filipina – Sulawesi – Papua – Selandia BaruAntarktika





Nah, sesungguhnya, jika kita lihat pada ilustrasi pacific ring of fire atau sirkum pasifik diatas, terdapat busur lain yang menjadi bab dari sirkum pasifik. Busur tersebut bergerak dari Filipina ke Sumatera dan bergabung dengan sirkum mediterania hingga risikonya berjumpa lagi di Papua.





Namun, secara umum, pegunungan di Sumatera dan Jawa dianggap masuk kedalam sirkum mediterania karena dipengaruhi oleh pergerakan lempeng Indo Australia dan Eurasia, bukan lempeng Pasifik dan Indo-Australia.





Pegunungan sirkum pasifik identik dengan kawasan-kawasan yang mempunyai acara tektonik dan fenomena gempa bumi serta letusan gunung api yang tinggi.





 



Proses Terbentuknya Sirkum Pasifik





EarthWord–Subduction
Fenomena subduksi melibatkan lempeng samudera yang menujam kebawah lempeng benua (USGS)




Sirkum pasifik terbentuk sebab adanya tektonik lempeng yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng. Pegunungan di sirkum pasifik terbentuk karena aksi subduksi lempeng, dimana lempeng samudra menujam dibawah lempeng benua.





Subduksi terjadi saat terjadi gesekan antara lempeng samudra dan lempeng benua. lempeng samudra yang mempunyai berat jenis lebih tinggi dari lempeng benua akan condong menghujam kebawah lempeng benua.





Lempeng benua yang terangkat ini lalu akan mengalami pelipatan, membentuk gunung dan bukit. Sedangkan, lempeng samudra yang ada dibawah condong akan meleleh, menjadi magma di kerak bumi bab dalam atau mantel atas.





Fenomena diatas menjadikan terbentuknya pegunungan lipatan, subduksi juga kerap menjadikan vulkanisme dan aktivitas tektonis yang lain mirip gempa bumi. Oleh karena itu, sirkum pasifik juga diketahui selaku pacific ring of fire. Sebuah daerah dengan kegiatan vulkanik dan tektonik yang sungguh tinggi.





Pada kasus sirkum pasifik, lempeng yang menimbulkan terjadinya lipatan dan vulkanisme yakni lempeng Nazca, lempeng Pasifik, dan lempeng Indo-Australia. Pada perkara sirkum pasifik, lempeng Eurasia tidak memegang peranan yang besar dalam membentuk barisan-barisan pegunungan yang ada.





 



Gunung-gunung yang termasuk kedalam Sirkum Pasifik





Pegunungan Jayawijaya di Indonesia merupakan salah satu dari pegunungan yang ada pada Sirkum Pasifik
Pegunungan Jayawijaya di Indonesia merupakan salah satu dari pegunungan yang ada pada Sirkum Pasifik




Berikut ini yaitu beberapa gunung-gunung yang tergolong kedalam pegunungan sirkum pasifik





  • Gunung Fuji (Jepang)
  • Gunung Erebus (Antarktika)
  • Gunung Andes (Peru)
  • Gunung Pinatubo (Filipina)
  • Gunung Ojos del Salado
  • Gunung Lokon
  • Gunung Ruapehu
  • Gunung St.Helens
  • Pegunungan Sierra Madre (Mexico)
  • Pegunungan Central American Volcanic Arc (Nicaragua, Costa Rica, dan negara amerika tengah lainnya)
  • Gunung Aconcagua (Amerika Selatan)
  • Gunung Denali (Alaska)
  • Pegunungan Rantemario (Indonesia)
  • Pegunungan Jayawijaya (Indonesia)




Jika kita perhatikan, lebih banyak didominasi gunung-gunung ini ialah gunung api yang aktif atau pernah aktif pada zamannya. Selain itu, terdapat pula gunung-gunung tinggi yang kerap dianggap sebagai saalah satu dari seven summits ialah gunung Denali, Aconcagua, dan Puncak Jaya di Jayawijaya.





 



Negara-Negara yang Dilewati oleh Pegunungan Sirkum Pasifik





Jika kita amati peta persebaran Ring of Fire diatas, maka kita dapat mempesona kesimpulan bahwa negara-negara ini dilewati oleh pegunungan sirkum mediterania.





  • Selandia Baru
  • Indonesia
  • Filipina
  • Jepang
  • Taiwan
  • Amerika Serikat
  • Canada
  • Mexico
  • Chile
  • Peru
  • Ecuador
  • Costa Rica
  • Guatemala
  • Nicaragua




Jika kita amati, ternyata ada 2 negara ASEAN yang masuk yaitu Indonesia dan Filipina. Selain itu, mayoritas negara-negara ini berada di benua Amerika, Asia bagian Timur, ataupun Oseania.





 



Pegunungan Sirkum Mediterania





Sirkum mediterania atau kerap disebut sebagai alpide himalayan belt merupakan barisan pegunungan yang membentang dari Eropa-Afrika Utara hingga Asia Tenggara
Sirkum mediterania atau kerap disebut sebagai alpide himalayan belt ialah barisan pegunungan yang membentang dari Eropa-Afrika Utara hingga Asia Tenggara




Pegunungan sirkum mediterania ialah barisan pegunungan yang ada di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Afrika Utara. Pegunungan yang kerap disebut selaku Alpide-Himalaya belt ini ialah pegunungan muda pula, sama mirip sirkum pasifik.





Pegunungan ini membentang dari pegunungan Cantabria di Spanyol, menuju Alps di utara Italia, Dinaric Alps di semenanjung Balkan, sampai pegunungan Crimea di Krimea. Seluruh pegunungan ini berada di benua Eropa.





Barisan pegunungan ini berlanjut ke Timur Tengah atau Asia Kecil dengan pegunungan Caucasus di perbatasan antara Eropa dan Asia, Taurus dan Zagros di Turki, Hindu Kush di Afghanistan, Kun Lun serta Himalaya di India dan China, hingga pegunungan Titiwangsa di semenanjung Malaya dan Bukit Barisan di Indonesia.





Pegunungan sirkum mediterania juga meliputi kawasan Afrika Utara, yakni di pegunungan Atlas dan Rif.





Berikut ini adalah rute pegunungan Sirkum mediterania secara ringkas





Cantabria – Alps – Dinaric Alps – Tauros – Zagros – Hindu Kush – Himalaya – Titiwangsa – Bukit Barisan – Pegunungan di Jawa (Jalur Eropa-Asia)





Rif – Atlas – Dinaric Alps (Jalur Afrika Utara -Eropa)





Secara biasa , pegunungan sirkum mediterania tidak memiliki karakteristik vulkanisme dan tektonisme tinggi mirip sirkum pasifik. Namun, tetap saja zona sirkum mediterania ialah zona dengan tingkat tektonisme tertinggi kedua di dunia, setelah sirkum pasifik.





 



Proses Terbentuknya Sirkum Mediterania





llustrasi fenomena kolisi antara lempeng Indo Australia dan Eurasia yang menyebabkan terbentuknya pegunungan Himalaya
llustrasi fenomena kolisi antara lempeng Indo Australia dan Eurasia yang menyebabkan terbentuknya pegunungan Himalaya (USGS)




Secara biasa , sama dengan pegunungan yang ada di sirkum pasifik, pegunungan yang terdapat di sirkum mediterania juga disebabkan oleh tabrakan antar lempeng. Namun, di sirkum mediterania, tabrakan umumnya terjadi antar lempeng benua, sehingga terjadi kolisi bukan subduksi.





Hal ini mengakibatkan gunung-gunung yang terbentuk di sirkum mediterania umumnya berbentukgunung biasa, bukan gunung api. Selain itu, alasannya adalah tidak terjadi subduksi, kegiatan vulkanik dan tektonik yang ada di kawasan ini juga jauh lebih rendah daripada sirkum pasifik.





Secara umum, kolisi yaitu keadaan ketika tidak ada lempeng yang menghujam dibawah lempeng lainnya. Sehingga, hasil tabrakannya adalah melesak ke atas, dan keduanya melipat ke atas. Karena tidak ada yang menghujam kebawah, maka tidak ada lempeng yang meleleh, sehingga tidak terbentuk magma.





Contoh paling baik dari pegunungan yang disebabkan oleh kolisi ini adalah pegunungan Himalaya. Gunung ini disebabkan oleh lempeng Indo Australia (india) yang menabrak lempeng Eurasia (China/Tibet). Masing-masing ialah lempeng benua, sehingga tidak terjadi subduksi melainkan kolisi.





 



Gunung-gunung yang termasuk kedalam Sirkum Mediterania





Gunung Everest di pegunungan Himalaya merupakan gunung tertinggi di dunia dan merupakan bagian dari pegunungan sirkum mediterania
Gunung Everest di pegunungan Himalaya merupakan gunung tertinggi di dunia dan ialah bab dari pegunungan sirkum mediterania




Berikut ini yaitu gunung-gunung yang termasuk kedalam pegunungan sirkum mediterania





  • Everest (Tibet)
  • Pegunungan Atlas (Afrika Utara)
  • Pegunungan Pyrennes (Prancis, Spanyol)
  • Pegunungan Alps (Eropa)
  • Mont Blanc (Swiss, Prancis, Italia)
  • Pegunungan Tauros (Turki)
  • Pegunungan Zagros (Turki)
  • Gunung Elbrus (Caucasus)
  • Pegunungan Hindu Kush
  • Pegunungan Titiwangsa (Semenanjung Malaya)
  • Gunung Etna (Italia)
  • Gunung Tambora (Indonesia)
  • Gunung Kelimutu (Indonesia)
  • Gunung Krakatau (Indonesia)
  • Gunung Merapi (Indonesia)
  • Gunung Rinjani (Indonesia)
  • Gunung Kelud (Indonesia)
  • Gunung Sinabung (Indonesia)
  • Gunung Kelimutu (Indonesia)




Dari gunung-gunung diatas, terdapat beberapa gunung yang dianggap paling tinggi dan masuk kedalam seven summits. Beberapa diantaranya ialah gunung Everest, Elbrus, dan Mont Blanc yang dianggap sebagai gunung-gunung tertinggi diwilayahnya.





 



Negara-Negara yang Dilewati oleh Pegunungan Sirkum Mediterania





Jika kita amati peta persebaran Alpide Himalayan Belt diatas, maka kita mampu mempesona kesimpulan bahwa negara-negara ini dilewati oleh pegunungan sirkum mediterania.





  • Spanyol
  • Maroko
  • Portugal
  • Prancis
  • Italia
  • Swiss
  • Austria
  • Algeria
  • Yunani
  • Turki
  • Makedonia
  • Russia (bab selatan, di daerah Caucasus)
  • Iran
  • India
  • Pakistan
  • Tibet
  • Myanmar
  • Indonesia
  • Thailand




Ternyata, cukup banyak ya tempat yang dilewati oleh barisan pegunungan ini. Bahkan, ada tiga negara ASEAN yang dilewati yaitu Myanmar, Indonesia, dan Thailand. Selain itu, lebih banyak didominasi negara-negara ini terletak di benua Eropa, Afrika bab Utara, dan Asia bab Barat.





 



Perbedaan Antara Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania





Ilustrasi peta pergerakan lempeng dunia
Ilustrasi peta pergerakan lempeng dunia




Diatas kita sudah banyak membicarakan perihal karakteristik pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania. Sebelum membahas perihal perbedaan, mungkin kita mesti merangkum dahulu, apa persamaan dari kedua barisan pegunungan tersebut.





Berikut ini ialah kesamaan-kesamaan yang ada pada barisan pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania





  • Sama sama merupakan zona yang aktif secara tektonis dan vulkanis
  • Sama sama ialah barisan pegunungan muda
  • Sama sama merupakan barisan pegunungan lipatan
  • Sama sama disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik




Berikut ini yaitu perbedaan dari pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania





  • Jalurnya berlawanan, sirkum pasifik berawal dari Amerika Selatan dan rampung di Antarktika sedangkan sirkum mediterania di Spanyol dan selsai di sekitar Indonesia Timur
  • Lokasinya berlainan, sirkum pasifik berada di Asia-Amerika sedangkan sirkum mediterania berada di Asia-Eropa
  • Lempeng yang mempengaruhinya berlawanan, sirkum pasifik dipengaruhi lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia, sedangkan sirkum mediterania dipengaruhi lempeng Afrika, Indo-Australia, dan Eurasia.
  • Tingkat vulkanisme dan tektonismenya berlainan, sirkum pasifik jauh lebih aktif secara tektonis dan vulkanis daripada sirkum mediterania. Diduga, hal ini disebabkan alasannya adalah gerakan lempeng yang lebih aktif, didorong oleh rekahan tengah samudera




Jika kita amati diatas, sebetulnya tidak terlalu banyak perbedaan antara pegunungan sirkum pasifik dengan sirkum mediterania. Yang menjadi pembeda yakni hal-hal spesifik seperti tingkat vulkanisme, lempeng yang mempengaruhi, lokasi, serta jalur pegunungannya.





 



Pertemuan Antara Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania





Tempat pertemuan sirkum pasifik dan sirkum mediterania




Ternyata, kedua barisan pegunungan besar ini berjumpa di Indonesia sahabat-sobat, lebih tepatnya pada tempat sekitar kepulauan Maluku, maritim Banda di Indonesia bagian Timur.





Pada peta diatas, kita dapat menyaksikan zona pertemuannya pada titik pertemuan antara lempeng eurasia, lempeng Indo Australia, dan lempeng Filipina.





 



Dampak dari Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania





Secara biasa , dampak dari adanya pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania ini mirip dengan imbas-dampak yang disebabkan oleh adanya pegunungan, gunung api, dan pergerakan lempeng tektonik secara biasa .





  • Terbentuknya angin fohn pada tempat leeward pegunungan. Karena bersifat panas, angin ini dapat mengakibatkan kerusakan pada flora dan mengusik aktivitas gembala hewan ternak
  • Kaya akan barang tambang, alasannya aktivitas tektonik yang tinggi di sekeliling barisan pegunungan ini memungkinkan terjadinya pengangkatan barang tambang ke atas permukaan bumi
  • Tanah menjadi subur terjadi karena abu vulkanik dari gunung-gunung yang ada menenteng mineral dan zat hara yang lain yang menyuburkan tanah
  • Risiko rawan tragedi tinggi alasannya adalah acara vulkanik dan tektonik yang tinggi menyebabkan kesempatanterjadinya tsunami, gunung meletus, serta gempa bumi yang tinggi dibandingkan kawasan-daerah yang lain
  • Potensi sumber daya energi geotermal yang tinggi alasannya daerah yang aktif secara vulkanis lazimnya mempunyai rekahan-rekahan di kerak bumi yang mana magma mampu bergerak naik. Magma ini dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air yang nantinya akan menggerakkan turbin pada pembangkit listrik geotermal.




Oleh alasannya adalah itu, bahu-membahu suatu negara yang dilewati oleh kedua barisan pegunungan ini menerima banyak faedah dan juga banyak tantangan.





Semuanya bergantung pada bagaimana suatu negara mampu memanfaatkan faedah-manfaat yang didapatkan serta memitigasi tantangannya.





Dampak dari Negara ASEAN yang Dilewati oleh Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania





Seperti yang telah disebutkan diatas, banyak negara ASEAN dan kawasan Asia Tenggara yang dilewati oleh barisan pegunungan Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania.





Akibatnya, daerah ini menjadi kawasan yang memiliki kegiatan vulkanisme dan tektonisme yang relatif aktif ketimbang daerah-tempat disekitarnya.





Hal ini menjadikan terjadinya banyak bencana alam yang berafiliasi dengan kedua jenis tenaga endogen tersebut. Bencana yang ada antara lain yakni letusan gunung api, gempa bumi, dan kadang kala tsunami untuk tempat-kawasan pesisir.





Namun, tentu saja hal ini juga ada pengaruh positifnya. Dampak kasatmata tersebut antara lain adalah munculnya banyak barang tambang dan tenaga geotermal. Hal ini sungguh tampakdi Indonesia yang sungguh kaya akan sumber daya alam.





Selain itu, tanah-tanah di tempat ini juga menjadi sungguh subur selaku balasan dari mineral yang dikeluarkan oleh gunung api. Oleh sebab itu, negara-negara ASEAN menjadi salah satu lumbung pangan dunia, utamanya untuk komoditas padi.







Sumber ty.com

Selasa, 04 Agustus 2020

Jenis-Jenis Erosi: Korasi, Ablasi, Deflasi, Erosi Dan Eksarasi


Pengikisan atau lebih kerap diketahui selaku pengikisan ialah proses dimana suatu material terkikis dan dipindahkan ke lokasi lain. Proses ini disebabkan oleh tenaga eksogen yang bermacam-macam, bisa angin, air, ataupun es.





Erosi sendiri mempunyai banyak jenis, tergantung apa yang menyebabkan erosi tersebut dan bagaimana proses terjadinya abrasi. Secara biasa , terdapat 4 jenis pengikisan yakni korosi, ablasi, deflasi, dan eksarasi.





Pada postingan kali ini, kita akan coba membicarakan secara lebih detail jenis-jenis pengikisan yang sudah disebutkan diatas serta apa yang membedakannya.






Apa itu Erosi?





Sebelum kita belajar lebih jauh ihwal jenis-jenis erosi yang ada di kehidupan kita sehari-hari, kita mesti paham dulu apa bergotong-royong yang disebut selaku abrasi.





Seperti yang sudah disebutkan diatas, pengikisan pada dasarnya ialah sebuah abrasi dan pemindahan material padatan ke tempat lain. Aktivitas abrasi dan pemindahan ini disebabkan oleh air, angin, aktivitas fisik, es, ataupun gelombang bahari.





Perbedaan utama antara pengikisan dan pelapukan yaitu pada faktor transportasi material yang terkikis. Pada pelapukan, material yang terkikis tidak dipindahkan, sedangkan pada abrasi, material tersebut dipindahkan.





 



Jenis-Jenis Erosi





Seperti yang telah diterangkan diatas, terdapat aneka macam penyebab terjadinya erosi. Faktor-aspek penyebab abrasi ini juga mendorong proses abrasi yang berlawanan-beda pula. Jenis erosi yang terjadi di sebuah lokasi dipengaruhi oleh kedua faktor ini





Secara biasa , terdapat 4 jenis erosi adalah Deflasi, Abrasi/korasi, Ablasi, dan Eksarasi. Keempat jenis ini mempunyai karakteristik dan proses terjadi yang berlainan-beda pula.





Deflasi





Deflasi adalah salah satu jenis erosi yang umumnya ditemukan di daerah gurun




Deflasi pada dasarnya adalah pengikisan batuan atau tanah karena terpaan angin. Angin yang bergerak kencang akan bisa untuk mengikis secara perlahan kerikil-batuan yang ada di jalurnya.





Fenomena ini umumnya terjadi di kawasan pegunungan ataupun daerah gurun dimana angin bergerak dengan sungguh kencang. Salah satu contohnya ialah angin katabatik dan angin anabatik yang kerap didapatkan di gurun.





Angin fohn meskipun bergerak dengan cepat menuruni pegunungan kerap dianggap tidak dapat menjadikan deflasi. Hal ini terjadi alasannya adalah angin ini tidak memiliki kecepatan yang cukup, serta lebih banyak kuat pada proses pembentukan hujan di lereng gunung.





 



Ablasi





Ablasi yaitu fenomena abrasi tanah atau batuan oleh pergerakan air. Erosi seperti ini umumnya didapatkan di sekitar kawasan pemikiran air seperti sungai, danau ataupun dataran-dataran rendah.





Daya abrasi air sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal mirip kecepatan air dan juga bentuk permukaan serta bentang alam yang ada. Semakin terjal bentang alam tersebut, maka makin tinggi juga kecepatan air dan daya erosinya.





Erosi oleh air ini menghasilkan bentang alam tertentu yang kita kerap asosiasikan dengan gerakan air. Bentang alam tersebut antara lain yaitu lembah, jurang, ataupun ngarai.





 



Eksarasi





Eksarasi adalah erosi yang disebabkan oleh pergerakan es. Umumnya terjadi di kutub ataupun gunung-gunung




Eksarasi adalah erosi yang disebabkan oleh gerakan-gerakan lapisan es pada gletser ataupun saat es mencair. Oleh karena itu, eksarasi kerap disebut sebagai glacial erosion.





Pengikisan ini terjadi alasannya adalah gerakan-gerakan gletser es mengikis batuan yang ada di jalurnya. Semakin berat dan cepat gerakan gletser tersebut, maka makin tinggi juga daya erosinya.





Fenomena ini mampu menyebabkan bentang alam seperti fjord ataupun bentang alam glasial lainnya. Endapan-endapan glasial mirip Moraine juga merupakan hasil dari eksarasi.





 



Abrasi atau Korasi





Korasi atau kerap disebut juga sebagai abrasi pada dasarnya ialah pengikisan yang disebabkan oleh angin atau air yang menjinjing material-material padat. Material ini dapat berupa butiran pasir, tanah, atau batuan yang lain.





Ketika angin atau air tersebut menerpa batuan, material-material yang terbawa akan mengikis batuan tersebut. Kemudian, dikala ada material yang lepas atau pecah alasannya adalah proses pengikisan ini, material tersebut akan dibawa kembali oleh angin atau air selaku material bawaan.





Seiring dengan banyaknya material yang dibawa oleh angin/air, maka akan semakin tinggi pula daya erosinya. Namun, jika terlampau banyak material yang dibawa dan kecepatan angin/air tidak cukup, maka material tersebut akan dijatuhkan dalam proses deposisi dan sedimentasi.





Fenomena ini kerap kita lihat di gurun-gurun dimana angin yang bergerak sangat cepat kerap menenteng partikel-partikel pasir kecil. Ketika angin tersebut menabrak batuan, maka partikel-partikel ini akan bergesekan dengan batuan tersebut. Lama kelamaan, batuan tersebut akan terkikis oleh partikel-partikel pasir ini.





Fenomena ini juga kerap kita peroleh pada kawasan pesisir pantai dan tebing-tebing dimana ombak yang memukul pesisir pantai membawa batuan-batuan kecil atau pasir. Disini, keduanya berperan besar dalam melemahkan dan mengikis tebing tersebut.





Ketika tebing tersebut retak dan terpecah menjadi batuan-batuan kecil, batuan tersebut juga akan ikut mengikis tebing yang belum terkikis. Oleh alasannya adalah itu, semakin banyak material yang dimiliki oleh air dan kian besar lengan berkuasa gelombang, maka kian tinggi pula daya erosinya.





 



Perbedaan Antara Korasi, Ablasi, Eksarasi, Deflasi, dan Abrasi





Perbedaan utama antara Korasi, Ablasi, Eksarasi, Deflasi, dan Abrasi adalah siapa yang meng erosi dan bagaimana proses erosi tersebut bisa terjadi




Perbedaan utama antara korasi, ablasi, eksarasi dan pengikisan yakni pada siapa yang mengerosi dan proses apa yang terjadi. Pada korasi dan abrasi, yang mengerosi bukanlah angin/air/es, tetapi justru material-material kecil yang dibawa oleh biro pengikisan tersebut.





Sedangkan, pada eksarasi, ablasi, dan deflasi, abrasi yang terjadi pada sebuah batuan/material disebabkan secara pribadi oleh salah satu dari ketiga agen erosional tersebut. Agen pengikisan disini yaitu angin, air, dan es.





Bagaimana, telah cukup terperinci bukan perbedaan-perbedaan antara jenis-jenis pengikisan diatas! Lain kali, jangan sampai salah menggunakan istilahnya lagi ya!





 



Referensi





Erosion – Encyclopedia Britannica



Sumber ty.com

Minggu, 02 Agustus 2020

Paham Fisis Determinis Dan Possibilisme Dalam Geografi


Fisis determinis dan possibilisme adalah 2 sudut pandang filosofis yang kerap digunakan oleh geografer dalam memandang kekerabatan antara manusia dan lingkungan.





Disini, insan dan alam dipandang sebagai 2 subjek yang berbeda dan memiliki kekuatan yang berlainan beda pula. Seberapa besar lengan berkuasa 1 subjek dalam menghipnotis subjek yang lain bergantung terhadap paham apa yang dianut oleh geografer tersebut.






Fisis Determinisme





Paham Fisis Determinisme




Fisis determinisme ialah pengertian geografis yang menyatakan bahwa semua kehidupan insan dipengaruhi dan bergantung pada lingkungan sekitarnya.





Disini, insan dianggap dipengaruhi oleh kondisi alam sekitar dan menerima saja apa adanya. Atau, dengan kata lain, manusia tidak bisa memilih jalur hidupnya dan hidupnya diputuskan oleh keadaan alam sekitar.





Umumnya, geografer yang menganut paham fisis determinis menyatakan bahwa insan dan aktivitas-aktivitas insan harus senantiasa ditempatkan sesuai dengan teladan alam yang ada disekitarnya.





Secara biasa kita mampu merangkum paham fisis determinisme kedalam beberapa nilai sebagai berikut





  • Manusia dipengaruhi oleh alam sekitarnya
  • Manusia tidak mampu menang melawan kekuatan alam yang lebih kuat
  • Aktivitas insan mampu diterangkan dengan mengerti lingkungan sekitarnya




Disini, bintang film terutama yakni lingkungan sekitarnya, sedangkan manusia dianggap tidak berdaya untuk mengubah lingkungannya.





Pencetus Fisis Determinisme





Beberapa pakar yang menganut konsep fisis determinis antara lain ialah Aristoteles, Carl Ritter, Charles Darwin, Ellesworth Huntington, Alexander von Humboldt, dan Friedrich Ratzel.





Gagasan-gagasan tentang fisis determinisme dalam geografi yang dicetuskan oleh para mahir tersebut antara lain yaitu





  • Aristoteles menyatakan bahwa perbedaan iklim di suatu daerah akan mengakibatkan perbedaan karakteristik orang-penduduknya. Contohnya yaitu penduduk Eropa yang lebih berani dari Asia alasannya adalah iklim yang lebih menantang
  • Carl Ritter menganggap bahwa bumi dan segala isinya saling berkaitan. Oleh karena itu, secara logis sebaiknya karakteristik-karakteristik insan yang ada di sebuah lokasi memiliki karakteristik yang serupa dengan lokasi dimana mereka tinggal.
  • Ellsworth Huntington menyatakan bahwa keadaan cuaca dan iklim di sebuah kawasan besar lengan berkuasa besar terhadap pola kehidupan manusia di lokasi-lokasi tersebut. Gagasan beliau akan menjadi salah satu pendorong studi iklim dan pengaruhnya pada kegiatan manusia pada abad ke 20
  • Alexander von Humboldt menganggap bumi dan segala isinya adalah sebuah organisme yang besar dan saling terhubung. Disini, Humboldt menilai bahwa segala kegiatan manusia harus selaras dengan apa yang telah ditawarkan dan ditetapkan oleh alam disekitarnya tanpa boleh mengubahnya
  • Friedrich Ratzel menyatakan bahwa pola kehidupan insan diputuskan oleh aspek-aspek eksternal yang kelak akan menjadi determining factor. Gagasan dia kelak akan bertransformasi menjadi Lebensraum dimana budaya yang berpengaruh akan menghipnotis dan mengasimilasi budaya-budaya disekitarnya yang lemah.
  • Charles Darwin dalam teori seleksi alamnya menyatakan bahwa lingkungan akan menseleksi makhluk hidup yang paling berpengaruh sehingga makhluk hidup akan menyesuaikan diri biar bisa hidup di lingkungannya.




Secara lazim, para mahir ini menyatakan bahwa setiap aktivitas yang dijalankan manusia tidak mungkin lepas dari dampak alam disekitarnya. Selain itu, insan juga tidak cukup besar lengan berkuasa untuk mengalahkan alam, sehingga harus beradaptasi untuk bertahan hidup.





 



Contoh Penerapan Fisis Determinis





Seperti yang sudah kita ketahui diatas, fisis determinisme banyak membicarakan tentang bagaimana alam mempengaruhi acara insan. Berikut ini beberapa pola tentang aktivitas manusia yang terpengaruh oleh alam





Pertanian Hanya Berkembang di Daerah Subur





Pertanian yang terletak di daerah subur adalah contoh fisis determinis




Salah satu contoh fisis determinis yang paling gampang untuk diamati yaitu pada acara pertanian zaman dulu. Aktivitas ini cuma akan didapatkan di kawasan-daerah yang mempunyai tanah subur dan memiliki susukan irigasi yang baik.





Contohnya yaitu kawasan-tempat sekitar sungai, kawasan tropis yang memiliki curah hujan tinggi, serta daerah-tempat lain yang memiliki tanah-tanah subur.





Hal ini terjadi alasannya saat itu, insan tidak mampu membangun proyek besar yang dapat mengganti kondisi alam disekitarnya. Semuanya masih dikerjakan secara tradisional dan memanfaatkan alat-alat yang seadanya.





Sekarang, manusia mampu membangun bendungan untuk mengairi daerah yang kering. Mengembangkan pupuk dan rekayasa genetika untuk membuat flora yang tahan kering dan mampu hidup di tanah tandus. Manusia juga sudah mampu membangun susukan-terusan irigasi skala besar untuk mengairi lebih banyak sawah dari sebelumnya.





 



Kota-Kota Besar Terletak di Daerah yang Kaya akan Air





Seperti yang kita pahami, air ialah salah satu sumber daya alam yang sangat penting bagi keberlanjutan kehidupan manusia. Semua makhluk hidup membutuhkan air untuk bertahan hidup.





Oleh alasannya adalah itu, tak heran jika kota-kota besar zaman dulu senantiasa terletak di daerah yang kaya akan sumber daya air. Seperti di tempat pesisir sungai, mata air, ataupun di lereng-lereng pegunungan yang memiliki anutan air higienis.





Hal ini terjadi karena pada ketika itu sungguh sulit untuk membangun terusan air bersih dan fasilitas penyediaan air lainnya jikalau tidak terdapat sumber air yang akrab. Berbeda dengan saat ini yang telah jauh lebih maju keilmuan teknik sipilnya dan perancangan kotanya.





 



Permukiman yang Terletak di Jalur Perdagangan Berkembang dengan Sangat Cepat





Kota-kota yang muncul di jalur perdagangan adalah contoh fisis determinis




Daerah-daerah yang memiliki lokasi strategis pastinya akan memiliki pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih cepat. Hal ini terjadi alasannya mereka mampu dengan mudah melakukan perdagangan dengan pihak lain serta membeli sumber daya yang diharapkan.





Contohnya pada zaman dulu yaitu Sriwijaya yang terletak di kepulauan Nusantara. Lokasi ini sangat strategis karena menghubungkan jual beli dari kepulauan-kepulauan di Indonesia dengan para pedagang China, India, dan Arab.





Oleh karena itu, sriwijaya dapat dengan mudah mendapatkan keuntungan dari pajak jual beli. Selain itu, lapangan pekerjaan juga banyak tersedia untuk pedagang dan kru kapal.





Contoh di zaman Modern ini yakni Singapura dan Indonesia yang mempunyai lokasi strategis di antara 2 samudera dan 2 benua. Disini, mereka mampu melayani perdagangan yang berasal dari India, China, Australia, dan Amerika-Eropa.





Karena lokasi yang strategis ini, pelabuhan Tanjung Priok dan Port of Singapore menjadi salah satu pelabuhan paling sibuk di Asia Tenggara. Kedua pelabuhan ini berhasil mendorong perekonomian dan kemakmuran masyarakat di kedua negara ini.





 



Fisis Possibilisme





Fisis possibilisme




Possibilisme ialah persepsi yang menilai bahwa insan bisa mengubah alam disekitarnya supaya sesuai dengan keperluan insan. Disini, manusia tidak hanya dianggap sebagai pemain film pasif yang hanya mendapatkan nasib, mereka mampu mengubah nasib mereka.





Salah satu penggagas paham possibilisme yakni Paul Vidal de la Blache yang ialah seorang geografer Prancis dan salah satu tokoh ilmu geopolitik Prancis.





Menurutnya, insan justru mampu menghipnotis lingkungan sekitar, berlawanan dengan paham Determinisme yang menyatakan manusia sangat bergantung keadaan lingkungan.





Selain itu, alam juga dianggap cuma selaku pemberi hambatan dan tantangan. Sedangkan, insan dapat mendapatkan cara untuk menguasai alam tersebut dengan derma teknologi dan ilmu wawasan.





Secara lazim, pemikiran -ide yang diutarakan oleh paham possibilisme antara lain yaitu





  • Alam menawarkan potensi dan problem, manusia yang memanfaatkan dan menangani hal tersebut dengan kecerdikannya dan teknologi
  • Manusia tidak diperbudak oleh lingkungan sekitarnya, justru kita yang bisa mengubah lingkungan sesuka kita
  • Kondisi lingkungan cuma dianggap selaku rekomendasi, bukan paksaan dalam mengambil keputusan
  • Kecerdikan manusia dan pengembangan teknologi mampu menuntaskan semua permasalahan yang dilemparkan oleh lingkungan
  • Apa yang mungkin terjadi dan terbangun di sebuah daerah lebih banyak dipengaruhi oleh biaya tindakan tersebut ketimbang keadaan lingkungannya




This approach has been criticised on several accounts. For example, despite numerous possibilities, man, has not been able to get rid of the obstacles set by the physical forces. The possibilities may be many in the temperate regions but they are very limited in the deserts, equatorial, tundra, and high mountainous regions.





Contoh Penerapan Fisis Possibilisme





Di zaman yang modern ini, banyak hal yang dulu tidak mungkin dilaksanakan kini menjadi mungkin dijalankan. Semuanya berkat sumbangan teknologi dan ilmu wawasan insan yang selalu berkembang.





Berikut ini adalah beberapa acuan penerapan teknologi oleh insan untuk menyelesaikan permasalahan yang disebabkan oleh lingkungan disekitarnya.





Bercocok Tanam di Daerah yang Kering





Menurut fisis possibilisme, teknologi dapat mendorong manusia untuk mengubah alam




Seperti yang sudah kita pernah bahas diatas, dulu, acara bercocok tanam hanya bisa dilaksanakan di kawasan yang subur dan kaya akan air. Hal ini terjadi alasannya adalah kawasan-kawasan tersebut memiliki kondisi alam yang baik untuk menunjang aktivitas pertanian dan perkebunan.





Namun, kini disadari bahwa keperluan akan materi pangan telah sungguh tinggi, sehingga lahan pertanian dan perkebunan yang ada mesti diperluas. Oleh karena itu, lahan-lahan yang tadinya kering kurang cocok untuk pertanian mesti dibuat subur.





Hal ini dijalankan dengan cara membangun bendungan dan terusan-terusan irigasi berukuran besar untuk mengairi kawasan kering tersebut. Selain itu, diberikan juga pupuk-pupuk kimiawi dan organik lainnya untuk memperkaya komponen hara di tanah.





Dengan proses yang pajang ini, daerah yang tadinya kering dan tidak subur mampu diubah menjadi kawasan yang sangat subur dan cocok untuk kegiatan pertanian.





 



Membangun Perkotaan di Pegunungan





Pada zaman dulu, sungguh sukar membangun perkotaan jikalau tidak berada bersahabat dengan sumber air, berada di tanah yang landai, atau dekat dengan lahan yang subur.





Hal ini terjadi karena akan sungguh sulit untuk membangun tata cara air bersih, sanitasi, dan penyediaan masakan kalau tidak bersahabat dengan sumber air dan lahan yang subur. Selain itu, jika tanahnya tidak landai, maka akan mempersulit pembangunan fondasi bangunan di kota tersebut.





Oleh karena itu, pembangunan kota-kota besar di daerah pegunungan oleh negara Swiss dan Norwegia menjadi salah satu bukti teknologi dapat mengalahkan kekurangan yang diberikan oleh alam sekitar.





Kota-kota mirip Geneva, Oslo, dan Bern terletak di kawasan dataran tinggi yang mempunyai medan kurang erat. Selain itu, daerah ini juga condong susah untuk diakses dari kawasan lain.





Teknologi mirip pesawat, pipa-pipa bawah tanah, terowongan menembus gunung, dan kereta cepat memungkinkan kota-kota ini untuk terhubung terhadap jaringan kota-kota di Eropa dan diseluruh dunia.





 



Membangun Kota di Tengah-Tengah Hutan





Pembangunan kota di hutan rimba adalah salah satu contoh fisis possibilisme




Seperti yang sudah dijelaskan diawal, pada zaman dahulu, sungguh susah untuk membangun daerah perkotaan di hutan-hutan belantara. Hal ini terjadi alasannya pohon-pohon tersebut akan mempersulit penetapan fondasi bangunan dan mempersulit aksesibilitas.





Selain itu, kota-kota yang berada di tengah hutan juga kerap mengalami kesusahan untuk membuka lahan. Lahan-lahan yang nantinya mampu dijadikan kawasan pertanian untuk menghidupi para penduduk perkotaan.





Namun, dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan manusia, hal ini telah bukan menjadi dilema lagi.





Sekarang, telah ada alat-alat berat yang membantu untuk membebaskan lahan. Ada pipa-pipa dan jalan raya yang mampu menjinjing air higienis serta kuliner ke kota-kota ini. Serta ilmu konstruksi dan teknik sipil yang telah sangat mutakhir.





Dengan inovasi-penemuan ini, kota bisa dibangun dimana saja, termasuk di daerah-kawasan yang pada zaman dulu tidak bisa mendukung adanya tempat perkotaan.





Bahkan, acuan kota yang dibangun di tengah hutan sudah ada. Brasilia di Brazil dan Tembagapura di Indonesia ialah acuan kota yang dibangun di tengah hutan-hutan belantara.





 



Pandangan Neo-Determinisme





Menurut pandangan neo determinisme, alam memberi batasan namun manusia dapat memilih untuk mengikuti atau tidak batasan tersebut




Menurut geografer asal Australia, Griffith Taylor, pertumbuhan pertanian di Australia, walaupun sudah didukung oleh teknologi, tetap akan dibatasi oleh salah satu faktor iklim yang ada disana, yakni curah hujan.





Selain itu, kode-instruksi pengembangan yang sudah ada dan dikerjakan oleh Australia biasanya berpedoman pada batas-batas-batasan yang telah ditetapkan oleh alam. Kebanyakan acara yang melanggar batasan-batasan ini gagal atau dianggap tidak efektif.





Pemahaman ini dianggap selaku Neo Determinism atau kerap disebut selaku Stop-Go Determinism. Disini, dianggap bahwa manusia dapat mengganti alam disekitarnya. Namun, ongkos untuk melaksanakan itu akan tinggi, sehingga lebih baik untuk mengikuti kaidah yang sudah ditentukan oleh alam.





Secara lazim, gagasan utama dari desain neo determinisme ini adalah





  • Arahan pembangunan yang paling efektif dan efisien adalah dengan mengikuti isyarat-instruksi dan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh alam
  • Setiap tindakan untuk mengganti alam niscaya akan ada biayanya, sehingga harus dihitung dan dipikirkan apakah menguntungkan untuk melawan alam atau lebih baik mengikuti saja




Salah satu pola yang mungkin cukup baik dari Neo Determinisme ini yaitu Inggris dan beberapa negara Eropa yang mulai menetapkan sistem administrasi sungai yang mengikuti alam.





Artinya, sungai-sungai yang riskan banjir tidak akan dibendung dan dibangun benteng-benteng Levee di pinggir sungai. Hal ini terlalu mahal dan menghabiskan uang negara. Oleh karena itu, lebih baik area ini dikosongkan dan diubah menjadi kawasan konservasi dan cagar alam.





 



Referensi





The paradox in environmental determinism and possibilism – Fekadu, Kassa





The Simple Survival – Human Survival made Simple



Sumber ty.com