Tampilkan postingan dengan label Tanah Longsor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanah Longsor. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Maret 2021

Dasar-Dasar Kemantapan Lereng

Dasar-dasar Kemantapan Lereng - Didalam operasi penambangan duduk perkara Kemantapan Lereng atau Kestabilan Lereng akan diketemukan pada penggalian tambang terbuka (open pit maupun open cut), di daerah-daerah penimbunan “overburden” dan bahan buangan (tailing disposal), di jalan-jalan tambang, pemotongan dan “cover” terowongan, dan di penimbunan bijih (stockyard), bendungan bendungan untuk cadangan air kerja. Apabila lereng-lereng yang terbentuk selaku akhir dari proses penambangan (pit slope) maupun yang ialah sarana penunjang operasi penambangan (bendungan, jalan, dan lain lain) itu tidak stabil (tidak mantap) maka acara produksi akan terganggu. Oleh sebab itu sebuah analisis kemantapan lereng ialah sebuah bab yang penting untuk mencegah terjadinya gangguan gangguan terhadap kelangsungan produksi maupun terjadinya tragedi yang fatal.

Tujuan analisis kemantapan lereng yaitu sebagai berikut :
  • Mengerti perkembangan, bentuk lereng alamiah dan proses yang bertanggung jawab terhadap banyak sekali ciri alamiah. 
  • Menilai kemantapan lereng jangka pendek (sering selama konstruksi) dan jangka panjang. 
  • Menilai kemungkinan kelongsoran yang melibatkan lereng alamiah dan lereng rekayasa. 
  • Menganalisis kelongsoran dan mengetahui mekanisme kelongsoran dan dampak dari faktor lingkungan. 
  • Memungkinkan rancangan ulang dari lereng yang sudah runtuh dan mempersiapkan serta mendesain pengukuran pengobatan dan pencegahan, jika diperlukan. 
  • Mempelajari akhir pembebanan seismic terhadap lereng dan timbunan.

Kemantapan Lereng utamanya disebabkan oleh faktor hidrologi dan faktor struktur bidang lemah batuan. Masalah kemantapan lereng pada umumnya tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :
  • Lokasi, arah, frekuensi, kekuatan dan karakteristik dari bidang-bidang lemah. 
  • Keadaan tegangan alamiah dalam massa batuan/tanah. 
  • Konsentrasi setempat dari tegangan. 
  • Karakteristik mekanik dari massa batuan/tanah. 
  • Iklim utamanya jumlah hujan untuk di kawasan tropis. 
  • Geometri lereng.

Klasifikasi Gerakan Massa Tanah atau Batuan

Kemantapan Lereng atau Kestabilan Lereng sangat berafiliasi dengan gerakan massa tanah atau batuan. Gerakan tanah atau batuan menurut M.M. Purbo Hadiwidjoyo dan telah dilengkapi oleh penulis mampu diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Longsoran (sliding) 
  • Runtuhan (falling) 
  • Nendatan 
  • Amblasan (subsidence) 
  • Rayapan (creep) 
  • Aliran (flow) 
  • Gerakan kompleks

Disebut longsoran, jikalau materi yang bergerak itu seakan akan dengan tiba-tiba meluncur ke bawah. Runtuhan, bila bahan itu ibaratnya jatuh bebas, seperti massa batuan pada dinding yang curam (mendekati tegak), yang sekonyong-konyong jatuh. Kita berhadapan dengan nendatan jika tanah atau batuan yang tersangkut ialah massa yang belum terlepas dari ikatannya; jadi seakan akan masih merupakan gumpalan-gumpalan besar. Amblasan sering dapat kita saksikan pada jalan yang tadinya rata tiba-tiba menurun, entah karena di bawah ada rongga, entah sebab di bagian lain ada yang terdesak. Rayapan, yaitu gerakan massa tanah atau batuan secara perlahan lahan. Sedangkan aliran, ialah gabungan gerakan dan angkutanmassa tanah atau batuan.

1. Longsoran/Luncuran
Istilah yang paling banyak dipakai untuk merancang gerakan tanah atau batuan yang terjadi pada lereng-lereng alamiah ialah longsoran “dalam arti yang luas”. Agar pemahaman longsoran mampu diperjelas, Coates (1977) membuat daftar beberapa faktor penting yang sudah disetujui oleh 28 penulis yang sudah menyumbangkan pikirannya untuk subyek ini. Daftar tersebut yaitu selaku berikut :
  • Longsoran mewakili satu klasifikasi dan suatu fenomena included under the general heading of mass movement. 
  • Gravitasi yaitu gaya utama yang dilibatkan. 
  • Gerakan harus cukup cepat, alasannya adalah rayapan (creep) adalah begitu lambat selaku longsoran. 
  • Gerakan dapat berbentukkeruntuhan (falling), longsoran/luncuran (sliding) dan fatwa (flow). 
  • Bidang atau daerah gerakan tidak sama dengan patahan. 
  • Gerakan akan ke arah bawah dan menghasilkan bidang bebas, jadi subsidence tidak termasuk. 
  • Material yang tetap ditempat mempunyai batas yang jelas dan umumnya melibatkan hanya bab terbatas dari punggung lereng. 
  • Material yang tetap ditempat dapat meliputi sebagian dari regolith dan/ atau bedrock. 
  • Fenomena frozen ground lazimnya tidak tergolong kategori ini. 

Klasifikasi dari longsoran kebanyakan dapat didasarkan pada aspek-aspek sebagai berikut :
  • Jenis dari material 
  • Morfologi dari material 
  • Karakteristik geomekanik 
  • Kecepatan dan usang dari gerakan 
  • Bentuk dari permukaan longsoran (bidang, baji, busur) 
  • Volume yang dilibatkan 
  • Umur dari longsoran 
  • Penyebab longsoran 
  • Mekanisme longsoran

Longsoran atau luncuran dalam arti yang sebenarnya dihasilkan biasanya pada suatu material yang kurang rapuh. Gerakan ini terjadi sepanjang satu atau beberapa bidang luncuran. Gerakan ini mampu berbentukrotasi atau translasi yang tergantung pada keadaan material serta strukturnya. Kalau luncurannya merupakan rotasi, maka lazimnya akan menghasilkan longsoran busur atau bulat. Tetapi kalau gerakan ini ialah translosi, maka akan menciptakan longsoran bidang. adonan kedua gerakan ini akan menciptakan longsoran bidang dan busur. Jenis gerakan ini yang paling banyak terjadi, seperti yang dialami desa sukasari, bogor timur, pada tanggal 22 november 1992 yang kemudian dan meminta korban sembilan orang meninggal. juga di desa cikalong, tasikmalaya yang terjadi pada tanggal 11 oktober 1992 dan meminta korban 56 orang meninggal (m.m.purbo hadiwidjoyo, 1992).

2. Runtuhan (falling)
Runtuhan dapat terjadi dari bidang-bidang diskontiniu pada suatu lereng yang tegak, pada rayapan dari lapisan lunak (contohnya marl lempung) atau gulingan blok, selaku pola runtuhan yang terjadi di gunung granier en savoie pada tahun 1248 (hantz, 1988). Keruntuhan dari jurang batukapur dengan ketinggian sekitar 1.000 m, mengikuti gelinciran / longsoran dari marl dan menggerakkan sebuah volume yang sungguh besar yakni sekitar 500.000.000 m3, yang menyebar sepanjang 7 km dengan luas 20 km & membunuh ribuan penduduk.

3. Rayapan (Creep)
Rayapan merupakan gerakan yang kontinu dan relatif lambat. Kita tidak dapat melihat dengan terang bidang rayapan, contoh daerah konsumen jenis gerakan ini yakni Pangadegang di Cianjur Selatan. Disana daerah yang bergerak mencakup sekitar 100 km. Selain itu didaerah Ciamis Utara, Banjarnegara di Jawa Tengah (M.M. Purbo Hadiwidjoyo, 1992).

4. Aliran
Gerakan ini berasosiasi dengan transportasi material oleh air atau udara dan dipicu oleh gerakan longsoran sebelumnya, kecepatan gerakan mampu sangat tinggi.

Pemicu dan Pemacu Gerakan Massa Tanah atau Batuan

Kedua ungkapan "pemicu" dan "pemacu" ini dipakai oleh M.M. Purbo Hadiwidjoyo (1992). Pemicu itu misalnya ialah gempa bumi. Salah satu gerakan tanah besar yang disangka kuat dipicu oleh gempa ialah terjadi di Cianjur Selatan pada 13 Desember 1924. Gempa itu sendiri tidak bersumber di Jawa Barat. Tempat yang serupa lagi-lagi bergerak pada Desember 1964. Ketika itu sumbernya kebetulan juga ada di Jawa Barat dan kebesarannya mencapai 6 pada skala Richter. Getaran yang timbul alasannya adalah lewatnya kereta api mampu pula memicu terjadinya gerakan tanah. Hal itu rupanya sudah menimbun kereta api Jakarta-Jogyakarta di dekat Purwokerto waktu zaman revolusi 1947. Selain itu hujan juga dapat disebut selaku pemicu gerakan tanah seperti yang terjadi di jalan antara Sibolga dan Medan bulan Januari 1993.

Selain terkena picu, gerakan massa tanah atau batuan, dapat juga dipacu. Misalnya saja, lereng yang semula tahan terhadap gerakan, karena kakinya (toe) diiris untuk jalan atau untuk perumahan, hasilnya memiliki kecenderungan lebih besar untuk bergerak.

Selanjutnya Terzaghi (1950) dan Bruwsden (1979) menyatakan bahwa untuk mengklasifikasikan penyebab selaku pemicu yakni tidak bijaksana kalau peristiwa perpindahan tergantung pada kondisi dan peristiwa tersebut telah berlangsung selama beberapa hari atau beberapa minggu. Sebagai gambaran kedua penulis ini cuma mengklasifikasikan penyebab gerakan massa tanah atau batuan sebagai penyebab eksternal, internal dan variasi.

Penyebab Eksternal :
  • Perubahan geometri lereng ; pemotongan kaki lereng, erosi, pergantian sudut kemiringan, panjang, dll. 
  • Pembebasan beban ; abrasi, penggalian. 
  • Pembebanan ; penambahan material, penambahan tinggi. 
  • Shock dan vibrasi ; produksi, gempa bumi, dll 
  • Penurunan permukaan air 
  • Perubahan kelakukan air ; hujan, tekanan pori, dll.

Penyebab Internal :
  • Longsoran, progresif ; mengikuti ekspansi lateral, fissuring dan pengikisan. 
  • Pelapukan. 
  • Erosi seepage : solution, pemipaan (piping)

Secara lazim di tempat tropis seperti Indonesia, penyebab utama longsoran lereng yakni air, baik tekanan air dalam rekahan, alterasi mineral maupun abrasi dari lapisan lunak (Hantz, 1988). Selanjutnya penyebab utama lainnya diperkirakan oleh adanya kekar yang mengalami pelapukan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan penyebab dari longsoran dapat dikategorikan dalam 3 faktor geometrik, hidraulik, dan mekanik.

Metode Analisis Kemantapan Lereng

Ada beberapa metode analisis kemantapan lereng yang dapat kita gunakan dalam menganalisa gerakan massa tanah dan batuan, antara lain :
  • Metoda analitik 
  • Metoda grafik 
  • Metoda keseimbangan limit 
  • Metoda numerik (metoda unsur hingga, bagian diskret, unsur batas dan lain lain) 
  • Teori blok dan tata cara pakar
     Didalam operasi penambangan masalah Kemantapan Lereng atau Kestabilan Lereng akan diketem Dasar-dasar Kemantapan Lereng
    Gambar 1. Perbandingan Metoda Rancangan Lereng

    Tahap-tahap Pertambangan dan Sasaran Geoteknik

    Secara umum target geoteknik dalam relevansinya dengan tahapan pertambangan mampu dijelaskan sebagai berikut :

    1. Tahap Pendahuluan
    • Geologi yang luas. 
    • Mengetahui geoteknik dan air bawah tanah yang menghipnotis pertambangan. 
    • Mengetahui model geologi. 
    • Memberi petunjuk pada pemakaian tata cara pertambangan yang berbeda dan perlengkapan pada sebuah endapan. 
    • Memberi masukan geoteknik pada acara eksplorasi. 
    • Memberi petunjuk perancangan lereng. 
    • Mengetahui geoteknik dan air bawah tanah yang mempengaruhi pertambangan. 
    • Rancangan dan susunan spesifik mengenai geoteknik dan acara observasi air bawah tanah. 


    2. Tahap Pra Kelayakan
    • Geoteknik pendahuluan, sampling hidrogeologi, dan uji. 
    • Penyusunan versi dasar geoteknik untuk lokasi termasuk pengusutan eksplorasi yang didasarkan pada data geoteknik dan hidrogeologi untuk tiap massa batuan dan perkiraan awal dari parameter perancangan. 
    • Memperkirakan dampak air bawah tanah pada perancangan lereng untuk proses pengeringan pada tambang, skala pengeringan yang berpeluang, pelaksanaan, waktu dan ongkos dalam deadline yang ditentukan. 
    • Memberi perancangan lereng secara detail : open pit : + 50-100, strip mine : 100 
    • Bersama-sama dengan perencanaan tambang memberi isyarat pemilihan perlengkapan dan metoda pertambangan. 
    • Mengetahui faktor-faktor geoteknik dan hidrogeologi yang mensugesti perancangan tambang dan yang belum sesuai. 
    • Rancangan dan ongkos dari final penyelidikan yang dibutuhkan untuk tingkat studi kelayakan.


    3. Tahap Kelayakan
    • Penyelidikan geoteknik dan hidrogeologi dilakukan lebih rinci dan spesifik yang diubahsuaikan dengan alat dan metoda pertambangan. 
    • Memberi penilaian statistik pada semua parameter teknik perancangan termasuk rata-rata dan distribusi untuk semua unit geoteknik. 
    • Bersama dengan perencana tambang memutuskan faktor-faktor geoteknik yang berafiliasi dengan perancangan. 
    • Memberi perancangan lereng berdasarkan falsafah yang disetujui oleh perencana tambang dan pemilik proyek. Sudut perancangan lereng tergantung pada pengembangan tambang, dengan toleransi sebagai berikut : Open pit : sudut overall + 10 - 30, strip mine : sudut highwall + 50, sudut spoil pile + 10 - 30, open pit (batuan keras). 
    • Memberi perancangan lereng secara detail termasuk tinggi jenjang, lebar berm, sudut jenjang, interamp dan sudut overall pit slope maksimum pada tiap bagian perancangan tambang. 
    • Memberi perancangan detail untuk external waste dumps. 
    • Strip mine (batubara). 
    • Memberi perancangan rincian lereng tergolong: sudut highwall, sudut spoil dump, perancangan pit waste dump, sudut low wall, perancangan footwall, jarak dengan mesin. 
    • Memperkirakan pengeringan tambang termasuk rancangan detail, rancangan, spesifikasi dan biaya. 
    • Bersama dengan perencana tambang dan para mahir geoteknik memutuskan perancangan air bawah tanah sesuai dan tidak akan merugikan operasi penambangan. 
    • Bersama dengan perencana tambang mendesain susukan transportasi dan resikonya secara hemat. 
    • Memberi isyarat pada teknik peledakan final dan perlengkapan yang tepat. 
    • Bersama dengan perencana tambang memilih staff untuk problem geoteknik atau air bawah tanah. 
    • Rancangan dan biaya program pemantauan air bawah tanah. 
    • Laporan yang terang mengenai kelayakan pertambangan yang dijadwalkan. 
    • Merancang dan memantau perlengkapan yang digunakan pada operasi.


    4. Tahap Operasi
    • Menilai bagaimana kondisi geoteknik selama pengusutan awal apakah sesuai perancangan parameter kelayakan. 
    • Menyusun dan melakukan secara terus menerus pengumpulan data sebagai bagian dari geologi pertambangan dan geoteknik. 
    • Rancangan dan melakukan rencana pada studi kelayakan mirip : Peledakan final dan penggalian, penyangga lereng, mengubah geometri lereng, dan depressurisation lereng. 
    • Melaksanakan pemantauan lereng. 
    • Rancangan dan melakukan planning hidrogeologi, mengawasi debit anutan air atau air bawah tanah. 
    • Terus menerus merubah perancangan lereng selama umur tambang seperti pergantian kondisi geoteknis atau sebab argumentasi ekonomi.

    Rancangan Lereng Tambang

    Pada prakteknya metoda perancangan berpatokan pada heuristic's atau rules of thumb (the institution of engineers australia, 1990). Tapi pada geoteknik pertambangan yang didasarkan geologi, konsep perancangan lereng tambang lebih berkaitan mirip heuristic's. Hal ini memberi persepsi yang luas perihal aktivitas alam. Heuristic's didefinisikan sebagai :
    "Suatu metoda untuk memecahkan duduk perkara yang sama sekali tidak tergantung pada algoritma, tapi tergantung pada pendapatinduktif dari pengalaman pada dilema yang sama (macquarie dictionary)".

    Algoritma yakni sebuah mekanisme untuk memecahkan persoalan yang terbatas dan dipakai untuk proses merancang, namun tidak pernah digunakan untuk mendesain lereng tambang. Definisi heuristic yang yang lain adalah pendapatinduktif, yakni :
    "Proses klarifikasi penemuan untuk suatu fakta yang khusus, dengan memperkirakan besarnya fakta observasi dimana penjelasan ini mencakup seluruh fakta".

    Hal ini tidak umum untuk sebuah proses deduktif dimana kesimpulan didasarkan pada fakta yang dimengerti atau prinsip yang ada. Merancang lereng tambang didasarkan pada pengamatan kuantitatif dari sebagian kecil conto tanah atau massa batuan. Oleh karena itu usulanyang penting yaitu :
    "Hanya kemampuan yang sempurna mengurus suatu lingkungan heuristic” (the institution of engineers australia, 1990)".

    Pada tambang bawah tanah dengan batuan yang keras persoalan teknik mekanika batuan yakni pengontrolan bawah tanah (brady, 1986); pengontrolan atas deformasi dan displacement untuk memutuskan kestabilan secara keseluruhan, melindungi susukan, memelihara kondisi kerja yang kondusif dan cadangan bijih (brady & brown, 1985). Masalah teknik dalam merancang lereng tambang terbuka ialah tidak mampu menertibkan bawah tanah dan dengan asumsi yang implisit sehingga lereng dapat runtuh. Sasaran pokok dalam perancangan lereng tambang terbuka ialah :
    "Tercapainya desain yang optimum yakni kompromi antara lereng yang hemat dan cukup aman" (hoek and bray, 1973)".

    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Sabtu, 06 Maret 2021

    Berbagai Metode Analisis Kestabilan Lereng

    Tujuan Melakukan Analisis Kestabilan Lereng

    Di alam, baik lereng alami maupun lereng produksi mampu terbentuk pada tanah (relatif lemah), pada watu (sangat besar lengan berkuasa), pada batuan berstruktur (massa batuan), maupun ialah gabungan dari beberapa kondisi tersebut. Untuk itu, tata cara analisis kestabilan yang dapat dipraktekkan pada setiap keadaan (material) lereng yang berlainan, akan berlawanan pula.

    Artinya sebuah tata cara yang cocok untuk tanah yang sifatnya homogen dan kontinyu, serta relatif lemah tidak akan cocok untuk lereng pada massa batuan atau pada batu yang keras (berpengaruh) dan sebaliknya. Dalam usaha untuk mengetahui atau menganggap apakah sebuah lereng dalam kondisi stabil atau tidak, perlu dijalankan analisis terhadap kestabilannya.


    Tujuan atau kegunaan analisis kemantapan lereng yaitu untuk mengerti perkembangan bentuk lereng alamiah dan proses yang bertanggung jawab kepada berbagai ciri alamiah tersebut. Selain itu dengan melakukan analisis, kita juga mampu menganggap kemantapan lereng jangka pendek (sering selama konstruksi) dan jangka panjang, menganggap kemungkinan kelongsoran yang melibatkan lereng alamiah dan lereng buatan, mengerti prosedur longsor dan pengaruh faktor lingkungan sehingga memungkinkan rancangan ulang dari lereng yang sudah runtuh dan merencanakan serta merancang pengukuran perbaikan dan pencegahan kalau diperlukan. Dengan melakukan analisis kestabilan lereng, kita juga dapat mengenali balasan pembebanan seismik kepada lereng dan timbunan.

    Metode Elemen Hingga, Metode Irisan, Metode Bishop, dan Metode Cullman

    Metode yang diterapkan untuk analisis kestabilan lereng telah banyak dibuat orang, mulai dari tata cara analisis irisan (slice methods) yang diperkenalkan oleh Fellenius (1927, 1936) yang juga terkenal dengan nama metode Swedia. Metode analisis tersebut dibentuk untuk menganalisis lereng tanah dengan membaginya dalam irisan-irisan tegak. Selain itu ada juga tata cara komponen sampai, sistem bishop, sistem cullman, sistem janbu, dan metode spencer.

    Konsep tekanan pori dan tegangan efektif diperkenalkan oleh Terzaghi (1936). Fellenius (1936) dan Bishop (1955) memasukkan gaya-gaya antar irisan dalam perhitungannya. Selanjutnya banyak ahli-andal lain yang memperkenalkan sistem-metode analisis baru yang lebih seksama, adalah Morgenstern Price (1965), Janbu (1973) dll; dan juga dikerjakan perbaikan-perbaikan terhadap sistem-tata cara yang telah ada. Metode-metode analisis tersebut umumnya dimaksudkan untuk menerima hasil analisis yang sebaik-baiknya, sesuai dengan kondisi lereng yang dianalisis.


    Ditinjau dari jenis dan sifat-sifat material pembentuk lereng maka longsoran yang terjadi dapat mempunyai bidang longsoran yang berbeda misalnya :
    1. Lereng pada tanah yang homogen akan mempunyai bidang longsoran yang berupa busur lingkar atau mendekati bentuk tersebut.
    2. Lereng pada tanah yang tidak homogen akan menghasilkan bidang longsoran yang berupa campuran antara bidang lengkung dan bidang datar (tanah yang tidak rata pelapukannya)
    3. Lereng pada kerikil (massa batuan) akan memiliki bidang longsoran yang mengikuti bidang-bidang lemahnya (longsor bidang, longsor baji atau toppling).

    Umumnya yang diterapkan pada analisis lereng tanah (homogen) ialah metode analisis dengan model bidang longsoran yang berbentukbusur bundar. Sedangkan versi longsoran dengan bidang longsoran yang tidak teratur (campuran antara bidang dan busur lingkaran) dipraktekkan pada tanah yang tidak homogen. Model longsoran dengan bidang lemah berupa bidang datar dipakai untuk longsoran pada watu (rock) atau pada tanah yang meskipun sudah lapuk tetapi bekas bidang perlapisan atau bidang lemah yang lain masih lebih banyak didominasi.

    Metode analisis kestabilan lereng yang banyak diterapkan yaitu Metode Kesetimbangan Batas (Limit Equilibrium Method), yang dimulai oleh Cullman (1866) selaku model numerik yang tertua dengan mengassumsikannya sebagai longsoran yang melalui garis lurus (straight line ship-surface). Dibawah ini adalah beberapa sistem analisis kestabilan lereng dengan pendekatan kesetimbangan batas (limit equilibrium method).

    Tujuan Melakukan Analisis Kestabilan Lereng  Berbagai Metode Analisis Kestabilan Lereng
    Macam-macam sistem analisis kestabilan lereng.

    Selanjutnya tata cara irisan yang dikembangkan oleh Peterson (1910), Bishop, Janbu, Nonociller dll, yang disebut juga selaku Prosedur Irisan yang Disederhanakan (Generalized Procedure of Slices / GPS), banyak diterapkan dalam analisis kestabilan lereng. Metode analisis kestabilan lereng yang lain yakni metode komponen hingga (FEM) dan metode beda sampai (FDM) yang merupakan metode numerik dan berkembang cepat dengan kian meningkatnya kesanggupan perangkat komputer. Untuk batuan dengan bidang lemah (massa batuan) digunakan tata cara grafis, adalah suatu sistem statistik yang dipraktekkan pada proyeksi stereografis.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Jumat, 26 Februari 2021

    Jenis Zona PeluangTerjadinya Tanah Longsor

    Zona Potensi Tanah Longsor - Penyebab terjadinya tanah longsor yaitu karena air yang meresap ke dalam tanah sehingga membuat bobot tanah menjadi lebih besar. Jika air tersebut menembus hingga ke tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng. Kawasan beresiko tragedi longsor dibedakan atas zona-zona berdasarkan karakter dan keadaan fisik alaminya.

    Zona potensial tanah longsor ialah daerah/tempat yang rawan terhadap bencana longsor dengan keadaan terrain dan kondisi geologi yang sangat peka kepada gangguan luar, baik yang bersifat alami maupun aktifitas insan sebagai aspek pemicu gerakan tanah, sehingga memiliki potensi terjadinya longsor. Berdasarkan hidrogeomorfologinya dibedakan menjadi 3 jenis zona, yaitu Zona Tipe A, Zona Tipe B, dan Zona Tipe C.

     Penyebab terjadinya tanah longsor adalah karena air yang meresap ke dalam tanah sehingga  Jenis Zona Potensi Terjadinya Tanah Longsor
    Tipologi zona potensial tanah longsor menurut hidrogeomorfologi.

    Zona Berpotensi Longsor Tipe A

    Zona ini merupakan daerah lereng gunung, lereng pegunungan, lereng bukit, lereng perbukitan, tebing sungai atau lembah sungai dengan kemiringan lereng di atas 40%, dengan ketinggian di atas 2000 meter di atas permukaan laut. Zona ini dicirikan dengan kondisi Lereng pegunungan relatif cembung; tersusun atas tanah epilog setebal lebih dari 2 (dua) meter, bersifat gembur dan gampang lolos air (misalnya tanah-tanah residual), menumpang di atas batuan dasarnya yang lebih padat dan kedap (contohnya andesit, breksi andesit, tuf, napal dan kerikil lempung).

    Pada zona ini, lereng tebing sungai tersusun oleh tanah residual, tanah kolovial atau batuan sedimen hasil endapan sungai dengan ketebalan lebih dari 2 (dua) meter. Pada lereng sering muncul rembesan air atau mata air utamanya pada bidang kontak antara batuan kedap dengan lapisan tanah yang lebih permeable. Vegetasi alami yang mampu dijumpai antara lain tumbuhan berakar serabut (perdu, semak, dan rerumputan), pepohonan bertajuk berat, dan berdaun jarum (pinus).

    Pada Zona ini jenis gerakan tanah yang terjadi berupa Luncuran baik berupa luncuran batuan, luncuran tanah, maupun materi rombakan dengan bidang gelincir lurus, melengkung atau tidak beraturan. Biasa dijumpai anutan tanah, ajaran batuan dan pedoman bahan rombakan batuan, bahkan variasi antara dua atau berbagai macam gerakan tanah dengan gerakan relatif cepat (lebih dari 2 meter per hari sampai mencapai 25 meter per menit).

    Zona Berpotensi Longsor Tipe B

    Zona berpotensi longsor pada tempat kaki gunung, kaki pegunungan, kaki bukit, kaki perbukitan, dan tebing sungai dengan kemiringan lereng berkisar antara 21% - 40%, dengan ketinggian 500-2000 meter di atas permukaan bahari. Zona ini antara lain dicirikan oleh Lereng pegunungan tersusun dari tanah epilog setebal kurang dari 2 (dua) meter, bersifat gembur dan gampang lolos air, Lereng tebing sungai tersusun oleh tanah residual, tanah kolovial atau batuan sedimen hasil endapan sungai dengan ketebalan kurang dari 2 (dua) meter.

    Pada zona ini curah hujan mencapai 70 mm per jam atau 100 mm per hari dengan curah hujan tahunan lebih dari 2500 mm dan Sering muncul rembesan air atau mata air pada lerengterutama pada bidang kontak antara batuan kedap air dengan lapisan tanah yang lebih permeable. Gerakan tanah yang terjadi pada tempat ini lazimnya berupa rayapan tanah yang menyebabkan retakan dan amblesan tanah.

    Zona Berpotensi Longsor Tipe C

    Zona memiliki peluang longsor pada tempat dataran tinggi, dataran rendah, dataran, tebing sungai, atau lembah sungai dengan kemiringan lereng berkisar antara 0% - 20%, dengan ketinggian 0-500 meter di atas permukaan maritim. Zonasi ini antara lain dicirikan oleh kawasan kelokan sungai (meandering) dengan kemiringan tebing sungai lebih dari 40%, Kondisi tanah (batuan) penyusun lereng umumnya tersusun dari tanah lempung yang gampang mengembang jika jenuh air (jenis montmorillonite), dan curah hujan mencapai 70 mm per jam atau 100 mm per hari dengan curah hujan tahunan lebih dari 2500 mm.

    Daerah ini Sering muncul rembesan air atau mata air pada lereng, utamanya pada bidang kontak antara batuan kedap air dengan lapisan tanah yang lebih permeable. Gerakan tanah yang sering terjadi umumnya berupa rayapan tanah yang menimbulkan retakan dan amblesan tanah dengan kecepatan gerakan lambat hingga menengah dengan kecepatan kurang dari 2 (dua) meter per hari.

    (Referensi: Karnawati, D. 2006, Kajian Aspek Geologi sebagai Faktor Resiko Bencana Gerakan Tanah. Makalah pada Lokakarya Penataan Ruang sebagai Wahana untuk meminimalisir Potensi Kejadian Longsor, Jakarta).
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Rabu, 24 Februari 2021

    Pelanggaran Pemanfaatan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor

    Segala bentuk aktivitas pemanfaatan ruang pada kawasan riskan peristiwa longsor mesti berdasarkan izin dari pemerintah. Izin pemanfaatan ruang ialah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan penggunaan ruang sebagai pelaksanaan pemanfaatan ruang di daerah beresiko peristiwa longsor atau zona memiliki potensi longsor. Menurut ketentuan peraturan perundang-permintaan, izin harus dimiliki sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang.

    Segala bentuk kegiatan pemanfaatan ruang pada kawasan rawan bencana longsor harus berdasar Pelanggaran Pemanfaatan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor
    Gambar daerah beresiko longsor.

    Tindakan penertiban pada zona berpeluang longsor dapat dilaksanakan menurut pelaporan atau pengaduan masyarakat dan/atau investigasi dan penyelidikan terhadap semua pelanggaran yang dijalankan kepada pemanfaatan ruang yang tidak cocok dengan fungsi daerah yang telah ditetapkan. Dibawah ini dihidangkan bentuk-bentuk pelanggaran pemanfaatan ruang kawasan rawan peristiwa longsor.
    • Kegiatan pembangunan yang memanfaatkan ruang pada daerah beresiko bencana longsor tanpa memiliki izin pemanfaatan ruang (baik sesuai dengan rencana tata ruang maupun tidak sesuai dengan rencana tata ruang).
    • Kegiatan pembangunan yang mempergunakan ruang di daerah beresiko tragedi longsor yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruangnya (pelaksanaannya tidak cocok dengan patokan perizinan).
    • Kegiatan pembangunan yang mempergunakan ruang di daerah beresiko bencana longsor yang tidak cocok dengan kriteria izin.
    • Kegiatan pembangunan yang memanfaatkan ruang di kawasan beresiko peristiwa longsor yang menghalangi akses ke tempat milik umum.
    • Kegiatan pembangunan yang memanfaatkan ruang di daerah rawan bencana longsor yang mempunyai izin, tetapi izin yang dikeluarkan/ diterbitkan atau diperoleh tidak melalui prosedur yang benar.

    Pelanggaran pemanfaatan ruang tersebut mampu ditinjau dari tingkat ketaatan dalam melakukan prosedur permintaan dan/atau penerbitan izin pemanfaatan ruang, serta tingkat ketaatan memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin. Mekanisme penertiban pelanggaran dilakukan dengan penegakan prosedur perizinan sesuai dengan isyarat tempat riskan tragedi longsor dan penggunaan ruang. Apabila terdapat indikasi tindak pidana maka hukuman pidana akan dikenakan sesuai dengan aturan program pidana yang berlaku. (Sumber acuan: Dardak. A. Hermanto, 2006, Kebijakan Penataan Ruang Dalam Pengelolaan Kawasan Rawan Bencana Longsor, dalam Lokakarya koordinasi Ditjen. Penataan Ruang Dep. PU dengan Badan Kejuruan Sipil PII, Jakarta).
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Selasa, 24 November 2020

    Inilah Penyebab Tanah Longsor Yang Paling Utama

    Pengertian Tanah Longsor

    Sebelum kita membicarakan tentang apa saja penyebab tanah longsor maka sobat geologinesia harus memahami definisi atau pemahaman tanah longsor itu sendiri. Tanah longsor ialah gerakan tanah, massa batuan, ataupun puing-puing (debris) ke bab bawah lereng. Tanah longsor ialah perpindahan material (mass wasting) yang merujuk pada gerakan ke bawah/menurun akhir dampak eksklusif dari gravitasi.

    Istilah "Longsor" mengacu pada lima model gerakan ialah falls, topples, slide, spreads, dan flows. Model pergerakan tersebut lalu dibagi lagi berdasarkan jenis material geologinya (batuan dasar, debris, ataupun tanah). Sebagai contoh "debris flow" sering disebut juga sebagai lumpur atau tanah bergerak dan rock fall ialah jenis longsor yang di dominasi oleh pergerakan massa batuan.

    Baca juga: Zona Potensi Tanah Longsor


    Tanah longsor ialah kejadian geologi yang bisa terjadi secara datang-tiba serta sering menjadikan kerusakan besar di kawasan dengan bukit ataupun lereng yang tidak stabil. Peristiwa seperti ini sering dikenal juga dengan sebutan peristiwa tanah longsor.

    Dampak tanah longsor diantaranya yakni mampu menyebabkan kerusakan struktur bangunan maupun properti lainnya, mengganti habitat lingkungan disekitarnya, dan yang paling parah yakni jatuhnya korban jiwa. Sebagai teladan di indonesia pernah terjadi longsor mematikan yang populer dengan istilah Longsor Purworejo. Akibat tragedi tersebut dilaporkan 45 orang tewas dan 15 lainnya hilang.

    Sebelum kita membahas mengenai apa saja penyebab tanah longsor maka sobat geologinesia har Inilah Penyebab Tanah Longsor yang Paling Utama
    Model pergerakan tanah longsor.

    Faktor Penyebab Tanah Longsor

    Kekuatan utama pergerakan tanah longsor yakni gaya gravitasi. Kita biasanya berpikir bahwa gravitasi hanya menarik benda secara vertikal ke bawah (tegak lurus), tetapi dalam konteks kelerengan, gaya gravitasi cenderung akan mempunyai besaran dan arah. Efek gravitasi ini dapat dipisahkan menjadi 2 jenis yakni
    1. Sejajar dengan kemiringan lereng, artinya dapat menawan objek/material menuruni lereng.
    2. Tegak lurus dengan kemiringan lereng, artinya dapat mempesona objek/material kepada permukaan lereng.


    Secara umum, suatu bukit atau lereng apakah rawan terjadi longsor biasanya dapat dilihat dari faktor-aspek seperti sudut kemiringan lerengnya, iklim, pelapukan, kadar air, vegetasi, pembebanan, material geologi, dan stabilitas lereng.

    Faktor-aspek di atas saling bekerjasama dan sangat penting dikenali untuk persiapan kejadian tanah longsor di sebuah tempat yang beresiko. Biasanya sejumlah faktor tersebut akan saling berafiliasi satu sama lain, namun sering juga hanya dipengaruhi oleh 1 aspek selaku pemicu pergerakan material.

    Baca juga perihal: Tanah Aluvial

    Secara garis besar, ada 2 penyebab utama terjadinya tanah longsor, yakni:
    1. Penyebab Alami
    2. Penyebab oleh kegiatan insan

    Penyebab Tanah Longsor Alami
    Pada kategori ini, penyebab longsor lebih diakibatkan oleh proses alam. Beberapa teladan proses alam yang mampu mengakibatkan tanah longsor yaitu sebagai berikut:
    1. Tingginya tekanan air dalam pori batuan atau tanah balasan curah hujan yang berkepanjangan.
    2. Getaran yang diakibatkan gempa bumi dan gunungapi.
    3. pemotongan (undercutting) lereng karena pengikisan oleh air sungai, gelombang laut ataupun gletser.
    4. Aliran abu vulkanik yang menuruni ataupun menumpuk di lereng yang tidak stabil .
    5. Pembebanan tanah/batuan yang berlebihan di bagian atas lereng.

    Penyebab Tanah Longsor Karena Ulah Manusia
    Tanah longsor dapat dipicu juga oleh aktivitas insan, baik itu secara eksklusif maupun tidak langsung. Faktor yang disebabkan oleh insan dikategorikan sebagai perbuatan negatif insan yang mempunyai dampak kepada alam, sehingga mengakibatkan perubahan drastis terhadap material, struktur, dan tekstur tanah ataupun batuan.

    Contoh tanah longsor yang disebabkan oleh acara manusia antara lain:
    1. Aktivitas pembuatan jalan yang memangkas lereng sehingga menjadikan lereng menjadi lebih curam.
    2. Mengalihkan fatwa air permukaan atau air tanah ke lokasi yang bergotong-royong telah mempunyai peluanglongsor.
    3. Getaran dari acara kemudian lintas kendaraan yang padat, peledakan, dan lain-lain.
    4. Kegiatan pertambangan serta penggalian material tanah maupun batuan.
    5. Penebangan pohon ataupun vegetasi yang lain yang mengakibatkan tingginya run-off air permukaan.
    6. Sengaja memodifikasi lanskap dengan membangun di lereng yang tidak stabil atau di jalur peluanglongsor tanpa melakukan analisis kelerengan.

    Sebelum kita membahas mengenai apa saja penyebab tanah longsor maka sobat geologinesia har Inilah Penyebab Tanah Longsor yang Paling Utama
    Bencana tanah longsor yang lebih banyak disebabkan oleh acara manusia.

    Penanggulangan Tanah Longsor

    Dengan mengetahui penyebab utama tanah longsor, khususnya sebab kegiatan insan, maka cara mengatasi tanah longsor hanya satu cara, yakni tidak melaksanakan kegiatan/kegiatan yang sekiranya mampu mengakibatkan terjadinya tanah longsor. Tetapi, kalaupun kita mesti melakukannya maka diharapkan analisis mendalam sebelum melaksanakan acara yang bermaksud memodifikasi lanskap.

    Seorang geologist ataupun insinyur sipil sungguh paham dalam melaksanakan analisis kesempatantanah longsor. Mereka hebat dalam mengecek geometri lereng, sifat batuan/tanah, keadaan air permukaan dan air tanah, tingkat pelapukan dan abrasi, yang mana seluruhnya itu mampu di implementasikan untuk menyingkir dari kemungkinan terjadinya tanah longsor.
    Sumber https://www.geologinesia.com/