Tampilkan postingan dengan label Logam Tanah Jarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Logam Tanah Jarang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2021

Logam Tanah Jarang Dan Manfaatnya

Pengertian Logam Tanah Jarang (Rare Earth Elements)

Kita sering dibingungkan dengan adanya dua ungkapan "Logam Tanah Jarang" ataukah "Unsur Tanah Jarang". Sebenarnya kedua ungkapan tersebut yakni sama, sebab unsur-komponen tanah jarang seluruhnya adalah logam, sehingga golongan ini sering disebut juga sebagai "logam tanah jarang".

Logam-logam ini memiliki sifat yang mirip dan sering ditemukan tolong-menolong dalam sebuah deposit geologi. Bahkan seringkali mereka juga disebut "oksida tanah jarang" sebab pada umumnya dari mereka dijual sebagai senyawa oksida.


Unsur atau logam tanah jarang yaitu suatu kelompok yang berisikan 17 komponen kimia yang terdapat bersama-sama dalam suatu tata cara tabel periodik (lihat gambar di bawah). Kelompok ini berisikan yttrium dan 15 komponen lantanida (lanthanum, cerium, praseodymium, neodymium, promethium, samarium, europium, gadolinium, terbium, dysprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, dan lutetium).

Baca juga tentang: Apa itu Titanium

Kadang-kadang skandium juga masih masuk selaku kelompok logam tanah jarang, karena sering ditemukan bahu-membahu dalam suatu deposit. "International Union of Pure" dan "Applied Chemistry" telah memasukan skandium selaku logam tanah jarang.

Kita sering dibingungkan dengan adanya dua istilah  Logam Tanah Jarang dan Kegunaannya
Tabel periodik bagian (atas) dan macam-macam logam tanah jarang (bawah).

Logam Tanah Jarang (REE) sering dibagi lagi menjadi 2 pembagian terstruktur mengenai yakni: Logam Tanah Jarang Berat (Heavy Rare Earths) dan Logam Tanah Jarang Ringan (Light Rare Earths).

Lanthanum, cerium, praseodymium, neodymium, promethium dan samarium masuk dalam kelompok "Logam Tanah Jarang Ringan". Sedangkan Yttrium, europium, gadolinium, terbium, dysprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, dan lutetium merupakan "Logam Tanah Jarang Berat".


Meskipun bahu-membahu yttrium lebih ringan dari "Logam Tanah Jarang Ringan", tetapi ia tetap masuk dalam kelompok "Logam Tanah Jarang Berat" sebab kesamaan perkumpulan kimia dan sifat fisiknya.

Lihat juga ihwal: Sifat Logam

Apakah Logam ini sungguh-sungguh Langka?

Logam Tanah Jarang bahu-membahu tidak "jarang/langka" sebagaimana tersirat dalam namanya. Misalnya, thulium dan lutetium adalah dua jenis logam tanah jarang yang paling melimpah.

Mereka memiliki kelimpahan dipermukaan rata-rata yang nyaris 200 kali lebih besar dari kelimpahan emas dipermukaan. Namun, logam ini sungguh susah untuk di tambang, karena mereka jarang didapatkan dalam fokus yang cukup tinggi untuk mampu di ekstraksi secara irit.

Sedangkan cerium, yttrium, lantanum, dan neodymium, mereka mempunyai kelimpahan rata-rata yang mirip dengan logam industri seperti timah, kromium, nikel, seng, molibdenum, dan tungsten. Tetapi tetap saja mereka jarang ditemukan dalam konsentrasi yang cukup untuk mampu diekstrak.

Baca juga wacana: Pengertian ICP

Kegunaan Logam Tanah Jarang

Logam tanah jarang dan paduannya dipakai di banyak perangkat mirip memori komputer, DVD, baterai isi ulang, ponsel, catalytic converter, magnet, lampu neon, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Selama 20 tahun terakhir, sudah terjadi ledakan usul yang memerlukan logam tanah jarang. 20 tahun yang lalu, orang sungguh sedikit memakai ponsel, tetapi dikala ini jumlah tersebut telah meningkat menjadi lebih dari 7 miliar penggunaan ponsel. Begitupula penggunaan komputer, saat ini sudah meningkat nyaris sama secepat ponsel.

Banyak Baterai isi ulang yang dibentuk dengan senyawa tanah jarang. Permintaan untuk baterai didorong oleh usul atas perangkat elektro portabel seperti komputer portabel dan kamera. Sejumlah senyawa tanah jarang juga berada didalam baterai yang digunakan selaku daya pada setiap kendaraan listrik dan kendaraan listrik bibit unggul.

Logam tanah jarang juga dapat digunakan selaku katalis, fosfor, dan senyawa "polishing". Ini digunakan untuk pengendalian polusi udara dan penerang layar pada perangkat elektronika.

Semua produk ini diperkirakan akan mengalami peningkatan usul. Beberapa komponen lain mungkin mampu mengambil alih penggunaan logam tanah jarang, tetapi bagian pengganti tersebut lazimnya kurang efektif dan harganya mahal.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Sabtu, 19 Desember 2020

Sejarah Penemuan Logam Tanah Jarang (Ree)

Logam Tanah Jarang (disingkat LTJ) atau terjemahan dari REE (Rare Earth Element) dikenal di dunia sebab penemuan mineral berwarna hitam ytterbit (yang dinamai ulang menjadi gadolinit pada tahun 1800) oleh Letnan Carl Axel Arrhenius pada tahun 1787 di salah satu galian batu di Desa Ytterby, Swedia. Arrhenius menemui Johan Gadolin, profesor di Royal Academy of Turku untuk menganalisis mineral tersebut dan mendapatkan hasil analisis bahwa mineral yang tidak dikenal itu disebut "yttria". Sementara itu, Anders Gustav Ekeberg mengisolasi berrylium dari gadolinit namun gagal untuk mengetahui unsur-bagian lain di dalamnya.

Setelah inovasi mineral dari Bastnas erat Riddarthyttan, Swedia pada 1794, kemudian diuji ulang oleh Jons Jacob Berzelius dan Wilhelm Hisinger, dan alhasil diandalkan bahwa mineral itu ialah senyawa besi-tungsten. Pada tahun 1803 mereka menentukan nama mineral oksida berwarna putih selaku ceria, sama dengan mineral ochroia yang juga didapatkan oleh Martin Heinrich Klaproth. Dengan demikian pada tahun 1803 dikenali dua bagian tanah jarang yttrium dan cerium, meskipun memerlukan waktu 30 tahun lalu para peneliti menentukan bahwa bagian-unsur lainnya terkandung di dalam bijih-bijih ceria dan yttria.

Pada tahun 1839, Carl Gustav Mosander, salah satu tangan kanan Berzelius memisahkan ceria dengan cara memanaskan nitrat dan melarutkannya di dalam asam nitrit. Dia menyebutnya selaku oksida dari larutan garam lanthana. Kemudian dalam waktu lebih dari tiga tahun lanthana dipisahkan menjadi didymia dan lanthana murni. Di tahun 1842, Mosander memisahkan yttria menjadi tiga oksida: yttria murni, terbia, dan erbia. Terbium merupakan garam berwarna merah muda, sedangkan peroksida kuning disebut erbium. Sehingga pada tahun 1842 jumlah unsur tanah jarang yang diidentifikasi berbentukyttrium, cerium, lanthanum, didymium, erbium, dan terbium.

Nills Johan Berlin dan Marc Delafontaine juga mencoba memisahkan bahan mentah yttria dan mendapatkan hal sama dengan yang diputuskan oleh Mosander, namun Berlin (1860) menamai zat garam merah muda itu selaku erbium dan Delafontaine menyebutnya terbium. Kebingungan ini menenteng ke arah beberapa kesalahan penentuan bagian-komponen gres seperti mosandrium yang ditentukan oleh J.Lawrence Smith, atau philippium dan decipium hasil penentuan oleh Delafontaine.

Pada tahun 1879 Delafontaine memakai proses fisika baru spektroskopi dan memperoleh beberapa jalur spektral gres di dalam didymia. Masih di tahun 1879, bagian baru samarium diisolasi dari mineral samarskit oleh Paul Emile Lecoq de Boisbaudran.

Samaria lebih jauh dipisahkan oleh Lecog de Boisbaudran di tahun 1886 dan hasil yang ditentukan dengan cara isolasi pribadi dari samarskit oleh Jean charles Galissard de Marignac. Mereka menamai unsur tersebut godalium setelah Johan Gadolin memisahkannya, dan oksidanya disebut gadolina. Antara tahun 1886 dan 1901, analisis spekstroskopi lebih jauh kepada samaria, yttria, dan smarskit dijalankan oleh William Crookes, Lecoq de Boibaudran, dan Eugene-Anatole Demacay dan menciptakan beberapa jalur spektroskopis baru yang mengindikasikan eksistensi salah satu bagian tak dikenal. Kristalisasi fraksional dari oksida-oksida tersebut kemudian menciptakan europium di tahun 1901.

 dikenal di dunia karena penemuan mineral berwarna hitam ytterbit  Sejarah Penemuan Logam Tanah Jarang (REE)
Periodik komponen dan bagian logam tanah jarang.

Pada tahun 1839 sumber ketiga unsur tanah jarang menjadi tersedia, yang disebut uranotantalum (sekarang disebut samarskit) dan serupa dengan gadolinit. Mineral ini didapatkan dari Miass di bagian Selatan Pegunungan Ural dan didokumentasikan oleh Gustave Rose. Ahli kimia Rusia R.Hamann menganjurkan nama salah satu bagian baru yang disebut ilmenium yang ada di dalam mineral tersebut, namun kemudian yang didapatkan di dalamnya oleh Cristian Wilhelm Blomstard, Galissard de Marignac, dan Heinrich Rose hanya berbentuktantalum dan niobium (columbium).

Pada dikala itu jumlah niscaya dari unsur-unsur tanah jarang sangat tidak terperinci, dan diperkirakan maksimum 25 (duapuluh lima) komponen. Penggunaan spektra X-ray oleh Henry Gwyn Jeffrey Moseley membuat penentuan nomor atom bagian-bagian menjadi memungkinkan. Moseley mendapatkan bahwa jumlah niscaya lanthanida adalah 15 dan bagian ke-61 telah ditemukan. Mengacu pada kenyataan di atas ihwal nomor-nomor atom berdasarkan analisis kristalografi X-ray, Moseley juga memperlihatkan bahwa hafnium (bagian ke-72) bukan bagian tanah jarang. Moseley terbunuh pada Perang Dunia I di tahun 1915, beberapa tahun sebelum hafnium didapatkan. Oleh sebab itu, legalisasi Georges Urbain perihal inovasi unsur ke-72 ialah tidak benar. Hafnium merupakan salah satu unsur yang terletak pribadi di bawah zirkonium dalam tabel periodik, dan hafnium memiliki sifat-sifat kimia dan fisika yang serupa dengan zirkonium.

Selama tahun 1940-an, Frank Spending dan lain-lain di Amerika Serikat (Proyek Manhattan) menggambarkan mekanisme kimiawi berupa pertukaran ion untuk pemisahan dan pemurnian komponen-unsur tanah jarang. Metoda ini diaplikasikan pertama kali terhadap actinida untuk memisahkan plutonium-239 dan neptonium dari uranium, thorium, actinium, dan komponen-komponen tanah jarang actinida yang lain yang dihasilkan dari reaktor-reaktor nuklir.

Sumber-sumber utama komponen-unsur tanah jarang berupa mineral-mineral basnasit, monasit, dan loparit serta lempung-lempung adsorpsi-ion lateritik. Kecuali kelimpahan komponen-unsurnya yang tinggi mineral-mineral tanah jarang lebih sulit ditambang dan diekstraksi dibandingkan dengan sumber-sumber logam transisi (alasannya adalah kesamaan sifat kimianya); menciptakan bagian-unsur tanah jarang relatif berharga mahal. Penggunaannya di bidang industri sangat terbatas hingga teknik-teknik pemisahan yang efisien dikembangkan mirip pertukaran ion (ion exchange), kristalisasi fraksional (fractional cristalization) dan ekstraksi cairan-cairan (liquid-liquid extraction) selama tamat tahun 1950-an dan permulaan tahun 1960-an.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Selasa, 15 Desember 2020

Kemajuan Logam Tanah Jarang (Ree) Di Dunia Dan Indonesia

Logam Tanah Jarang (LTJ / REE) sesuai dengan namanya ialah senyawa mineral dengan unsur tanah jarang yang sangat langka atau kelimpahannya sangat sedikit. Keterdapatan di alam berupa senyawa kompleks biasanya senyawa fosfat dan karbonat. Dengan kemajuan teknologi pengolahan material, logam tanah jarang kian diperlukan dan umumnya pada industri teknologi tinggi.

Logam tanah jarang banyak diburu bareng paduannya alasannya adalah digunakan untuk banyak peralatan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya berupa: memori komputer, DVD, baterai isi ulang, telepon seluler, konventer katalis kendaraan bermotor, magnet, lampu fluoresen dan lain-lain. Bahkan kegunaan untuk komputer dan DVD telah tumbuh lebih singkat daripada telepon seluler. Berbagai tipe rechargeable batteries yang banyak mengandung cadmium (Cd) atau timbal, sekarang digantikan dengan baterai rechargeable lanthanum-nickel-hydride (La-Ni-H). Demikian halnya pada baterai komputer, baterai mobil dan perlengkapan komunikasi banyak memakai LTJ alasannya daya pakai yang lebih lama, gampang diisi ulang (recharge) dan mudah didaur ulang.

Di dalam negeri, logam tanah jarang sebagai komoditas pertambangan sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 23 tahun 2010 yaitu digolongkan sebagai bab dari jenis mineral logam yang keseluruhannya 58 jenis, walaupun pada kenyataannya sampai saat ini belum ada Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterbitkan khusus untuk LTJ, tetapi dalam bentuk mineral monasit ((Ce, La, Pr, Nd, Th, Y)PO4) dan xenotim (YPO4) banyak diperdagangkan secara tidak resmi.

Pengusahaannya selaku komoditas tambang telah pula dikelola dalam PP nomor 1 tahun 2014 dan dalam Peraturan Menteri nomor 1 tahun 2014 selaku produk mineral yang mesti diolah atau dimurnikan di dalam negeri, akan tetapi produk LTJ ini diperoleh berbentukproduk sampingan timah (Sn). Hingga kini industri LTJ dalam pemahaman industri hulu dengan produk bagian, senyawa oksida atau hidroksida belum ada di Indonesia walaupun perencanaan ke arah sana sudah dibahas dalam aneka macam pelatihan berkali-kali.

Perkembangan Logam Tanah Jarang secara Global (REE/LTJ).

Bila melihat kondisi pasar REE setidaknya pada dekade terakhir ini, keperluan dunia terus meningkat utamanya disebabkan kegunaannya dalam industri berteknologi tinggi. Pada teknologi tinggi berbentukindustri "magnetic refrigeneration" alasannya adalah REE memiliki daya magnet yang sungguh kuat. Untuk menyanggupi keperluan, dunia sudah semenjak lama mengandalkan potensi yang ada di Tiangkok. Sekitar 90% keperluan dunia dipasok dari Tiongkok. Akan namun final-simpulan ini pemerintah Tiongkok mulai membatasi produksinya sampai 60% yang mempunyai pengaruh kian mahalnya dan langkanya komoditas ini di pasaran global. Harganya pun sempat melambung tinggi walau belakangan harga ini mulai menurun.

Sejalan dengan perhatian terhadap ketidaktergantungan pemanfaatan energi, perubahan iklim, dan isu-isu wacana penjualan kendaraan listrik yang menggunakan baterai, menimbulkan usul akan senyawa logam tanah jarang meningkat lebih cepat. Pemicu kenaikan permintaan senyawa-senyawa logam tanah jarang juga sejalan dengan peningkatan keperluan bahan pembuat katalis, fosfor, dan pemoles untuk pengendali pencemaran udara, layar iluminasi pada perangkat elektronika dan gelas optik.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Minggu, 13 Desember 2020

Penelitian Logam Tanah Jarang (Ltj/Ree) Di Indonesia

Merespon kondisi pasar yang demikian bagusnya, banyak sekali negara disamping penghasil utama, Tiongkok, berlomba-lomba mencari kesempatandan berbagi LTJ secara serius, seperti Amerika, Kanada, Jepang, maupun negara-negara lainnya, tidak ketinggalan juga Indonesia. Khusus Jepang, Tiongkok, negara-negara Asia yang lain rupanya melirik Indonesia menjadi lokasi pilihan bagi investor atau para peminat dari negara-negara tersebut dalam menyebarkan komoditas REE. Badan geologi dan institusi terkait yang lain menanggapi dengan menyelenggarakan berbagai seminar maupun golongan diskusi, survey, dan eksplorasi secara berkala guna mengembangkan observasi potensi REE di Indonesia.

Secara historis, sesungguhnya Indonesia sudah melaksanakan pengusutan LTJ setidaknya menurut laporan penyelidikan yang tersedia semenjak tahun 1991. Misalnya, menurut kompilasi data kadar monazit dan xenotim pada endapan aluvial di kawasan Kepulauan Riau dan Bangka Belitung menawarkan kandungan yang cukup signifikan (lihat gambar di bawah).

Pada tahun 1990-an, PSDG yang pada waktu itu masih bernama Direktorat Sumber Daya Mineral, membentuk unit khusus untuk melakukan aneka macam penyelidikan wacana LTJ. Hasilnya, banyak indikasi di Sumatera dan Bangka Belitung dan juga indikasi berbentukzircon di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Semenjak maraknya seruan pasar dunia, Badan Geologi sudah secara berkala melakukan survey dan pengusutan LTJ secara berkala .

Hal yang menjadi fokus utama bagi para peneliti di Indonesia yaitu tetap mengarah kepada penelitian mineral-mineral yang mengandung bagian tanah jarang (monazit, xenotim, dan zircon) yang tersebar sebagai ikutan utamanya di dalam cebakan aluvial (placer) timah. Hal ini disebabkan peluangcebakan tersebut diperkirakan melimpah sebarannya di lingkungan laut dan daratan kepulauan Bangka, Belitung, dan Riau yang ialah bagian dari jalur sumberdaya timah Asia Tenggara.

Merespon kondisi pasar yang demikian bagusnya Penelitian Logam Tanah Jarang (LTJ/REE) di Indonesia
Kandungan monasit dan xenotim mengandung LTJ di Kepulauan Riau dan Bangka Belitung.

Disamping forum observasi pemerintah, BUMN mirip PT Timah,Tbk juga aktif melaksanakan observasi pemanfaatan sisa buangan tambang timah yang dimiliki khususnya di daerah Bangka Belitung dan Riau. Perusahaan ini juga menjalin koordinasi dengan BATAN, Kementrian Perindustrian, Badan Geologi, dan Balitbang ESDM guna melakukan penelitian bersama dalam berbagi LTJ.

Baru-baru ini telah dibuat secara bersama-sama sebuah konsorsium LTJ yang melibatkan para andal yang ada untuk mengatasi pengusutan mulai dari hulu, inventarisasi atau penyelidikan sumberdaya, hingga bab hilir adalah pembuatan dan ekstraksi bagian LTJ maupun industri pengerjaan aneka produk di dalam negeri. Suatu langka kasatmata yang sudah terlihat hingga sekarang diantaranya yaitu telah terbangunnya suatu pilot plant industri pembuatan LTJ dengan materi baku berupa sisa buangan tambang timah, dimana pabrik percobaan tersebut diposisikan di Bangka Barat (Mentok) dengan kapasitas uji coba sekitar 50 kg monasit per hari.

Disamping itu, Badan Geologi sudah banyak menerbitkan hasil-hasil pengusutan LTJ baik dalam endapan sisa buangan timah, tambang emas plaser maupun jenis primer di aneka macam lokasi. Peta kandungan monasit sebagai mineral utama LTJ untuk Kepulauan Bangka Belitung telah dipublikasikan pada tahun 2013 yang dapat digunakan selaku pedoman dalam pengusutan LTJ di Pulau Bangka. Hasil penyelidikan pada pelapukan granit di Sumatera Utara yang memberikan adanya indikasi LTJ yang cukup signifikan di kawasan ini juga telah dipublikasikan risikonya pada tahun 2012.

Penemuan indikasi LTJ dalam monasit juga merupakan hal penting yang didapatkan oleh Badan Geologi di Kepulauan Natuna, Riau baru-gres ini yang masih terus dikembangkan hingga diperoleh sumberdayanya. Masih banyak acara penyelidikan yang mau dijalankan pada era mendatang untuk memutuskan patut tidaknya industri LTJ dibangun di Indonesia dalam aneka macam skala atau tingkatannya.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Rabu, 09 Desember 2020

Geologi Dan Genesa Logam Tanah Jarang (Ltj/Ree)

Konsentrasi bagian logam tergolong logam tanah jarang (LTJ/REE) akan membentuk endapan irit yang mampu dijadikan komoditas tambang. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa tanah jarang yaitu suatu golongan bagian yang terdiri atas 17 unsur kimia, dimana dalam proses pembentukannya selain dipengaruhi faktor fisika dan kimia juga dipengaruhi oleh nilai kandungan komponen-komponen itu di dalam kerak bumi, alasannya semua proses pembentukan tersebut berjalan dalam kerak bumi.

Proses yang berlangsung baik pada media larutan magmatis maupun fluida sisa magmatis (hidrotermal), akan menenteng bagian-unsur yang ada dalam kerak dan terkonsentrasikan pada daerah tertentu sesuai keadaan lingkungan fisika dan kimia. Ketika magma naik ke arah kerak bumi, terjadi pergeseran komposisi selaku respon kepada variasi tekanan, suhu dan komposisi batuan-batuan di sekelilingnya. Akibatnya terbentuk jenis-jenis batuan yang berlawanan dengan variasi pengayaan bagian-unsur bernilai hemat, tergolong komponen-bagian tanah jarang.

Kelimpahan logam tanah jarang (LTJ) pada kerak bumi bahu-membahu tidak termasuk terkecil kalau dibandingkan komponen logam lainnya, bahkan ada yang cuma beberapa ppb mirip emas, hal ini tampakdari nilai kandungannya sampai puluhan ppm mirip ditunjukkan sejumlah data pada tabel dibawah ini.

Konsentrasi unsur logam termasuk logam tanah jarang  Geologi dan Genesa Logam Tanah Jarang (LTJ/REE)
Tabel sebaran logam tanah jarang pada kerak bumi (ppm) (Keith R. Long., 2010).

Konsentrasi bagian LTJ pada proses pembentukan batuan berlainan-beda satu terhadap yang lain. Karbonatit, kimberlit, batuan alkalin ialah jenis batuan dimana kandungan LTJ tergolong paling tinggi, sehingga secara teoritis proses konsentrasi bijih pada lingkungan batuan ini lebih kaya dibandingkan batuan yang lain, misalnya ketimbang batuan menengah selisik (lihat tabel dibawah). Dengan demikian penelusuran endapan LTJ irit di lingkungan batuan ini lebih berpotensi dibandingkan pada lingkungan batuan yang lain.

Konsentrasi unsur logam termasuk logam tanah jarang  Geologi dan Genesa Logam Tanah Jarang (LTJ/REE)
Tabel kandungan LTJ dalam batuan basa dan ultrabasa (kiri atas) dan dalam batuan beku menengah-selisik (kiri tengah); gambar model pembentukan LTJ di Bayan, Obo Tiongkok (kiri bawah); Tabel penjabaran endapan-endapan mengandung LTJ (kanan). (Henderson, 1984; Drew et al, 1991; Long dkk., 2010).

Genesa endapan logam tanah jarang secara lazim mampu diklasifikasikan ke dalam endapan primer dan sekunder. Pada endapan primer, proses pembentukannya sungguh berafiliasi dengan kegiatan magmatik dan hidrotermal. Sedangkan pada endapan sekunder berafiliasi dengan proses rombakan dan sedimentasi.

Berdasarkan endapan yang terdapat di bab Obo, Tiongkok maka LTJ dapat terbentuk sebagai proses pergantian (replacement) batuan karbonat asal sedimenter, tetapi larutan bisa berasal dari seri batuan intrusi karbonat alkalin (Drew et. Al, 1991). Batuan alkalin/karbonat mengandung sebagian besar sumberdaya LTJ. Karbonatit umumnya berasosiasi dengan bahan ultramafik dan/atau batuan alkalin, dalam banyak perkara terdapat sebagai dyke terisolasi, intrusif berbentuk silinder dan kerucut gunung api.

Di Mountain Pass Amerika Serikat, endapan tipe karbonatit berukuran besar. Keterdapatan LTJ pada endapan tipe karbonatit berukuran besar dipandang selaku bagian massa batuan beku utama, artinya terbentuk bantu-membantu dengan pembekuan batuan tersebut. Endapan lain dari tipe hidrotermal dan pengayaan supergen di dalam karbonatit juga ditemui sejumlah kecil mineral mengandung LTJ dibarengi pembentukan granit, granit alkalin, dan batuan bersifat alkalin. Endapan LTJ juga mampu terbentuk di dalam pegmatit dan proses kontak skarn, endapan yang lain terbentuk sebagai urat hidrotermal dan pergeseran (replacement).

Pembentukan LTJ atas dasar studi endapan Bayan Obo (Tiongkok) memperlihatkan bahwa endapan terbentuk pada batuan karbonatit yang ibarat data pantai samudera dan berinteraksi dengan kalangan Bayan Obo. Sementara jenis endapan LTJ yang lain terbentuk melalui proses replacement hidrotermal kepada batuan karbonat asal sedimenter. Larutan hidrotermal mampu berasal dari seri intrusi karbonatit alkalin. Endapan yang cukup besar seperti itu memerlukan struktur skala besar yang bertindak selaku terusan untuk unsur bijih dari kedalaman.

Berdasarkan endapan karbonatit Mountain Pass (Amerika Serikat), batuan-batuan syenit, shonkinit, granit dan banyak karbonatit di intrusi beralaskan metamorf. Tubuh Karbonatit Sulphida Queen ialah endapan utama dengan panjang 730 m dan lebar 200 m, yang utamanya tersusun dari dolonium dan kalsit yang diikuti barit dan sejumlah besar bastnaesit.

Beberapa endapan lain juga didapatkan berupa endapan oksida besi tembaga (Cu) - Emas (Au) dan sudah dikenal sebagai salah satu endapan mengandung komponen tanah jarang menurut penemuan endapan raksasa "Olympic Dam" di Australia Selatan pada tahun 1980-an. Endapan luar biasa ini mengandung sejumlah besar bagian-komponen tanah jarang dan uranium (U).

Jenis endapan LTJ yang terdapat di dunia jika dikaitkan dengan lingkungan batuannya terdiri dari jenis batuan beku pegmatit, karbonatit, metamorf, dan plaser (lihat tabel penjabaran di atas). Pada umumnya jenis plaser dicirikan dengan mineral monasit dan xenotim, menyebar di bagian Australia, Asia Selatan, Afrika bab selatan, dan Amerika Latin. Yang berhubungan dengan batuan karbonatit mayoritas menempati daratan Tiongkok.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Minggu, 29 November 2020

Genesa Endapan Sekunder Logam Tanah Jarang (Ltj)

Proses pelapukan residual banyak ditemukan terbentuk di bawah iklim tropis dan subtropis. Proses pelapukan mengkonsentrasikan LTJ berupa layer mineral utama pada kerak pelapukan yang bersumber dari batuan kaya LTJ mirip karbonatit dan granit. Dalam hal ini mirip dengan proses lateritisasi bauksit dan nikel.

Baca juga: Pembentukan Endapan Primer Logam Tanah Jarang

Proses pelapukan lainnya yang dianggap gres terdapat di Jiangxi Tiongkok. Batuan granitoid mengandung endapan LTJ terfokus berbentuklayer lempung pada kerak lapukan, sejumlah geologist Tiongkok menyebutnya sebagai tipe endapan "ion adsorption-type".

Mengacu pada endapan LTJ pantai Australia, endapan plaser LTJ terbentuk akibat gelombang, tiupan angin, dan kombinasinya. Endapan plaser mampu berasosiasi dengan rutil-zircon-ilmenit. Endapan jenis residual (ion-adsorption deposits) menurut yang terdapat di daerah Wanling Tiongkok Selatan, terbentuk sebagai hasil pelapukan lateritik granit yang meluas mengintrusi, khususnya batu granit berumur 195 - 130 juta tahun lalu.

Baca juga: Pengertian Logam Tanah Jarang (LTJ/REE)

Granit ialah batuan induk paling lazim untuk endapan tipe ion adsorpsi. Di bawah iklim panas dan lembab pada zona subtropis, granit ini mengalami pelapukan kimia biologi berpengaruh, dimana LTJ terabsorpsi terutama di atas permukaan lempung berbentukion, lalu membentuk endapan LTJ jenis ion penyerapan. Jenis endapan ion perembesan terbentuk setidaknya harus memiliki dua kriteria lazim, ialah:
  1. Harus cukup jumlah batuan induk yang mengandung LTJ,
  2. Pelapukan atau proses lateritik harus terawetkan / bertahan pada masa panjang dengan erosi terbatas. 

Proses pelapukan residual banyak ditemukan terbentuk di bawah iklim tropis dan subtropis Genesa Endapan Sekunder Logam Tanah Jarang (LTJ)
Kenampakan tipe deposit ion adsorption.

Pelapukan semua jenis batuan menghasilkan sedimen-sedimen yang diendapkan di berbagai lingkungan mirip sungai, pantai, kipas aluvial dan delta. Proses erosi menciptakan fokus-fokus mineral berat khususnya emas, membentuk endapan-endapan placer. Demikian juga unsur-unsur tanah jarang seperti monasit dan xenotim, tergantung terhadap sumbernya mampu terkonsentrasi bareng mineral-mineral berat lainnya.

Sumber bagian-unsur tanah jarang tidak mesti batuan beku alkalin atau endapan bagian-unsur tersebut. Banyak batuan beku lainnya, batuan malihan, dan juga batuan-batuan sedimen dengan kandungan monasit mampu membentuk suatu endapan plaser mengandung monasit. Namun, jenis-jenis plaser dengan konsentrasi monasit terutama berbentukplaser mengandung mineral berat ilmenit. Plaser ilmenit ditambang untuk lalu dipakai selaku pigmen oksida titanium (Ti) dan timah putih (Sn).

Baca juga: Sejarah Penemuan Logam Tanah Jarang

Bauksit karst yakni jenis endapan lain berbentuktanah yang kaya akan kandungan aluminum (Al) yang terakumulasi di atas karst batugamping. Deposit seperti ini bisa ditemukan di Montenegro dan berbagai tempat yang lain. Deposit ini kaya akan kandungan komponen-unsur tanah jarang, tetapi tidak membentuk fokus yang bernilai hemat.

Endapan-endapan fosfat marin ialah jenis lain endapan yang mengandung unsur-komponen tanah jarang. Jenis endapan ini bisa mengandung oksida tanah jarang hingga 0,1%. Disini, komponen-komponen tanah jarang hanya dipakai sebagai sampingan dari pembuatan pupuk fosfat.

Endapan LTJ mampu terbentuk dengan proses sedimentasi menjadi endapan plaser dan konglomerat. Mineral detrital berasal dari berbagai varietas batuan primer mulai dari fragmen urat-urat kuarsa sampai kompleks batuan beku ataupun metamorf.

Baca juga: Penelitian Logam Tanah Jarang di Indonesia

Untuk membentuk konsentrat yang bernilai irit, membutuhkan sejumlah mineral berguna serta keadaan geografis dan iklim yang tepat. Biasanya, mineral utama LTJ (monasit dan xenotim) berasosiasi dengan mineral titanium dan zircon dalam bentuk endapan plaser, sering dijumpai di Australia, India, Brazil, Malaysia, dan Indonesia. Sedangkan jenis endapan LTJ konglomerat yang kaya golongan yttrium sering dijumpai di Kanada.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Kamis, 26 November 2020

Mineralogi Logam Tanah Jarang Di Indonesia

Berdasarkan hasil observasi di Indonesia, mineral-mineral yang mengandung komponen tanah jarang di Indonesia terdapat sebagai mineral ikutan dari aktivitas penambangan timah dan emas aluvial. Hal ini merupakan sebuah potensi untuk dapat diambil sebagai produk sampingan yang memberikan nilai tambah sehingga mampu meminimalisir bahan galian tertinggal dan bahan galian terbuang dalam suatu kegiatan penambangan.

Baca juga: Genesa Endapan Sekunder Logam Tanah Jarang

Potensi endapan timah dan emas aluvial di Indonesia kita ketahui cukup berlimpah. Mineral utama mengandung bagian atau logam tanah jarang yang banyak didapatkan di Indonesia yakni xenotim, monasit, dan zircon yang berasosiasi dengan kasiterit yang diperoleh dari penambangan timah aluvial. Berikut ini diuraikan ketiga mineral utama LTJ yang banyak ditemukan di Indonesia:

Berdasarkan hasil penelitian di Indonesia Mineralogi Logam Tanah Jarang di Indonesia
Tabel Mineral Utama LTJ pada Penambangan Timah Aluvial.

MONASIT
Monasit adalah mineral fosfat yang mengandung LTJ dan thorium (Ce,La,Pr,Nd,Th,Y)PO4 dan mengandung 60-62% total oksida tanah jarang. Monasit umumnya diambil dari konsentrat yang merupakan hasil pembuatan dari endapan aluvial mineral logam berat lain.

Monasit memiliki kandungan thorium yang cukup tinggi, sehingga mineral tersebut memiliki sinar alfa (sifat radiaktif). Thorium memancarkan radiasi tingkat rendah, dengan hanya menggunakan selembar kertas saja maka akan terhindar dari radiasi yang dipancarkannya.

Baca juga: Timah Placer

Monasit tahan terhadap pelapukan kimia dan mempunyai berat jenis yang tinggi dalam asosiasinya dengan mineral berat yang lain mirip ilmenit, magnetit, zircon, dan rutil. Kristal monasit berwarna kuning sampai coklat atau orange-coklat dengan kilap sutera. Butiran monasit biasanya berupa prismatik dengan diakhiri bentuk membaji, bentuk lainnya umumnya granular dan bentuk pejal.

XENOTIM
Xenotim adalah mineral fosfat yang mengandung Y (YPO4) dan merupakan senyawa yttrium fospat dengan kandungan 54-65% LTJ termasuk erbium, cerium, dan thorium. Xenotim juga ialah mineral yang sering ditemukan dalam pasir mineral berat serta dalam pegmatit dan batuan beku.

Xenotim berwarna coklat kekuningan hingga coklat kemerahan dengan kilap sutera. Warna lain xenotime umumnya kelabu, oranye, dan hijau. Xenotim senantiasa akan hadir sebagai mineral suplemen dalam batuan asam dan alkalin, meskipun ketika ini telah teramati dalam sekis mika dan gneiss yang kaya kuarsa. Selain itu, xenotim mampu hadir selaku mineral rombakan.

Xenotim dapat secara mudah tertukar dengan zircon oleh alasannya kesamaan bentuk kristal dan kenampakan secara keseluruhan. Namun demikian, xenotim tidak sekeras zircon dan menampakan kepingan tepat.

ZIRCON
Zircon merupakan senyawa zirkonium silikat yang di dalamnya mampu terkandung thorium, yttrium, dan cerium.

Baca juga: Genesa Endapan Primer Logam Tanah Jarang

Ketiga jenis mineral yang mengandung LTJ di atas banyak didapatkan dalam penambangan timah aluvial di tempat Bangka-Belitung dan Kepulauan Riau. Masing-masing daerah penambangan memberikan karakteristik persen berat kelimpahan kasiterit, monasit, xenotim, dan zircon yang berlainan-beda.
Sumber https://www.geologinesia.com/