Tampilkan postingan dengan label Mineral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mineral. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2021

Deskripsi Dan Kegunaan Mineral Feldspar

Apa itu Feldspar?

Kata feldspar berasal dari dua suku kata dalam bahasa Swedia ialah "feldt atau falt" yang bermakna medan dan "spath" yang mempunyai arti belahan batuan dalam granit (Deer dkk, 1966). Pengertian "spar" lebih diperjelas lagi oleh Castle dan Gilson (1960) yang mengutip istilah "spat" dalam bahasa Jerman dan mengacu terhadap setiap mineral transparan atau translucent berkarakter bidang belah.

Pada mulanya istilah "spar" dipakai untuk menamakan setiap mineral selain dari feldspar itu sendiri, seperti terhadap barit, kalsit, dan fluorit (Rogers dan Neal, 1975), selaku contoh ungkapan barium feldspar. Dalam hal ini pemahaman feldspar untuk kebutuhan komersial hanya mengacu kepada 3 mineral silikat yang mempunyai formula K3AlSi3O8 (ortoklas atau mikroklin), NaAlSi3O8 (albit) dan CaAl2Si2O8 (anortit).

Ortoklas, anortit, dan albit hampir tidak dapat didapatkan dalam bentuk murni namun terdapat berbarengan secara melimpah. Albit dan anortit yakni mineral-mineral yang tergolong ke dalam golongan mineral plagioklas.

Bagaimana Feldspar Terbentuk?

Mineral pembentuk batuan dibedakan atas mineral mafik dan felsik; yang pertama mengacu terhadap mineral-mineral feromagnesian berbentukmineral-mineral silikat mengandung komponen besi (Fe) dan atau magnesium (Mg) sebagai bagian dominan.

Mineral mafik dikelompokkan menjadi olivin, hipersten, augit, hornblende, dan biotit. Warna mineral-mineral tersebut umumnya gelap (hijau gelap, coklat atau hitam).

Kata feldspar berasal dari dua suku kata dalam bahasa Swedia yaitu  Deskripsi dan Kegunaan Mineral Feldspar
Gambar mineral feldspar (K-feldspar).

Felsik (kependekan dari feldspar - silika) digunakan untuk mineral-mineral silikat berwarna lebih terang seperti kuarsa, feldspar dan felspatoid. Batuan yang memiliki komposisi mineral mafik lebih dominan disebut batuan basa sebaliknya jikalau komposisi mineral felsik lebih banyak disebut batuan asam, sedangkan batuan dengan komposisi mineral mafik dan felsik sepadan digolongkan ke dalam batuan intermediet.

Terbentuk dari proses kristalisasi magma, feldspar lazimnya berasosiasi dengan batuan granitis dan batuan metamorf. Akan tetapi, feldspar paling umum ditemui pada batuan beku korok pegmatis. Pegmatit yang memiliki nilai komersial umumnya mempunyai bentuk seperti lensa dengan panjang bermacam-macam dari 0,3 sampai 1500 m.

Karena terbentuk pribadi dari proses kristalisasi magma, jenis feldspar ini disebut feldspar primer, berukuran bergairah dan terdapat berasosiasi dengan kuarsa. Kehadiran kuarsa bersifat pengotor yang mesti dipisahkan pada dikala pengolahan. Untuk kebutuhan komersial, feldspar primer mesti mempunyai kadar alkali total (K2O + Na2O) lebih dari 10%.

Selain feldspar primer, terdapat pula jenis lain yang digolongkan ke dalam feldspar diagenetis dan aluvial. Kedua jenis feldspar di atas yakni feldspar sekunder. Yang pertama terbentuk alasannya proses diagenesis sedimen piroklastik halus asam yang terendapkan dalam lingkungan air lakustrin, yang berasosiasi dengan cekungan sedimen tersier, lazimnya endapan bentonit atau zeolit, feldspar diagenetis mempunyai kadar alkali total (K2O + Na2O) relatif rendah (5%).

Feldspar aluvial terjadi selaku akhir rombakan batuan granit dan batuan asam lainnya. Kadar alkali total berkisar antara 5- 10%. Kedua jenis feldspar banyak terkandung mineral ikutan, mirip mika, hematit, tourmalin, garnet dan kuarsa (Hardjatmo dkk, 1992).

Deskripsi Mineralogi Feldspar

Sebagai mineral silikat pembentuk batuan, feldspar memiliki kerangka struktur tektosilikat yang menunjukkan 4 (empat) atom oksigen dalam struktur tetrahedral SiO2 yang dipakai juga oleh struktur tetrahedra lainnya. Kondisi ini menghasilkan kisi-kisi kristal seimbang terutama bila ada kation-kation lain yang masuk ke dalam struktur tersebut seperti penggantian silikon oleh aluminium.

Terlepas dari bentuk strukturnya, apakah triklin atau monoklin, feldspar secara kimiawi dibagi menjadi empat kalangan mineral ialah kalium feldspar (rumus kimia: KAlSi3O8), natrium feldspar (Rumus Kimia: NaAlSi3O8), kalsium feldspar (Rumus kimia: CaAl2Si2O8) dan barium feldspar (Rumus Kimia: Ba Al2Si2O8).

Sedangkan secara mineralogi, feldspar dikelompokkan menjadi Plagioklas dan K-Feldspar. Plagioklas ialah seri yang menerus sebuah larutan padat tersusun dari variasi komposisi natrium feldspar dan kalsium feldspar. Kelompok feldspar memiliki struktur kristal triklin, terdiri dari Na-plagioklas murni (albit, disingkat Ab) sampai Ca-plagioklas murni (anortit, disingkat An).

Mineral yang tergolong kelompok K-feldspar diklasifikasikan berdasarkan suhu kristalisasinya, mulai dari sanidin (suhu tinggi), ortoklas, mikroklin hingga tubruk-laria (suhu rendah). Keempat mineral mempunyai rumus kimia sama adalah KAlSi3O8 dan (utamanya) ditemukan pada jenis batuan beku asam mirip granit dan sienit, disamping itu ditemukan pula pada batuan metamorfosis dan hasil rework pada batuan sedimen.

Kegunaan Feldspar dan Spesifikasinya

Keberadaan feldspar dalam kerak bumi cukup melimpah. Walaupun demikian untuk kebutuhan komersial dibutuhkan feldspar yang memiliki kandungan (K2O + Na2O) lebih dari 10%. Selain itu, material pengotor oksida besi, kuarsa, oksida titanium dan pengotor lain yang berasosiasi dengan feldspar diusahakan tidak terambil sesedikit mungkin.

feldspar dari alam sehabis diolah dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri tertentu. Mineral ikutannya juga dapat dimanfaatkan sesuai spesifikasi yang ditentukan. Industri keramik halus dan beling/gelas ialah dua industri yang paling banyak menyantap feldspar olahan, khususnya yang memiliki kandungan K2O tinggi dan CaO rendah.

Sebagai industri yang banyak memakan feldspar, industri keramik mensyaratkan beberapa hal untuk feldspar olahan supaya mampu dipakai. Untuk pembuatan glasir dengan bahan feldspar, tergantung kelasnya yang mengharuskannya mempunyai kandungan oksida natrium dan besi dalam jumlah tertentu. Kegunaan mineral ini dalam industri beling gelas dan kaca lembaran memiliki spesifikasi tertentu yang harus dipenuhi agar produk yang dihasilkan sesuai dengan harapan pasar.

Sebagai unsur batu granit bersama kuarsa, mika dan mineral komplemen, keindahan feldspar dimanfaatkan untuk batu hias (ornament stone). Keindahan ini akan terlihat jika batuan granit tersebut sudah dipotong dalam bentuk lembaran (slab) dan dipoles.

Istilah bahwa feldspar ialah batuan ialah sesuatu hal yang salah kaprah. Feldspar bangun sendiri bersama beberapa mineral lain membentuk suatu batuan. Sebagai acuan kerikil granit yang dominan tersusun atas feldspar, dimana feldspar disini bertindak sebagai mineral dalam batuan granit, masyarakat awam banyak yang tidak mengetahui ihwal ini.

Update data: Januari 2021

Sumber https://www.geologinesia.com/

Kamis, 25 Februari 2021

Gipsum Bukan Batuan Tetapi Mineral

Pengertian Gipsum

Secara lazim, orang sering menyebut gipsum dengan perumpamaan Batu Gipsum atau Batuan Gipsum, ini ialah hal yang keliru alasannya gipsum ialah sebuah mineral, bukannya batuan. Sebagai seorang geologist, pemahaman gipsum ini harus dimengerti supaya kita tidak meneruskan kekeliruan yang sama di penduduk awam.

Keterdapatan gipsum di alam berupa mineral hidrous (CaSO4 2H2O). Jenis batuan pembawa mineral ini lazimnya adalah satinspar, alabaster, gipsit, dan selenit. Warna Gipsum mulai dari putih, putih kekuning-kuningan hingga abu-bubuk.


Selain di alam, gipsum mampu diperoleh dengan memproses air laut dan air kawah yang banyak mengandung sulfat dengan menambahkan komponen kalsium ke dalamnya. Selain itu diperoleh pula dari hasil sampingan industri kimia yang disebut gipsum sintetis.

Bagaimana Gipsum Terbentuk?

Gipsum yaitu mineral hidrous kalium sulfat (CaSO4 2H2O) yang terjadi di alam, berbentuk endapan sedimen mendatar dan erat dengan permukaan bumi dan memiliki sebaran yang luas. Gipsum sering berasosiasi dengan batu kapur, batu serpih, batu pasir, marmer, dan lempung. Mineral lain yang senantiasa berasosiasi dengan gipsum adalah mineral anhidrit (CaSO4), mineral sulfat sejenis gipsum tetapi tidak mengandung kristal H2O.

Sebagian besar endapan gipsum terbentuk dari air bahari dan cuma sedikit yang berasal dari endapan danau yang mengandung garam. Gipsum juga mampu terjadi dari hasil acara vulkanik, gas H2S dari fumarol bereaksi dengan kapur dan hasil pelapukan batuan. Endapan gipsum mampu ditemukan dalam 5 bentuk ialah :
  1. Batuan pembawa gipsum yang berupa granular dan buram serta mengandung sedikit dolomit, kerikil kapur dan kadar CaSO4 sebesar 76%.
  2. Gipsit yang bersifat lunak dan kurang murni.
  3. Alabaster mempunyai bentuk padat, berbutir halus, berwarna putih dan agak bening.
  4. Satinspar berupa serat dan berkilap (fiber), kadang-kadang ditemukan dalam lapisan tipis dengan bentuk kristal.
  5. Selenit yang berbentuk kristal dan transparan.


Deskripsi Mineralogi Gipsum

Gypsum merupakan mineral evaporite yang paling sering didapatkan dalam deposit sedimen berlapis yang berhubungan dengan mineral halit, anhidrit, belerang, kalsit dan dolomit. Gipsum (CaSO4.2H2O) sungguh seperti dengan mineral anhidrit (CaSO4). Perbedaan kimianya yaitu bahwa gypsum berisi dua ikatan hidrogen dioksida (air) dan sedangkan anhidrit ialah tanpa air. Gipsum yakni mineral sulfat yang paling umum ditemui.

Gipsum memiliki sifat fisik berwarna putih, kuning, abu-abu, merah jingga, hitam jika tak murni. Spesifik gravity 2,3. Kekerasan 2,0 (skala Mohs). Bentuk mineral kristalin, serabut dan masif dan memiliki beragam kilap mirip "vitreous", "silky", dan "sugary".

Secara kimia gipsum mengandung SO3 46,5%, CaO 32,6%, dan H2O 20,9%. Kelarutan gipsum dalam air adalah 2,1 gr/liter air pada suhu 40 Derajad celcius, 1,8 gr/liter air pada suhu 0 Derajad celcius, dan 1,9 gr/liter air pada suhu 70-90 Derajad celcius. Kelarutan gipsum akan bertambah seiring dengan penambahan HCl dan HNO3.

 orang sering menyebut gipsum dengan istilah Batu Gipsum atau Batuan Gipsum Gipsum Bukan Batuan Tetapi Mineral
Gambar gipsum dan sifat fisiknya.

Kegunaan dan Spesifikasi Gipsum

Gipsum dipakai selaku bahan baku atau materi penolong pada industri semen, pertanian, materi bangunan dan lain-lain. Manfaat gipsum baik di sektor industri maupun kontruksi terbagi atas dua macam adalah yang telah dikalsinasi dan yang belum.

Gipsum yang belum dikalsinasi banyak digunakan untuk industri semen Portland (sebagai retarder semoga semen tidak cepat membeku). Jika pembuatan semen sudah berbentuk klinker maka gipsum (atau adonan gipsum dan anhidrit) akan dicampurkan dan digerus bahu-membahu klinker tadi sehingga menjadi semen Portland.

Gipsum yang sudah di Kalsinasi dapat dipakai di sektor kontruksi untuk "wall board" dan partisi, yakni gipsum plaster. Dalam Bidang kedokteran untuk cetakan gigi, pengobatan tulang yang patah dan lain-lain.

Dalam Industri keramik/saniter untuk cetakan (moulding dan potting plaster); dengan kriteria berdasarkan ASTM. Selain itu gipsum juga digunakan dalam industri pasta gigi, bahan tahan api (gipsum plaster diaduk dengan 20% air), sumber pengerjaan asam sulfat, amonium sulfat, kapur tulis dan sebagai materi yang dipakai dalam kegiatan pengeboran.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Rabu, 24 Februari 2021

Dolomit Yakni Mineral, Bukan Batuan

Apa itu Dolomit?

Sama halnya dengan gipsum yang sering disebut selaku batuan, dolomit pun di masyarakat awam disebut dengan batu dolomit atau batuan dolomit. Perlu diketahui bahwa dolomit bukan batuan, namun ialah mineral.

Dolomit yaitu kelompok mineral sangat unik, dan jikalau ketimbang kalsit yang mudah diketahui , baik cara terbentuknya, penamaan, maupun mineral penyusunnya. Untuk membedakan antara keduanya cuma dapat dijalankan dengan memakai peralatan bantu seperti mikroskop elektron (scanning electron microscope-SEM), zat pewarna (stainning) serta difraksi sinar-X.


Dolomit didapatkan tahun 1795 oleh de Dolomieu di tempat Tyrol, Perancis Selatan dikala menganalisis watu gamping dan ternyata didapatkan kandungan magnesium sungguh tinggi pada batuan tersebut. Dolomit ialah karbonat kembar berunsur kalsium (Ca) dan magnesium (Mg).

Pemanfaatan dolomit di sektor industri karena komponen magnesiumnya. Unsur oksida maupun hidroksida magnesium dalam dolomit memiliki sifat sangat bagus, khususnya sifat refraktori serta derajat kecerahan, bahkan warna putih oksida ini dijadikan persyaratan untuk mengukur derajat kecerahan materi lain.

Pembentukan Dolomit

Keterdapatan dolomit di alam tidak seperti batugamping, namun tersebar cukup luas dalam jumlah relatif banyak. Hingga ketika ini, mula jadi mineral dolomit masih menjadi tanda tanya serta masih diperdebatkan oleh para jago.

Proses hidrotermal yaitu salah satu teori mula jadi dolomit. Walaupun demikian ada beberapa teori mula jadi dolomit, diantaranya ialah :
  • Cara Primer: merupakan sedimentasi eksklusif dari air maritim yang belum mampu dibuktikan. Secara lazim, dolomit berbentuk urat, terbentuk bahu-membahu dalam cebakan bijih;
  • Cara Sekunder: adalah mineral dolomit terjadi sebab penggantian mineral kalsit. Beberapa mineral sekunder membentuk kristal yang tidak tepat karena absorpsi magnesium dari air maritim ke dalam batugamping, yang lebih diketahui dengan proses dolomitisasi, yaitu proses perubahan mineral kalsit menjadi dolomit. Dolomit sekunder dapat juga terbentuk alasannya adalah proses presipitasi sebagai endapan evaporit.


Faktor yang berpengaruh kepada pembentukan dolomit sekunder, antara lain adanya tekanan air yang banyak mengandung unsur magnesium dan prosesnya berjalan dalam waktu usang. Semakin tua umur batugamping, makin besar kemungkinan untuk menjelma dolomit. Dapat dibilang bahwa dolomit yang sering kita temui terbentuk karena proses pergantian (diagenesis), peralihan mineral kalsit maupun aragonit.

Dolomit terdapat dalam batuan segala umur, khususnya pada batuan lebih tua dari Holosen. Dolomit umumnya terdapat bantu-membantu dengan kalsit atau lazimdisebut juga dengan dolomitisasi serta dedolomitisasi.

Proses dolomitisasi sering terjadi jika kalsit menjelma mineral dolomit, sedangkan dedolomitisasi kalau dolomit berganti kembali menjadi mineral kalsit. Secara lazim proses dolomitisasi dapat terjadi sebagai berikut:
  1. Pemompaan kembalinya air maritim yang terperangkap melalui batugamping
  2. Pencampuran antara air maritim dan air tanah dalam lapisan batugamping
  3. Pengaruh air hujan melarutkan serta memindahkan ion magnesium dari mineral kalsit yang satu ke mineral kalsit lain atau dari mineral lempung
  4. Proses penguapan dan pengendapan dari air maritim
  5. Proses hidrotermal
  6. Peresapan air maritim yang terperangkap ke dalam lapisan batugamping dibawahnya.

Deskripsi Mineral Dolomit

Sebagai salah satu rumpun mineral karbonat, mineral dolomit murni secara teoritis mengandung 45,6% MgCO3 atau 21,9% MgO dan 54,3% CaCO3 atau 30,4% CaO. Rumus kimia mineral dolomit dapat ditulis selaku CaCO3.MgCO3, CaMg(CO3)2 atau CaxMg1-xCO3, dengan nilai x lebih kecil dari satu.

Dolomit yang ada di alam jarang dalam keadaan murni, sebab biasanya mineral ini selalu terdapat bahu-membahu dengan batugamping. Dalam batuan dolomit, mineral kalsit adalah pengotor paling utama, disamping mineral kuarsa, lempung maupun pirit. Dalam mineral dolomit terdapat juga ion-ion pengotor, terutama ion besi (Fe).

Sama halnya dengan gipsum yang sering disebut sebagai batuan Dolomit adalah Mineral, Bukan Batuan
Gambar mineral dolomit dan sifat fisiknya.

Dolomit berwarna putih keabu-abuan atau kebiru-biruan dengan kekerasan lebih lunak dari batugamping, yaitu berkisar antara 3,5 - 4, bersifat pejal, berat jenis antara 2,8 - 2,9, berbutir halus sampai berangasan dan memiliki sifat gampang menyerap air serta mudah dihancurkan.

Klasifikasi dolomit dalam industri didasarkan atas kandungan unsur magnesium. Kandungan bagian magnesium inilah sangat menentukan nama dolomit. Misalnya, batugamping mengandung ± 10 % MgCO3 disebut batugamping dolomitan, sedangkan jikalau mengandung 19 % MgCO3 disebut dolomit.

Kegunaan Dolomit

Pemanfaatan dolomit dalam industri tidak seluas penggunaan batugamping dan magnesit. Kadang-kadang kegunaan dolomit ini sejalan atau sama dengan penggunaan batugamping atau magnesit untuk sebuah industri tertentu. Akan namun, biasanya dolomit lebih diminati sebab banyak terdapat di alam.

Tidak semua dolomit alam mampu digunakan secara pribadi untuk industri. Hal ini disebabkan oleh adanya pengotor yang terkandung didalamnya baik berupa batuan, mineral maupun bagian tertentu. Penyebab lainnya yaitu sifat fisik yang tidak memenuhi syarat untuk industri tertentu.

Oleh karena itu, sebelum digunakan dolomit tersebut mesti di proses apalagi dahulu untuk menghilangkan kotoran, memaksimalkan mutu serta memperbaiki sifat fisik yang diharapkan oleh industri yang memerlukannya.

Pengolahan dolomit paling sederhana ialah dengan cara pembakaran. Pada pembakaran tersebut dolomit akan melepaskan karbon dioksida (CO2). Suhu yang diharapkan untuk melepaskan CO2 pada tekanan 1 atmosfir kira-kira 725C.

Perubahan suhu tergantung dari jenis tanur (kiln) yang dipakai, tetapi kadang kala juga dipengaruhi oleh pengotor di dalam dolomit. Hasil pembakaran ini disebut doloma tohor (CaMgO2) yang masih bersifat reaktif. Apabila bercampur dengan air, maka terbentuklah doloma padam.

Pembakaran dolomit dapat dilakukan dalam tanur tegak atau tanur berputar. Penggunaan tanur berputar berkapasitas tinggi mampu meminimalisir ongkos. Biasanya dolomit harus dihancurkan apalagi dulu menjadi partikel berukuran 3 - 40 mm. Dalam tanur tegak, ukuran yang digunakan ialah 40 - 150 mm dan menciptakan dolama berkualitas baik, terutama untuk pembuatan bata tahan api.

Penggunaan yang lain dari dolomit, yakni dalam industri refraktori, tungku pemanas atau tungku pencair, dan juga dalam industri pupuk sebagai bahan baku pupuk dolomit. Fungsi pupuk dolomit yakni untuk memajukan pH tanah, disini bagian Mg dalam dolomit sungguh berperan.

Dolomit juga mampu dipakai pada industri cat selaku pengisi (filler), industri kaca, plastik, kertas, materi pembuat semen, sorel, sea water magnesia, industri alkali, pembersih air, industri ban, plywood, industri obat-obatan maupun kosmetik, gabungan kuliner ternak, industri keramik, serta materi penggosok (abrasive).
Sumber https://www.geologinesia.com/

Selasa, 23 Februari 2021

Mineral Pirit Selaku Isyarat Adanya Emas

Apa itu Mineral Pirit ?

Pirit yaitu mineral berwarna kekuningan dengan kilap logam yang cerah. Pirit mempunyai rumus kimia FeS2 (disulfida besi) dan ialah mineral sulfida yang paling umum ditemui. Pirit bisa terbentuk pada suhu tinggi-rendah dan keterdapatannya bisa dalam batuan beku, metamorf dan sedimen meskipun dalam jumlahnya yang sedikit.

Nama "pirit" berasal dari bahasa Yunani "pyr" yang berarti "api." Nama ini diberikan karena pirit dapat dipakai untuk membuat bunga api yang dibutuhkan untuk menciptakan api kalau dipukul terhadap logam atau materi keras yang lain.


Di penduduk , pirit mempunyai berbagai julukan yang sangat populer diantaranya yakni "penghantar emas", "emas muda", bahkan ada yang juga menyebutnya selaku "emas imitasi". Hal ini dikarenakan pirit mempunyai warna mineral yang mirip emas.

Dengan kilap logam dan berat jenis yang tinggi sering menjadikan orang keliru untuk membedakan pirit dengan emas, bahkan pada prospektor emas berpengalaman sekalipun. Namun, yang perlu diamati disini bahwa kedua mineral ini sering terbentuk tolong-menolong, bahkan pada beberapa deposit, pirit mengandung kandungan emas yang bernilai hemat untuk ditambang.

Bagaimana Mengidentifikasi Mineral Pirit ?

"Handspecimens" atau conto pirit biasanya gampang untuk diidentifikasi. Mineral ini senantiasa memiliki warna kekuningan, kilap logam dan berat jenis yang tinggi. Satu-satunya mineral yang memiliki sifat fisik yang seperti dengan pirit ialah markasit, suatu dimorph pirit dengan komposisi kimia yang serupa namun mempunyai struktur kristal ortorombik.

Markasit tidak memiliki warna kuning terang seperti pirit, tetapi berwarna kuningan pucat kadang kala tampakdengan warna sedikit hijau. Markasit lebih ringkih dari pirit dan juga mempunyai berat jenis sedikit lebih rendah adalah 4,8.


Sebenarnya pirit dan emas mampu dengan gampang dibedakan, emas sangat lembut dan akan penyok bila diberikan tekanan (emas sifatnya elastis). Emas mempunyai cerat berwarna kuning, sementara pirit berwarna hitam kehijauan. Selain itu emas memiliki berat jenis yang lebih tinggi dari pirit. Dengan Melakukan pengujian kecil akan membantu Anda membedakan antara pirit dengan emas.

Pirit adalah mineral berwarna kekuningan dengan kilap logam yang cerah Mineral Pirit Sebagai Petunjuk Adanya Emas
Gambar mineral pirit dan sifat fisiknya.

Apa Kegunaan Mineral Pirit ?

Pirit berisikan besi dan welirang (FeS2), namun mineral ini bukan ialah sumber utama dari komponen besi. Besi umumnya diperoleh dari bijih oksida seperti hematit dan magnetit. Deposit Oksida besi di alam jauh lebih besar dibandingkan besi sulfida dan juga lebih mudah mengekstraknya menjadi logam besi dibanding besi sulfida.

Pirit digunakan selaku bijih utama dalam memproduksi belerang (welirang) dan asam sulfat. Saat ini sebagian besar sulfur diperoleh selaku produk sampingan dari pengolahan gas alam dan minyak mentah. Beberapa belerang terus diproduksi dari pirit selaku produk sampingan dari produksi emas.

Penggunaan yang terpenting dari pirit sebenarnya ialah selaku mineral prospeksi yang mampu menandakan keberadaan bijih emas. Emas dan pirit terbentuk pada kondisi yang sama dan terbentuk tolong-menolong dalam suatu batuan. Dalam beberapa deposit, sejumlah emas terbentuk selaku inklusi dan substitusi dalam pirit.

Akan namun, kita juga mesti berhati-hati karena pirit juga mampu terbentuk sebagai pengganti materi organik pada sedimen organik mirip batubara dan serpih hitam. Pembusukan bahan organik dalam batuan akan menyantap oksigen dan melepaskan welirang. Pada kondisi demikian, pirit tidak mampu dijadikan petunjuk akan keberadaan emas.

Beberapa pirit mampu mengandung 0,25% berat emas ataupun lebih. Meskipun nilai ini yakni nilai terkecil dari bijih, tetapi harga emas yang sangat tinggi ditambah produk pirit mungkin akan menciptakan nilai tambang menjadi lebih irit.

Misalnya, jikalau pirit mengandung 0,25% emas dan harga emas yaitu $1500 per troy ounce, maka 1 ton pirit akan berisi sekitar 73 troy ons emas senilai lebih dari $109.000. Namun ini bukan menjadi jaminan yang akan menghadirkan laba, karena dasar perhitungan keuntungan berada pada nilai "cost recovery" pengambilan emas dalam pirit.

Pada sekitar tahun 1800-an, Pirit sungguh terkenal di amerika dan eropa alasannya dipakai selaku watu permata. Dahulu sebagian besar batu embel-embel disebut "markasit", tetapi sesungguhnya mereka ialah pirit.

Markasit tidak sesuai untuk dijadikan tambahan sebab mineral ini cepat mengalami oksidasi, dan produk oksidasinya sungguh menyebabkan kerusakan fisik dari suatu aksesori. Namun, pirit pun bahwasanya bukanlah kerikil embel-embel yang manis alasannya adalah mineral ini mudah terkorosi.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Jumat, 19 Februari 2021

Deskripsi, Genesa Dan Kegunaan Mineral Kalsit

Apa itu Mineral Kalsit ?

Kalsit adalah mineral karbonat dan polimorf kalsium karbonat yang paling stabil. Kalsit ialah mineral penyusun berbagai jenis batuan dengan rumus kimia CaCO3. Kalsit sangat biasa didapatkan di seluruh dunia baik di dalam batuan sedimen, batuan metamorf, maupun batuan beku. Beberapa jago geologi menganggapnya selaku "ubiquitous mineral" atau mineral yang dapat hadir di nyaris semua jenis batuan.

Mineral kalsit merupakan mineral utama pembentuk watu kapur (batugamping) ataupun batu marmer. Kedua batuan tersebut sungguh banyak didapatkan di permukaan bumi dan selaku salah satu repositori karbon paling besar di planet kita. Sifat fisik dan kimia dari mineral kalsit menjadikannya sebagai salah satu mineral yang paling kerap muncul.


Kalsit dapat dipakai selaku materi konstruksi, material abrasif, pupuk pertanian, agregat untuk konstruksi bangunan, pigmen, farmasi, dan masih banyak lagi kegunaan lainnya. kalsit memiliki lebih banyak kegunaan dibandingkan mineral-mineral yang lain.

Baca juga tentang: Mineral Intan

Batu Kalsit Mengacu Pada Genesa Batu Kapur dan Marmer

Secara umum, proses terbentuknya mineral kalsit (genesa) ataupun keterdapatan kalsit berhubungan dekat dengan pembentukan watu kapur dan watu marmer. Mungkin itulah yang menciptakan banyak orang awam menyebut mineral kalsit selaku batu kalsit. Akan namun, perlu dimengerti bahwa kalsit bukan batuan, tetapi merupakan mineral utama penyusun batu gamping maupun watu marmer.

Batu kapur (batugamping) yakni batuan sedimen yang secara umum dikuasai tersusun atas mineral kalsit. Batuan tersebut terbentuk baik dari presipitasi kimia kalsium karbonat maupun transformasi dari serpih, koral, alga yang mengalami diagenesis. Batu kapur juga mampu terbentuk sebagai deposit di gua-gua akibat pengendapan kalsium karbonat.

Baca juga: Ciri Ciri Batu Gamping

Marmer adalah batuan yang terbentuk ketika watu kapur dikenai panas dan tekanan. Penyelidikan pada marmer umumnya akan mengungkapkan pembelahan mineral kalsit secara jelas. Ukuran kristal kalsit ditentukan oleh tingkat metamorfosis. Marmer yang mengalami tingkat metamorfisme tinggi lazimnya akan memiliki kristal kalsit yang lebih besar.

Di alam, kalsit bisa ditemukan dalam kondisi murni maupun tidak murni. Kalsit yang tidak murni disebabkan alasannya adanya mineral pengotor akhir penggantian (substitusi) bagian kalsium (Ca) oleh komponen lain berbentuklogam mirip Fe, Mg, dan Mn.


Kristal Kalsit dan Deskripsi Sifat Fisiknya

Unsur kimia pembentuk kristal kalsit terdiri atas kalsium (Ca) dan karbonat (CO3). Sistem kristal kalsit ialah heksagonal dengan bagian rhombohedral, tidak berwarna dan transparan. Kalsit memiliki berat jenis 2,7 dengan kekerasan 3 Skala Mohs.

Kalsit dapat berbutir halus sampai berangasan dan mampu terbentuk selaku stalaktit, oolitik, atupun pisolitik. Kalsit yang murni kebanyakan berwarna putih, sedangkan yang tidak murni (alasannya adalah subsitusi) berwarna abu-bubuk, merah, hijau, kuning, ataupun coklat.

Kalsit adalah mineral karbonat dan polimorf kalsium karbonat yang paling stabil Deskripsi, Genesa dan Kegunaan Mineral Kalsit
Gambar mineral kalsit dan sifat fisiknya.

Unsur Kalsium (ca) dalam kalsit mampu tergantikan oleh unsur logam selaku pengotor yang dalam prosentasi berat tertentu membentuk mineral lain. Berdasarkan sifat fisik berupa tata cara kristal, kalsit mampu dibedakan dari aragonit (CaCO3). Aragonit memiliki tata cara kristal ortorombik, sedangkan kristal kalsit yaitu heksagonal.

Dalam pembentukan kerikil marmer sifat fisik dan kimia kalsit berganti alasannya adalah proses metamorfosa (tekanan dan temperatur yang tinggi). Semua ini mampu menjelaskan wacana banyaknya mineral yang mampu berasosiasi dengan mineral kalsit.

Kegunaan Kalsit Pada Konstruksi dan Industri Kimia

Sektor konstruksi yakni pelanggan utama dari kalsit dalam bentuk batu kapur dan marmer. Batuan ini sudah banyak digunakan selama ribuan tahun. Blok watu kapur selaku materi konstruksi utama digunakan di banyak piramida di Mesir dan Amerika Latin.

Lihat juga mengenai: Manfaat Batu Gamping

Saat ini, batu kapur (batugamping) dan marmer digunakan selaku batuan pernak-pernik konstruksi seperti lantai/ubin dan pagar, ini sudah tentu sehabis melalui tahapan pemolesan sehingga menghasilkan corak yang lebih indah.

Konstruksi terbaru menggunakan kalsit dalam bentuk batu kapur dan marmer untuk menciptakan semen dan beton. Bahan-materi ini mudah dicampur, dimuat dan ditempatkan dalam bentuk bubur yang akan mengeras menjadi materi konstruksi tahan lama. Beton digunakan untuk membuat bangunan, jalan raya, jembatan, dinding dan banyak struktur lainnya.

Di industri kimia, kalsit digunakan untuk memproduksi kaustik soda dan alkali lainnya dengan menggunakan solvay process. Kalsit jenis ringan berfungsi selaku filler, extender coating pada industri cat, karet, farmasi, dan plastik. Produk lain yang banyak dihasilkan dari mineral ini yaitu kalsium hipklorit, asam sitrit, propilin oksida, gliserin, dan fosfat (lihat disini Manfaat Fosfat).

Kalsium karbonat yang berasal dari batugamping atau marmer dengan kemurnian tinggi digunakan juga dalam industri kimia obat. Kalsium karbonat dapat dibentuk menjadi tablet kunyah yang dipakai dalam netralisasi asam lambung. Kalsit juga merupakan materi utama pada banyak obat pencernaan dan penyakit lainnya.

Pupuk Kalsit Berasal Dari Kapur Kalsit

Kalsit memiliki kegunaan sebagai penetral asam. Selama ratusan tahun, orang-orang menggunakan watu kapur dan marmer yang telah dihancurkan untuk menetralkan tingkat keasaman tanah. Mereka melakukannya dengan cara menyebar debu hasil penghancuran kerikil kapur atau marmer tersebut ke atas tanah. Terkadang juga mereka aben/memanaskannya untuk menghasilkan kapur yang dapat bereaksi dengan segera dalam menetralkan pH tanah (keasaman tanah).

Kegiatan diatas pada zaman terbaru dikala ini dikenal sebagai pemupukan. Bubuk kalsit tidak dihancurkan lagi secara manual, namun telah di proses dengan modern dengan menambahkan unsur nutrisi yang diperlukan oleh tanah.

Pemupukan tanah balasannya akan optimal kalau keasaman tanah mampu dikurangi dan tanah senantiasa mendapatkan suplai nutrisi yang cukup. Kapur kalsit yang dipakai dapat berupa kapur tohor (quik lime), kapur padam (hidrated lime), ataupun dalam bentuk tepung yang ongkosnya lebih murah ketimbang jenis yang lain.

Kegunaan Kalsit Lainnya

Kegunaan lainnya dari mineral kalsit yaitu untuk pemurnian gula bit, selaku pengawet masakan kaleng (meminimalisir keasaman), pembuatan baja (sebagai fluks atau slag), flotasi logam, pembuatan kertas (menerima alkali pada proses sulfat), pembuatan gelas, peralatan optik, pakan ternak, kosmetik, dan PVC polymer. Secara biasa , kalsit digunakan diberbagai sektor industri didasarkan atas sifat fisik dan kimianya.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Minggu, 14 Februari 2021

Intan Ialah Mineral, Bukan Kerikil Permata Ataupun Berlian

Pengertian Intan

Intan (diamond) adalah mineral yang langka, yang terjadi secara alamiah dan terdiri dari komponen karbon. Setiap atom karbon dalam intan dikelilingi oleh empat atom karbon yang saling terhubung dengan sebuah ikatan kovalen yang besar lengan berkuasa. Intan ialah mineral sederhana, seragam, dan populer sungguh berpengaruh.

Intan sangat menarik, dikarenakan ikatan kimianya yang alami menciptakan mineral ini sangat resisten. Sifat resisten ini membuatnya cocok digunakan selaku alat pemotong dan untuk kebutuhan lainnya dimana daya tahan/kekuatan material diharapkan.


Mineral intan juga memiliki sifat optik yang khusus, mirip indeks refraksi yang tinggi, dispersi tinggi, dan kilau tinggi. sifat ini membuat intan dijadikan kerikil permata yang paling terkenal di dunia yang sering disebut selaku berlian.

Berlian yaitu intan yang telah diproses dengan cara penggosokan dan sudah dibuat sesuai dengan kaidah-kaidah pemotongan (cutting), dan telah siap untuk dijadikan aksesori kalung, gelang, cincin, bross, dan lain-lain.

Lihat disini: Daerah Penghasil Intan

Intan ialah sebuah misteri, mereka berisikan unsur karbon sehingga banyak orang yakin bahwa intan terbentuk dari batubara. Masih banyak dosen ataupun guru disekolah/kampus yang mengajarkan bahwa intan terbentuk dari batubara, dan ini yaitu hal yang tidak benar.

Perbedaan Intan, Berlian, Permata, dan Batu Mulia

Masih banyak orang yang galau dengan penggunaan ungkapan dalam dunia "gemstone". ungkapan-perumpamaan tersebut sungguh banyak yang keluar dari fakta ilmiah. Sebagai seorang geologist, diharapkan kita mampu mengetahui penggunaan perumpamaan tersebut dan berusaha memberi pemahaman ke masyarakat perihal penggunaan perumpamaan tersebut.


Dibawah ini disajikan sejumlah rangkuman fakta ilmiah yang mampu menjawab perbedaan antara intan, watu mulia, permata, berlian, batu hias dan sebagainya :
  • Intan ialah mineral, bukan batuan.
  • Tidak benar intan terbentuk dari batubara.
  • Berlian ialah intan yang sudah diproses.
  • Batu Mulia ialah semua jenis mineral dan batuan yang memiliki sifat fisik, kimia dan keterdapatan yang langka membuatnya bernilai hemat.
  • Batu mulia terdiri atas 3 jenis yaitu ; kerikil permata (precious stones), watu setengah permata (semi-precious stones), dan watu hias (ornamental stones).

Baca juga tentang: Pengertian Mineral

Bagaimana Intan Terbentuk ?

Di permukaan bumi, intan telah bukan mineral yang original. Hal ini dikarenakan mereka terbentuk pada suhu dan tekanan yang tinggi pada mantel bumi, sekitar 100 mil dibawah permukaan. Sebagian besar intan yang ditemukan di permukaan bahwasanya ialah hasil kiriman dari bawah permukaan oleh letusan gunung api.

Letusan ini dimulai dari perjalanan magma dari mantel, merobek blok batuan mantel yang mengandung intan dan mengantarkannya ke permukaan bumi tanpa mencair. Blok batuan mantel diketahui selaku xenolith. Mereka mengandung intan yang terbentuk pada suhu dan tekanan yang tinggi dari mantel.

Lihat juga tentang: Skala Kekerasan Mohs

Kebanyakan intan dihasilkan dari pertambangan yang berisi batuan xenolith dan sedimen aluvial yang ialah hasil pelapukan blok batuan yang mengandung intan yang telah tertransportasi oleh media air.

 yang terjadi secara alamiah dan terdiri dari unsur karbon Intan Merupakan Mineral, Bukan Batu Permata Ataupun Berlian
Gambar intan, sifat fisik, dan pembentukannya.

Beberapa intan diperkirakan terbentuk dalam keadaan suhu tekanan tinggi dari zona subduksi. Selain itu, intan juga dapat terbentuk dari tumbukan asteroid dengan permukaan bumi (impact asteroid).

Asteroid yang dalam perjalanannya memasuki bumi disebut selaku meteor, jika sudah hingga di permukaan akan membentuk meteorit (kerikil meteor). Batu meteor (meteorit) banyak ditemukan mengandung intan, akan namun hingga saat ini belum ada tambang intan yang berasal dari deposit tersebut.

Baca juga tentang: Manfaat Tembaga

Manfaat / Kegunaan Intan

Sifat fisik dan kimia yang unik dari intan menjadikannya cukup banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Kekerasan, refraksi, dispersi, dan kilau yang tinggi serta keterdapatannya di permukaan, membuat intan menjadi mineral yang bernilai irit dan sangat langka. Kebanyakan harga intan yang telah diolah diputuskan dari kualitasnya seperti warna, cara pemotongan (cut), clarity, dan karat.

Intan banyak dipakai sebagai pemanis (kalung, gelang, cincin, dsb), alat pemotong (gergaji, alat gerinda), dan mata bor (bit) pada beberapa mesin pengeboran. Selain itu intan juga mampu dipakai selaku membran (selaput) epilog pada mesin x-ray, selaput getar pada speaker, konduktivitas mikroelektronik, dan microbearing pada jarum jam tangan.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Skala Kekerasan Mohs Dan Cara Menggunakannya

Apa itu Skala Mohs?

Salah satu cara yang terpenting untuk mengidentifikasi spesimen mineral yaitu dengan melakukan uji/test kekerasan mohs (Mohs Hardness Test). Tes ini dilakukan untuk membandingkan ketahanan mineral kepada goresan oleh 10 mineral rujukan, yang umum kita kenal sebagai Skala Kekerasan Mohs (Mohs Hardness Scale). Sifat fisik mineral berupa nilai kekerasan sungguh tangguh untuk diagnostik pada sebagian besar mineral.

Friedrich Mohs, seorang mineralogist dari Jerman, yang paling pertama menyebarkan skala ini. Ia menentukan 10 mineral yang berlawanan tingkat kekerasannya, dari mineral yang lembut (talk) hingga mineral yang sangat keras (intan). Dengan pengecualian pada mineral intan, semua mineral dalam skala mohs relatif lazim, gampang, dan murah ditemukan (lihat disini manfaat intan).

Bagaimana Membuat Perbandingan Kekerasan?

"Kekerasan" yakni resistansi material untuk tidak tergores. Tes ini dilaksanakan dengan menempatkan bab yang tajam dari satu spesimen pada permukaan spesimen lain dan berupaya untuk menciptakan goresan. Berikut ialah empat situasi yang mampu diamati dikala membandingkan kekerasan dua spesimen:
  1. Jika Spesimen A bisa menggores Spesimen B, maka Spesimen A lebih keras dibandingkan dengan Spesimen B.
  2. Jika Spesimen A tidak menggores Spesimen B, maka Spesimen B lebih keras ketimbang Spesimen A.
  3. Jika dua spesimen relatif sama kekerasannya maka kedua spesimen tersebut akan relatif tidak menghasilkan ukiran (mungkin terjadi goresan kecil, atau mungkin kita akan sulit menentukan ada atau tidaknya ukiran yang terjadi).
  4. Jika Spesimen A mampu tergores oleh Spesimen B, namun tidak bisa tergores oleh Spesimen C, maka nilai kekerasan Spesimen A berada diantara kekerasan Spesimen B dan Spesimen C.

Salah satu cara yang paling penting untuk mengidentifikasi spesimen  Skala Kekerasan Mohs dan Cara Menggunakannya
Mineral tumpuan skala mohs dan kekerasan beberapa benda

Tips Melakukan Uji Skala Mohs

Tips melaksanakan uji/test ini ialah dengan mengetahui nilai kekerasan 10 mineral referensi (dimulai dari mineral talk - intan). Jika anda memilih bahwa suatu spesimen memiliki kekerasan Mohs 4 maka Anda mampu dengan segera mendiagnosa spesimen tersebut dari daftar 10 mineral rujukan yang ada.

Praktek dan pengalaman akan meningkatkan kesanggupan Anda saat melaksanakan tes ini. Pada akhirnya Anda akan menjadi lebih cepat dalam mengidentifikasi sebuah spesimen dan dan akan lebih percaya diri.

Perlu diamati disini bahwa jika kekerasan spesimen dimengerti yakni sekitar 5 atau kurang, gesekan yang dihasilkan berasal dari kekuatan tenaga anda yang minimal. Namun, kalau spesimen diketahui memiliki kekerasan sekitar 6 atau lebih besar, maka goresan yang dihasilkan berasal dari kekuatan tenaga anda yang maksimal.

Beberapa orang memakai benda-benda biasa untuk mendapat nilai kekerasan dengan cepat. Misalnya, seorang ahli geologi di lapangan mungkin selalu membawa pisau saku. Pisau mampu dipakai untuk uji kekerasan cepat untuk memilih apakah spesimen lebih keras atau lebih lembut dari nilai 5-6,5 Skala Mohs (pisau tersusun atas baja dengan rata-rata nilai kekerasannya berada pada 5-6,5 Skala Mohs).

Sebelum menggunakan benda-benda umum sebagai alat pengujian cepat, sangat direkomendasikan untuk mengkonfirmasi nilai kekerasan benda tersebut. Sebagai acuan, beberapa pisau tersusun atas baja yang lebih keras.

Benda-benda biasa disekitar kita juga mampu berguna kalau Anda tidak memiliki satu set mineral tumpuan. Sangat dianjurkan menggunakan kuarsa, alasannya adalah kuarsa yakni mineral yang paling sering ditemui di lapangan.

Berbagai Jenis Uji Kekerasan

Tes kekerasan yang dikembangkan oleh Friedrich Mohs merupakan pengujian pertama di dunia untuk menganggap ketahan material/materi dalam menggores dan digores. Ini yakni uji perbandingan yang sungguh sederhana dan mungkin karena kesederhanaannya itu telah membuatnya menjadi tes kekerasan yang paling banyak dipakai orang.

Karena Skala Mohs dikembangkan pada tahun 1812, banyak tes kekerasan yang berbeda sudah diciptakan setelahnya. Ini tergolong tes kekerasan oleh Brinell, Knoop, Rockwell, Shore dan Vickers. Setiap pengujiannya menggunakan "indentor" kecil yang diterapkan pada spesimen yang diuji.

Tes terbaru tersebut mengukur/menghitung kedalaman tabrakan, lekukan, dan jumlah gaya yang digunakan untuk bisa menciptakan sebuah nilai kekerasan dari spesimen yang di uji. Karena masing-masing tes ini memakai alat dan perhitungan yang berlawanan, maka aneka macam jenis pengujian tersebut tidak bisa pribadi dibandingkan satu dengan yang yang lain.

Jadi, jikalau uji kekerasan "Knoop" yang dilaksanakan maka nilai kekerasannya akan dilaporkan sebagai "Kekerasan Knoop". Untuk argumentasi seperti di atas, maka hasil uji kekerasan Mohs juga mesti dilaporkan selaku "Kekerasan Mohs", misalnya ditulis nilai kekerasan dolomit adalah 3,5 - 4 Skala Mohs.

Update Data: Januari 2021

Sumber https://www.geologinesia.com/