Tampilkan postingan dengan label Emas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Maret 2021

Desain Metode Hidrotermal Untuk Pemburu Emas

Para pemburu emas atau bahasa kerennya "gold hunter" telah niscaya sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal. Pada peluang ini, geologinesia akan menjajal membahas dasar dari desain alterasi yang sekiranya mampu memiliki kegunaan bagi anda para pemburu emas. Postingan ini akan aku buat secara sedikit demi sedikit, dengan maksud supaya "basic" anda bisa lebih besar lengan berkuasa, sehingga ketika menuju ke rancangan yang lebih rumit, anda tidak akan dibingungkan oleh aneka macam macam istilah dan pengertian. Konsep yang mau saya diskusikan disini yaitu desain paling dasar yang disebut dengan Konsep Sistem Hidrotermal.

Sistem Hidrotermal

Sistem hidrotermal dapat didifinisikan sebagai sirkulasi fluida panas (50 sampai > 500 C), secara lateral dan vertikal pada temperatur dan tekanan yang bervarisasi, di bawah permukaan bumi (Pirajno, 1992). Sistem ini mengandung dua komponen utama, adalah sumber panas dan sumber fluida.

Sirkulasi fluida hidrotermal mengakibatkan himpunan mineral pada batuan dinding menjadi tidak stabil, dan cenderung menyesuaikan kesetimbangan baru dengan membentuk himpunan mineral yang sesuai dengan kondisi yang baru, yang dikenal selaku alterasi hidrotermal. Hasil dari alterasi hidrotermal diputuskan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah:
1. Karakter batuan dinding, 
2. Karakter fluida (Eh, pH), 
3. Kondisi tekanan maupun temperatur pada ketika reaksi berlangsung (Guilbert dan Park, 1986), 
4. Konsentrasi, serta usang acara hidrotermal (Browne, 1991 dalam Corbett dan Leach, 1996). 
5. Temperatur dan kimia fluida merupakan faktor yang paling berpengaruh pada proses ubahan hidrotermal (Corbett dan Leach, 1996).

     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Sistem Hidrotermal - Magmatik.

    Sumber panas utama dari sistem hidrotermal adalah proses magmatisme. Oleh sebab itu, daerah dimana terjadi proses magmatisme, cenderung terbentuk metode hidrotermal. Baik magmatisme yang membentuk plutonisme maupun vulkanisme. Sedangkan fluida utamanya ialah fluida magmatik dan meteorik (baik air meteorik, air metamorfik, bahkan air bahari).

     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Sistem fluida hidrotermal.




     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Skema Sistem Hidrotermal yang terkait dengan Magmatisme.

    Mari kita membicarakan wacana Fluida Magmatik ....

    Fluida Magmatik

    Fraksi-fraksi volatil hidrous yang umumnya lebih ringan dan alkalik, cenderung terakumulasi pada bab atas kantong magma, disebut sebagai fluida magmatik atau juvenile, dalam artian masih fresh, belum terkotori dan belum pernah timbul di permukaan. Komponen volatil di dalam magma biasanya berisikan H2O, H2S, CO2, HCl, HF, dan H2 (sebagian besar adalah H2O, yaitu sekitar 1-15%). 

    Pada sistem hidrotermal akan dijumpai tiga fase subtansi, adalah padat (solid), cair (liquid), dan gas (gas). Pada ketika tata cara masih aktif, fase fluida (cair dan gas) akan mayoritas. Molekul fase padat bila dipanaskan, akan cenderung bergerak satu sama lain, pada dikala mencapai melting point, fase padat akan menjelma fase cair.

    Apabila temperatur terus meningkat, pada saat mencapai kritikal temperatur (boiling point), cairan akan bermetamorfosis uap atau gas. Steam yakni perumpamaan kusus untuk menyebut uap air (water vapor). H2O ialah senyawa yang mampu hadir sebagai fase padat (es), fase cair (air), dan fase gas (steam) pada tekanan yang relatif sama.

    Pada temperatur dan tekanan tertentu, beberapa substansi dapat terlarut (solute) pada substansi lainnya (pelarut) membentuk larutan (solution) yang homogen. Baik zat terlarut maupun pelarut dapat berupa fase padat, cair, maupun gas.


     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Hubungan unsur zat pelarut dan terlarut.

    Larutan dimana zat pelarutnya adalah air disebut selaku aqueous. Pelarut air yang mengandung zat terlarut NaCl +- 35% disebut sebagai brine. Istilah fluida (fluids) dipakai untuk menyebut semua substansi atau bahan yang dapat bergerak, adalah cairan, gas, gabungan gas dan cairan, atau larutan bukan padat. Partikel-partikel sungguh halus (1-15 Angstrom) yang tersebar sebagai suspensi (tidak homogen) pada suatu substansi (lazimnya cairan) disebut sebagai colloid.

     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Pengaruh fluida hidrotermal pada tipe porphyry (atas) dan low-sulfidation (bawah).


     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Skema sirkulasi fluida magmatik dan meteorik.

    Silahkan anda menyimpan rancangan sistem hidrotermal ini, gunakan daya imajinasi dan perilaku teoritis anda dalam memahami konsep tersebut. Apabila anda sudah mengerti sistem hidrotermal, maka dipastikan anda tidak akan kesusahan dikala geologinesia lebih spesifik membicarakan perihal mineralisasi yang merupakan salah satu produk dari tata cara hidrotermal. Salam.

    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Selasa, 16 Maret 2021

    Amalgamasi Tidak Langsung Meningkatkan Perolehan Emas

    Kebutuhan dunia akan emas pada saat ini cukup berkembangseiring dengan kemajuan teknologi,  kecerdasan penduduk , dan pengalaman pembuatan bijih emas. Emas merupakan salah  satu  sumberdaya bahan galian (mineral) yang bersifat sekali ambil akan habis (non renewable  resources), dan tidak mampu diperbarui atau dipulihkan kembali. Untuk itu diperlukan  pengelolaan yang yang sempurna dan berkala, serta mengamati konservasi mineral untuk generasi yang hendak tiba. Penambangan emas umumdijalankan secara selektif untuk menentukan bijih yang mengandung emas, baik yang  berkadar rendah maupun yang berkadar tinggi.

    Hasil penambangan bijih emas yang berkadar tinggi diolah dengan sistem amalgamasi, yakni proses pengikatan logam emas dari bijih dengan menggunakan merkuri (Hg) dalam tabung yang disebut sebagai gelundung  (amalgamator). Masalah utama yang timbul pada kegiatan penambangan emas kecil-kecilan adalah pemborosan sumberdaya mineral dan terjadinya degradasi lingkungan. Pemborosan sumberdaya mineral terjadi sebab cuma bijih emas kadar tinggi yang diambil untuk diolah dengan tata cara amalgamasi secara pribadi. Perolehan emas yang rendah (<60 %) serta merkuri (Hg) dan logam-logam berat lainnya yang terbuang cukup besar, dan bijih emas kadar rendah ditimbun disekitar lubang tambang.

    Kebutuhan dunia akan emas pada saat ini cukup meningkat seiring dengan kemajuan teknologi Amalgamasi Tidak Langsung meningkatkan Perolehan Emas
    Gambar 1. Metode Amalgamasi Langsung.

    Amalgamator selain berfungsi selaku kawasan proses amalgamasi juga berperan dalam mereduksi ukuran bijih emas dari yang berskala garang (<1cm) hingga  menjadi berbutir halus (80 - 200 mesh) dengan media gerus berbentukbatangan besi. Amalgamator tersebut dapat diputar dengan tenaga pencetus air sungai lewat kincir atau tenaga listrik (dinamo). Selanjutnya dilakukan pencucian dan pendulangan untuk memisahkan  amalgam (perpaduan  logam emas/perak dengan  Hg) dari ampas (tailing). Amalgam yang diperoleh diproses lewat pembakaran (penggebosan) untuk menemukan perpaduan logam emas-perak (bullion). Selanjutnya dijalankan pemisahan antara logam emas (Au) dari logam perak (Ag) dengan menggunakan larutan perak nitrat.

    Kenyataan di lapangan memberikan bahwa hasil proses amalgamasi pada “pertambangan rakyat” menimbulkan berbagai problem. Di samping terjadinya pemborosan sumberdaya mineral, juga menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan. Terjadinya pemborosan sumberdaya mineral alasannya banyak logam emas yang terbuang bersama dengan  ampas (tailing) yang tercermin oleh tingkat perolehan (recovery) logam emas yang masih rendah (<60%), meskipun secara teoritis tingkat perolehan emas dalam amalgamasi jarang melampaui  85%  (Sevruykov et al, 1960). Akibat penggunaan sistem amalgamasi cara pribadi ini muncul  permasalahan, yaitu perolehan emas yang rendah dan kehilangan merkuri yang cukup tinggi. Kehilangan merkuri yang cukup tinggi ini telah mencemari air sungai yang ada disekitar lokasi penambangan.

    Berdasarkan hal tersebut, sudah dilakukan penelitian untuk mengupayakan mengembangkan perolehan emas dengan melaksanakan pembuatan bijih emas sistem amalgamasi tidak pribadi. Tujuannya adalah mengembangkan Perolehan Emas, sehingga kandungan emas yang ada dalam ampas (tailing) hasil pembuatan metode amalgamasi menurun, serta meminimalkan adanya efek pencemaran lingkungan akibat air raksa dan logam-logam berat lainnya. Penelitian memakai bahan dan peralatan yang serupa mirip yang dikerjakan oleh pertambangan rakyat. Bahan percobaan memakai bijih emas berukuran <1cm dengan kadar 8,4 gr/t dan 10,32 gr/t, merkuri, kapur tohor, borax, soda abu, dan perak nitrat. Sementara perlengkapan  amalgamasi menggunakan gelundung (amalgamtor)  dengan tenaga pencetus kincir air, pendulang (pan), dan retorting.

    Hasil observasi menawarkan bahwa perolehan emas (Au) sebesar 38,40-47,98% untuk cara eksklusif dan 44,43-53,33% untuk cara tidak pribadi. Kehilangan air raksa (Hg) sebesar 6,13-8,06% untuk cara pribadi dan 4,13-5,26% untuk cara tidak langsung. Berdasarkan hasil percobaan terlihat adanya kecenderungan peningkatan perolehan emas sampai 14,58%, dan menurunkan kehilangan air raksa hingga 3,93%. Hasil percobaan pembuatan bijih emas dengan sistem amalgamasi tidak langsung ini diharapkan dapat dipraktekkan pada pertambangan rakyat maupun dalam industri pertambangan emas.

    Kebutuhan dunia akan emas pada saat ini cukup meningkat seiring dengan kemajuan teknologi Amalgamasi Tidak Langsung meningkatkan Perolehan Emas
    Gambar 2. Metode Amalgamasi Tidak Langsung.
    Keterangan gambar, pada Tahap 1 dan Tahap 2:
    Tahap pertama dijalankan penghalusan ukuran butir dalam amalgamator selama 7 jam, lalu baru tahap kedua, adalah amalgamasi selama 2 jam. Pada tahap amalgamasi ini, dijalankan pengurangan berat media giling 40-50%, ditambahkan air untuk menerima persentase pulp (gabungan) menjadi 30- 40%, dimasukkan merkuri dan dilaksanakan pengecekan pH (9-10). Setelah persiapan pengolahan akhir, amalgamator diputar kembali dengan kecepatan putar sekitar 40 rpm. Pengurangan berat media giling dan kecepatan putar bertujuan agar proses yang terjadi hanya proses pengadukan (agitasi), bukan proses penggerusan. Hasil amalgamasi baik cara langsung maupun tidak langsung sama-sama berbentukamalgam.

    Written by : Widodo, Aminuddin (Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI), Editor by Flyshgeost.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Senin, 15 Maret 2021

    Sejarah Dan Potensi Emas Aluvial Di Indonesia

    Emas Aluvial di Indonesia - Emas selaku salah satu komoditas tambang sudah dikenal dan diusahakan di Indonesia semenjak lebih dari seribu tahun yang lalu. Pendatang dari Cina telah menambang cebakan emas aluvial di Kalimantan pada kala keempat. Kegiatan tambang dalam dan tambang aluvial marak dijalankan oleh emigran Hindu dan penduduk setempat di Sumatera dan Sulawesi Utara.

    Tercatat pada manuskrip Cina berumur lebih dari 1000 tahun, yang telah menggambarkan kekayaan emas di Kepulauan Indonesia serta perihal adanya beberapa tambang emas (Van Leeuwen, 1994). Cebakan emas aluvial di Daerah Monterado, Kalimantan Barat pernah diusahakan oleh pendatang dari Cina pada awal periode 18 (Keyser & Sinay, 1993).

    Prospek di kawasan Sungai Gambir, Bungotebo, Jambi, pada tahun 1992, sehabis dilaksanakan pengupasan lapisan epilog berupa lempung dengan ketebalan sekitar dua meter, pada lapisan kaya emas di bawahnya ditemui keramik Cina berbentukcawan, sehingga ada kemungkinan harapan tersebut pernah diusahakan. Demikian juga cebakan emas di Daerah Meulaboh, NAD, dan Logas, Riau, pernah ditambang pada kala pendudukan Belanda dan Jepang (Van Leeuwen, 1994).

    Potensi Emas Aluvial di Indonesia banyak ditemui di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua. Emas aluvial dengan sumberdaya kecil ditemui juga di P. Jawa, ialah di Banyumas, Jawa Tengah. Cebakan emas aluvial di Indonesia biasanya pernah diusahakan, sehingga peluangpada saat ini ialah sumberdaya tersisa dari aktifitas penambangan pada periode kemudian.

    Eksplorasi emas aluvial secara besar besaran pernah dikerjakan pada tahun 1980-an sampai dengan awal tahun 1990-an, utamanya di Kalimantan dan Sumatera, oleh pelaku perjuangan pertambangan yang sebagian besar berskala kecil sampai menengah. Eksplorasi dijalankan pada daerah yang umumnya sudah dimengerti sebelumnya selaku sumber keterdapatan emas, adalah telah ditambang baik oleh pendatang dari Cina atau Belanda, maupun masyarakatlokal. Daerah sasaran eksplorasi dengan keadaan geologi berupa endapan gravel Resen – Kuarter dari endapan sungai aktif, endapan sungai purba yang telah tertimbun, serta paleodrainages.

    Sumberdaya dan cadangan emas pada beberapa kawasan kesempatan telah ditambang oleh pemilik perjuangan pertambangan, akan namun secara keseluruhan hanya berjalan beberapa tahun dan selsai dengan masih menyisakan sebagian besar sumberdayanya. Beberapa faktor penyebab khususnya ialah estimasi cadangan terlalu spekulatif, perlengkapan tidak sesuai, dan pembengkakan ongkos operasional, sehingga mempengaruhi nilai ekonomi pengusahaan pertambangannya (Van Leeuwen, 1994). Meskipun cebakan emas letakan/aluvial biasanya pernah diusahakan, namun potensi materi galian tertinggal berupa cebakan emas insitu dan komoditas bahan galian yang terkandung pada tailing masih memiliki peluang untuk diusahakan.

     Emas sebagai salah satu komoditas tambang sudah dikenal dan diusahakan di Indonesia sejak Sejarah dan Potensi Emas Aluvial di Indonesia
    Sumberdaya emas aluvial di beberapa daerah kesempatan (Van Leeuwen, 1994 & Sujono, 2004).
    Referensi: Makalah Ilmiah oleh Sabtanto Joko Suprapto (Kelompok Program Penelitian Konservasi-Pusat Sumber Daya Geologi.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Selasa, 23 Februari 2021

    Mineral Pirit Selaku Isyarat Adanya Emas

    Apa itu Mineral Pirit ?

    Pirit yaitu mineral berwarna kekuningan dengan kilap logam yang cerah. Pirit mempunyai rumus kimia FeS2 (disulfida besi) dan ialah mineral sulfida yang paling umum ditemui. Pirit bisa terbentuk pada suhu tinggi-rendah dan keterdapatannya bisa dalam batuan beku, metamorf dan sedimen meskipun dalam jumlahnya yang sedikit.

    Nama "pirit" berasal dari bahasa Yunani "pyr" yang berarti "api." Nama ini diberikan karena pirit dapat dipakai untuk membuat bunga api yang dibutuhkan untuk menciptakan api kalau dipukul terhadap logam atau materi keras yang lain.


    Di penduduk , pirit mempunyai berbagai julukan yang sangat populer diantaranya yakni "penghantar emas", "emas muda", bahkan ada yang juga menyebutnya selaku "emas imitasi". Hal ini dikarenakan pirit mempunyai warna mineral yang mirip emas.

    Dengan kilap logam dan berat jenis yang tinggi sering menjadikan orang keliru untuk membedakan pirit dengan emas, bahkan pada prospektor emas berpengalaman sekalipun. Namun, yang perlu diamati disini bahwa kedua mineral ini sering terbentuk tolong-menolong, bahkan pada beberapa deposit, pirit mengandung kandungan emas yang bernilai hemat untuk ditambang.

    Bagaimana Mengidentifikasi Mineral Pirit ?

    "Handspecimens" atau conto pirit biasanya gampang untuk diidentifikasi. Mineral ini senantiasa memiliki warna kekuningan, kilap logam dan berat jenis yang tinggi. Satu-satunya mineral yang memiliki sifat fisik yang seperti dengan pirit ialah markasit, suatu dimorph pirit dengan komposisi kimia yang serupa namun mempunyai struktur kristal ortorombik.

    Markasit tidak memiliki warna kuning terang seperti pirit, tetapi berwarna kuningan pucat kadang kala tampakdengan warna sedikit hijau. Markasit lebih ringkih dari pirit dan juga mempunyai berat jenis sedikit lebih rendah adalah 4,8.


    Sebenarnya pirit dan emas mampu dengan gampang dibedakan, emas sangat lembut dan akan penyok bila diberikan tekanan (emas sifatnya elastis). Emas mempunyai cerat berwarna kuning, sementara pirit berwarna hitam kehijauan. Selain itu emas memiliki berat jenis yang lebih tinggi dari pirit. Dengan Melakukan pengujian kecil akan membantu Anda membedakan antara pirit dengan emas.

    Pirit adalah mineral berwarna kekuningan dengan kilap logam yang cerah Mineral Pirit Sebagai Petunjuk Adanya Emas
    Gambar mineral pirit dan sifat fisiknya.

    Apa Kegunaan Mineral Pirit ?

    Pirit berisikan besi dan welirang (FeS2), namun mineral ini bukan ialah sumber utama dari komponen besi. Besi umumnya diperoleh dari bijih oksida seperti hematit dan magnetit. Deposit Oksida besi di alam jauh lebih besar dibandingkan besi sulfida dan juga lebih mudah mengekstraknya menjadi logam besi dibanding besi sulfida.

    Pirit digunakan selaku bijih utama dalam memproduksi belerang (welirang) dan asam sulfat. Saat ini sebagian besar sulfur diperoleh selaku produk sampingan dari pengolahan gas alam dan minyak mentah. Beberapa belerang terus diproduksi dari pirit selaku produk sampingan dari produksi emas.

    Penggunaan yang terpenting dari pirit sebenarnya ialah selaku mineral prospeksi yang mampu menandakan keberadaan bijih emas. Emas dan pirit terbentuk pada kondisi yang sama dan terbentuk tolong-menolong dalam suatu batuan. Dalam beberapa deposit, sejumlah emas terbentuk selaku inklusi dan substitusi dalam pirit.

    Akan namun, kita juga mesti berhati-hati karena pirit juga mampu terbentuk sebagai pengganti materi organik pada sedimen organik mirip batubara dan serpih hitam. Pembusukan bahan organik dalam batuan akan menyantap oksigen dan melepaskan welirang. Pada kondisi demikian, pirit tidak mampu dijadikan petunjuk akan keberadaan emas.

    Beberapa pirit mampu mengandung 0,25% berat emas ataupun lebih. Meskipun nilai ini yakni nilai terkecil dari bijih, tetapi harga emas yang sangat tinggi ditambah produk pirit mungkin akan menciptakan nilai tambang menjadi lebih irit.

    Misalnya, jikalau pirit mengandung 0,25% emas dan harga emas yaitu $1500 per troy ounce, maka 1 ton pirit akan berisi sekitar 73 troy ons emas senilai lebih dari $109.000. Namun ini bukan menjadi jaminan yang akan menghadirkan laba, karena dasar perhitungan keuntungan berada pada nilai "cost recovery" pengambilan emas dalam pirit.

    Pada sekitar tahun 1800-an, Pirit sungguh terkenal di amerika dan eropa alasannya dipakai selaku watu permata. Dahulu sebagian besar batu embel-embel disebut "markasit", tetapi sesungguhnya mereka ialah pirit.

    Markasit tidak sesuai untuk dijadikan tambahan sebab mineral ini cepat mengalami oksidasi, dan produk oksidasinya sungguh menyebabkan kerusakan fisik dari suatu aksesori. Namun, pirit pun bahwasanya bukanlah kerikil embel-embel yang manis alasannya adalah mineral ini mudah terkorosi.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Minggu, 21 Februari 2021

    Emas Aluvial (Placer) Dan Sejarah Perburuannya

    Emas aluvial umumdisebut juga dengan "emas placer". Oleh para andal geologi bijih (ore geologists), endapan placer ialah endapan "allochtonous" yang bernilai ekonomis. Endapan placer adalah endapan kelas terigen yang terbentuk oleh proses sedimenter biasa (ordinary sedimentary processes) yang mengendapkan atau mengkonsentrasi mineral-mineral berat. Umumnya proses pemisahan gaya berat alamiah ini dibantu oleh media air bergerak, meskipun ada juga yang terkonsentrasi lewat media padat dan angin. Mineral-mineral berat tersebut mesti terlebih dulu terbebaskan dari batuan sumbernya, mesti mempunyai berat jenis (densitas) yang tinggi, resisten secara kimia terhadap pelapukan, serta memiliki durabilitas tinggi (tahan terhadap proses-proses mekanik). Emas adalah salah satu mineral yang memenuhi syarat tersebut.

    Daya tarik, kekayaan, dan akomodasi dalam penambangan emas alluvial (placer) sudah mengakibatkan terjadinya berbagai perburuan (gold rush) dalam skala besar di dunia pertambangan. Endapan placer merupakan tipe endapan yang “poor man’s” (modal dengkul). Pekerja keras cuma membutuhkan sebuah sekop atau cangkul dan dulang (panner) untuk mengekstrak emas, dan dalam waktu dua ahad bisa menghimpun emas yang sangat banyak dan menjadi kaya-raya.

    Perburuan emas besar-besaran di California tahun 1849, di Australia pada 1850-an, serta penyerbuan yang penuh risiko bahaya di Klondike dan Alaska pada 1897, menunjukkan terjadinya penambangan emas aluvial yang besar-besaran hanya dalam waktu yang relatif singkat. Kondisi tersebut lalu disertai dengan penambangan emas primer yang lebih stabil. Berikutnya disusul oleh pembangunan settlement, agrikultur, industri, yang pada karenanya terbentuk suatu negara-negara besar. Besarnya pengaruh berburu emas alluvial bisa mendatangkan imigran dalam jumlah yang sangat besar ke kawasan-kawasan pertambangan tersebut di atas, yang kemudian diikuti oleh aneka macam pembangunan dan industri, dan pada akhirnya justru mengganti tempat yang semula terpencil dan sepi, menjadi negara dan negara bab yang besar (California, Alaska, Australia, dsb).

     Endapan placer adalah endapan kelas terigen yang terbentuk oleh proses sedimenter biasa  Emas Aluvial (Placer) dan Sejarah Perburuannya
    Gambar emas aluvial dan proses ekstraksinya.

    Menurut catatan sejarah, perburuan emas aluvial di California di tahun 1849 telah menjadikan hadirnya imigran dengan kapal-kapal besar dari berbagai tempat. Orang-orang indian yang berani, serta orang-orang dari sekitar Cape Horn datang dengan memakai perahu-perahu kecil seadanya yang sebetulnya kurang patut untuk ikut melakukan perburuan emas ini.

    Ada juga dongeng antik yang mempesona tentang perburuan emas aluvial (placer) ini; selaku perbandingan kepada kisah perburuan modern tersebut di atas, adalah cerita klasik wacana legenda Yunani. Menurut kisah yang ditulis Euxine, di tempat Colchis, para penambang pada dikala itu mengekstraksi emas aluvial dengan cara mencangkul gravel-gravel dari sungai dan memuatnya ke dalam "sluice boxes" yang dibuat dari kayu-kayu hutan. Lapisan-lapisan kayu akan mengikat/menjerat partikel-partikel emas; emas yang agresif akan terkocok dan terangkat keluar (berikutnya tinggal diambil), sedang yang halus akan terikat pada "wool" berair yang terbuat bulu-bulu domba, kemudian digantung di pohon untuk dikeringkan sehingga emas halusnya bisa terlepas. Cerita tentang tersebut kemudian hingga ke Yunani, dan Jason dengan Argonautsnya pribadi memasang layar di kapalnya, lalu berlayar menuju ke daerah tersebut.

    Pada era lalu, emas aluvial diekstraksi memakai kayu-kayu, yang diambil secara serampangan dari hutan dan dibentuk "sluice box" yang lebih terbaru, dan kulit sapi dipasang di atasnya selaku bahan "riffles" (penangkap emas halus). Pada dikala ini buatan emas aluvial tinggal sedikit bila dibandingkan dengan kisah indahnya di masa lalu. Endapan-endapan yang "easily discoverable" sudah ditemukan sehingga mengakibatkan perburuan emas aluvial akan lebih berkurang di masa mendatang. Saat ini, hanya sedikit kawasan-tempat eksplorasi yang mampu diharapkan menciptakan endapan yang gres.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Kamis, 18 Februari 2021

    Daerah Akumulasi Emas Aluvial (Placer)

    Daerah-daerah sungai yang terlalu rendah bukanlah ialah daerah yang favorit bagi akumulasi emas aluvial (placer), demikian juga dengan kawasan hulu sungai. Hal ini karena di tempat-kawasan tersebut suplai material sumber terbatas. Daerah yang paling manis ialah tempat pertengahan antara hulu dan hilir sungai.

    Ketika pemikiran air sungai melintasi “lantai” lembah yang licin, maka butiran-butiran emas serta gravel-gravelnya akan melintas dengan cepat tanpa atau cuma sedikit sekali memiliki peluang untuk terendapkan. Tetapi jika suatu sungai atau anak-anak sungainya mencapai lembah dengan gradien yang agak landai, maka tercapai keadaan yang ideal untuk terjadinya pengendapan dan pengkonsentrasian emas sehingga dapat membentuk deposit yang bernilai irit.

    Di daerah sungai bermeander dengan kecepatan aliran yang tinggi, pemikiran tercepat berada pada bagian luar meander. Sedangkan ajaran yang lambat berada di sisi sebaliknya. Perpotongan keduanya, di mana endapan gravel terbentuk, merupakan kawasan yang favorit bagi pengendapan butiran emas. Dengan terjadinya migrasi lateral dari meander tersebut, maka "pay streak" akan tertutupi dan akibatnya “berpindah” jauh dari "stream channel" asalnya. "Pay streak" yaitu area akumulasi mineral-mineral berat akibat konferensi aliran yang deras dengan ajaran yang lambat.

    daerah sungai yang terlalu rendah bukanlah merupakan tempat yang favorit bagi akumulasi em Tempat Akumulasi Emas Aluvial (Placer)
    Gambar beberapa model akumulasi emas aluvial pada sungai.

    Sebenarnya, emas aluvial (placer) tidak terbentuk di meander-meander hilir dari suatu sungai bau tanah, karena kecepatan alirannya tidak memungkinkan untuk mampu mentransport mineral-mineral berat mirip emas. Ketika sungai memangkas batuan berlapis yang sangat miring atau vertikal, mirip batu slate, sekis, atau perselingan lapisan yang garang dan halus, maka lapisan yang garang cenderung akan mencolokke atas, sedangkan yang halus akan terpotong.

    Proses tersebut diatas akan membentuk “riffles”. Bentuk "riffles" ini seperti dengan bagian-pecahan kayu yang dipaku di bab dasar sluice box untuk memisahkan emas pada proses "sluicing". Riffle-riffle alami ini ialah perangkap yang sungguh manis untuk menjebak butiran emas, dan mampu membentuk “bonanza” (endapan plaser yang sangat besar dan kaya).

    Pada ketika material-material dibawa oleh anak sungai yang beraliran cepat masuk ke sungai induk yang beraliran lambat, maka material-material tersebut akan terakumulasi dengan kecepatan yang menurun, dalam bentuk "pay streak" di sisi sungai yang terdekat. Jika sungai memotong lode (badan batuan yang termineralisasi), dan melewati bagian lode yang telah terkorosi (lapuk), maka "pay streak" akan menyebar sepanjang channel sungai di segi hilir dari lode tersebut.

    Butiran emas akan cenderung mengambil posisi di jalur "pay streak". Proses ini bisa dijadikan indikasi untuk menentukan hulu di mana emas berasal, dan kemudian akan mencirikan “lode induk” di kawasan sekitarnya. Dari sinilah para geologi juga mampu menemukan emas primer yang bernilai tinggi.

    Akumulasi emas aluvial menuntut adanya keadaan kesetimbangan yang kontinyu antara kecepatan sungai dengan akumulasi gravel. Gravel-gravel tidak boleh terlalu tebal, harus bergerak secara lamban ke arah hilir, dan harus benar-benarterendam secara keseluruhan dalam air. Ada ataupun tidaknya kondisi seperti ini di sebuah sungai sungguh memilih nilai ekonomis sebuah "pay streak" dan jarang-tidaknya disseminasi emas.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Rabu, 17 Februari 2021

    Ukuran, Kehalusan, Dan Bentuk Emas Aluvial

    Ukuran Emas Aluvial (Placer)

    Sebagian besar emas aluvial (placer) terdapat dalam bentuk butiran-butiran berukuran halus yang disebut “dust” (bubuk), tetapi oleh para penambang yang beruntung kadang ditemukan juga gumpalan-gumpalan atau bongkah-bongkah yang lebih besar yang disebut “nuggets”. Secara lazim kisaran ukuran nugget emas aluvial (placer) seperti biji-bijian hingga mirip kacang-kacangan, tetapi nuggets yang beratnya 1 - 10 pon (0,5 – 5 kg) juga cukup lazim ditemukan.

    Sampai saat ini nuggets terbesar yang pernah ditemukan ialah “the Welcome Stranger” yang ditemukan di Ballarat, Australia, yang beratnya 2.280 ons (sekitar 69 kg), “the Blanche Barkley” dari Victoria seberat 1.752 ons (sekitar 53 kg), dan “the Carson Hill” dari California seberat 1.296 ons (sekitar 39 kg). Di tahun 1936 ditemukan juga sebuah nugget seberat 1.752 ons di Pegunungan Ural (Rusia).

     tetapi oleh para penambang yang beruntung kadang ditemukan juga gumpalan Ukuran, Kehalusan, dan Bentuk Emas Aluvial
    Gambar berbagai macam ukuran dan bentuk emas aluvial (placer).

    Nugget paling besar dari Australia didapatkan sedikit di bawah singkapan, sehingga tidak digolongkan ke dalam jenis nugget aluvial sungai. Nugget terbesar yang dilaporkan dari Yukon seberat 85 ons (sekitar 2,6 kg). Pernah juga didapatkan nugget seberat 47 ons (sekitar 1,4 kg) dari Arizona dan 40 ons (sekitar 1,2 kg) dari Montana. Tentu saja kesemua nuggets tersebut termasuk nugget-nugget yang hebat (istimewa, di atas rata-rata). Jika kita ingin merata-ratakannya, maka secara umum partikel-partikel emas aluvial berskala pasir agresif.

    Masih ada ukuran emas aluvial yang lebih kecil, ialah partikel-partikel sangat halus yang disebut "flour" (tepung). Terestimasi bahwa emas "flour" dari Snake River rata-rata mengandung sekitar 5.000 warna. Float-float emas flour ini gampang dan cepat terekspose di udara terbuka, dan bisa terbawa hingga ratusan mil. Tingkat kehalusannya yang sangat ekstrim menerangkan terjadinya distribusi yang luas dari warna dalam keseluruhan lebar dan tebal gravel-gravel sungai.

    Bentuk Emas Aluvial (Placer)

    Bentuk emas aluvial lazimnya menyerupai disk (disclike), sehubungan tumbukan atau benturan kontinyu yang sudah dialaminya selama tertransportasi. Nugget lazimnya berbentuk rounded tetapi dengan outline (garis bentuk) yang tidak teratur. "Dust" dan "flour" berupa pellet-pellet pipih dan disk-disk tipis dengan tebal cuma sekitar 2 mikron. Emas yang terkristalisasi jarang ditemukan pada endapan aluvial, namun nugget Latrobe (23 ons, atau sekitar 700 gram) yang terdapat British Museum ialah contoh yang indah dari kristal emas yang sukses lolos dari tahap mutilation (pengrusakan).

    Kehalusan (Fineness) Emas Aluvial

    Kualitas atau fineness (kehalusan) dari emas biasa diekspresikan dalam parts per 1.000 (1.000 memperlihatkan emas murni) atau dalam satuan fine. Fineness emas aluvial bervariasi pada kisaran 500 – 999 fine; sedangkan pada vein 500 – 850 fine. Sebagian besar (mayoritas) emas aluvial kehalusannya di atas 800 fine. Peneliti menyimpulkan bahwa kehalusan rata-rata emas di vein California yaitu 850 fine, sedangkan pada emas aluvial Tersier rata-rata 930 – 950 fine.

    Disimpulkan juga bahwa fineness emas aluvial akan bertambah dengan bertambahnya jarak angkutandan menurunnya ukuran butir. Beberapa observasi menawarkan bahwa nugget-nugget "Klondike" memiliki fineness yang lebih besar pada bagian luar dibandingkan bab dalam. Observasi ini memperlihatkan bahwa sebagian perak pada bagian luar butiran-butiran emas tersebut telah mengalami pelarutan.

    Sumber https://www.geologinesia.com/