Tampilkan postingan dengan label Emas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Maret 2021

Desain Metode Hidrotermal Untuk Pemburu Emas

Para pemburu emas atau bahasa kerennya "gold hunter" telah niscaya sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal. Pada peluang ini, geologinesia akan menjajal membahas dasar dari desain alterasi yang sekiranya mampu memiliki kegunaan bagi anda para pemburu emas. Postingan ini akan aku buat secara sedikit demi sedikit, dengan maksud supaya "basic" anda bisa lebih besar lengan berkuasa, sehingga ketika menuju ke rancangan yang lebih rumit, anda tidak akan dibingungkan oleh aneka macam macam istilah dan pengertian. Konsep yang mau saya diskusikan disini yaitu desain paling dasar yang disebut dengan Konsep Sistem Hidrotermal.

Sistem Hidrotermal

Sistem hidrotermal dapat didifinisikan sebagai sirkulasi fluida panas (50 sampai > 500 C), secara lateral dan vertikal pada temperatur dan tekanan yang bervarisasi, di bawah permukaan bumi (Pirajno, 1992). Sistem ini mengandung dua komponen utama, adalah sumber panas dan sumber fluida.

Sirkulasi fluida hidrotermal mengakibatkan himpunan mineral pada batuan dinding menjadi tidak stabil, dan cenderung menyesuaikan kesetimbangan baru dengan membentuk himpunan mineral yang sesuai dengan kondisi yang baru, yang dikenal selaku alterasi hidrotermal. Hasil dari alterasi hidrotermal diputuskan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah:
1. Karakter batuan dinding, 
2. Karakter fluida (Eh, pH), 
3. Kondisi tekanan maupun temperatur pada ketika reaksi berlangsung (Guilbert dan Park, 1986), 
4. Konsentrasi, serta usang acara hidrotermal (Browne, 1991 dalam Corbett dan Leach, 1996). 
5. Temperatur dan kimia fluida merupakan faktor yang paling berpengaruh pada proses ubahan hidrotermal (Corbett dan Leach, 1996).

     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Sistem Hidrotermal - Magmatik.

    Sumber panas utama dari sistem hidrotermal adalah proses magmatisme. Oleh sebab itu, daerah dimana terjadi proses magmatisme, cenderung terbentuk metode hidrotermal. Baik magmatisme yang membentuk plutonisme maupun vulkanisme. Sedangkan fluida utamanya ialah fluida magmatik dan meteorik (baik air meteorik, air metamorfik, bahkan air bahari).

     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Sistem fluida hidrotermal.




     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Skema Sistem Hidrotermal yang terkait dengan Magmatisme.

    Mari kita membicarakan wacana Fluida Magmatik ....

    Fluida Magmatik

    Fraksi-fraksi volatil hidrous yang umumnya lebih ringan dan alkalik, cenderung terakumulasi pada bab atas kantong magma, disebut sebagai fluida magmatik atau juvenile, dalam artian masih fresh, belum terkotori dan belum pernah timbul di permukaan. Komponen volatil di dalam magma biasanya berisikan H2O, H2S, CO2, HCl, HF, dan H2 (sebagian besar adalah H2O, yaitu sekitar 1-15%). 

    Pada sistem hidrotermal akan dijumpai tiga fase subtansi, adalah padat (solid), cair (liquid), dan gas (gas). Pada ketika tata cara masih aktif, fase fluida (cair dan gas) akan mayoritas. Molekul fase padat bila dipanaskan, akan cenderung bergerak satu sama lain, pada dikala mencapai melting point, fase padat akan menjelma fase cair.

    Apabila temperatur terus meningkat, pada saat mencapai kritikal temperatur (boiling point), cairan akan bermetamorfosis uap atau gas. Steam yakni perumpamaan kusus untuk menyebut uap air (water vapor). H2O ialah senyawa yang mampu hadir sebagai fase padat (es), fase cair (air), dan fase gas (steam) pada tekanan yang relatif sama.

    Pada temperatur dan tekanan tertentu, beberapa substansi dapat terlarut (solute) pada substansi lainnya (pelarut) membentuk larutan (solution) yang homogen. Baik zat terlarut maupun pelarut dapat berupa fase padat, cair, maupun gas.


     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Hubungan unsur zat pelarut dan terlarut.

    Larutan dimana zat pelarutnya adalah air disebut selaku aqueous. Pelarut air yang mengandung zat terlarut NaCl +- 35% disebut sebagai brine. Istilah fluida (fluids) dipakai untuk menyebut semua substansi atau bahan yang dapat bergerak, adalah cairan, gas, gabungan gas dan cairan, atau larutan bukan padat. Partikel-partikel sungguh halus (1-15 Angstrom) yang tersebar sebagai suspensi (tidak homogen) pada suatu substansi (lazimnya cairan) disebut sebagai colloid.

     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Gambar Pengaruh fluida hidrotermal pada tipe porphyry (atas) dan low-sulfidation (bawah).


     sudah pasti sangat familiar dengan istilah alterasi hidrotermal Konsep Sistem Hidrotermal Untuk Pemburu Emas
    Skema sirkulasi fluida magmatik dan meteorik.

    Silahkan anda menyimpan rancangan sistem hidrotermal ini, gunakan daya imajinasi dan perilaku teoritis anda dalam memahami konsep tersebut. Apabila anda sudah mengerti sistem hidrotermal, maka dipastikan anda tidak akan kesusahan dikala geologinesia lebih spesifik membicarakan perihal mineralisasi yang merupakan salah satu produk dari tata cara hidrotermal. Salam.

    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Selasa, 16 Maret 2021

    Amalgamasi Tidak Langsung Meningkatkan Perolehan Emas

    Kebutuhan dunia akan emas pada saat ini cukup berkembangseiring dengan kemajuan teknologi,  kecerdasan penduduk , dan pengalaman pembuatan bijih emas. Emas merupakan salah  satu  sumberdaya bahan galian (mineral) yang bersifat sekali ambil akan habis (non renewable  resources), dan tidak mampu diperbarui atau dipulihkan kembali. Untuk itu diperlukan  pengelolaan yang yang sempurna dan berkala, serta mengamati konservasi mineral untuk generasi yang hendak tiba. Penambangan emas umumdijalankan secara selektif untuk menentukan bijih yang mengandung emas, baik yang  berkadar rendah maupun yang berkadar tinggi.

    Hasil penambangan bijih emas yang berkadar tinggi diolah dengan sistem amalgamasi, yakni proses pengikatan logam emas dari bijih dengan menggunakan merkuri (Hg) dalam tabung yang disebut sebagai gelundung  (amalgamator). Masalah utama yang timbul pada kegiatan penambangan emas kecil-kecilan adalah pemborosan sumberdaya mineral dan terjadinya degradasi lingkungan. Pemborosan sumberdaya mineral terjadi sebab cuma bijih emas kadar tinggi yang diambil untuk diolah dengan tata cara amalgamasi secara pribadi. Perolehan emas yang rendah (<60 %) serta merkuri (Hg) dan logam-logam berat lainnya yang terbuang cukup besar, dan bijih emas kadar rendah ditimbun disekitar lubang tambang.

    Kebutuhan dunia akan emas pada saat ini cukup meningkat seiring dengan kemajuan teknologi Amalgamasi Tidak Langsung meningkatkan Perolehan Emas
    Gambar 1. Metode Amalgamasi Langsung.

    Amalgamator selain berfungsi selaku kawasan proses amalgamasi juga berperan dalam mereduksi ukuran bijih emas dari yang berskala garang (<1cm) hingga  menjadi berbutir halus (80 - 200 mesh) dengan media gerus berbentukbatangan besi. Amalgamator tersebut dapat diputar dengan tenaga pencetus air sungai lewat kincir atau tenaga listrik (dinamo). Selanjutnya dilakukan pencucian dan pendulangan untuk memisahkan  amalgam (perpaduan  logam emas/perak dengan  Hg) dari ampas (tailing). Amalgam yang diperoleh diproses lewat pembakaran (penggebosan) untuk menemukan perpaduan logam emas-perak (bullion). Selanjutnya dijalankan pemisahan antara logam emas (Au) dari logam perak (Ag) dengan menggunakan larutan perak nitrat.

    Kenyataan di lapangan memberikan bahwa hasil proses amalgamasi pada “pertambangan rakyat” menimbulkan berbagai problem. Di samping terjadinya pemborosan sumberdaya mineral, juga menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan. Terjadinya pemborosan sumberdaya mineral alasannya banyak logam emas yang terbuang bersama dengan  ampas (tailing) yang tercermin oleh tingkat perolehan (recovery) logam emas yang masih rendah (<60%), meskipun secara teoritis tingkat perolehan emas dalam amalgamasi jarang melampaui  85%  (Sevruykov et al, 1960). Akibat penggunaan sistem amalgamasi cara pribadi ini muncul  permasalahan, yaitu perolehan emas yang rendah dan kehilangan merkuri yang cukup tinggi. Kehilangan merkuri yang cukup tinggi ini telah mencemari air sungai yang ada disekitar lokasi penambangan.

    Berdasarkan hal tersebut, sudah dilakukan penelitian untuk mengupayakan mengembangkan perolehan emas dengan melaksanakan pembuatan bijih emas sistem amalgamasi tidak pribadi. Tujuannya adalah mengembangkan Perolehan Emas, sehingga kandungan emas yang ada dalam ampas (tailing) hasil pembuatan metode amalgamasi menurun, serta meminimalkan adanya efek pencemaran lingkungan akibat air raksa dan logam-logam berat lainnya. Penelitian memakai bahan dan peralatan yang serupa mirip yang dikerjakan oleh pertambangan rakyat. Bahan percobaan memakai bijih emas berukuran <1cm dengan kadar 8,4 gr/t dan 10,32 gr/t, merkuri, kapur tohor, borax, soda abu, dan perak nitrat. Sementara perlengkapan  amalgamasi menggunakan gelundung (amalgamtor)  dengan tenaga pencetus kincir air, pendulang (pan), dan retorting.

    Hasil observasi menawarkan bahwa perolehan emas (Au) sebesar 38,40-47,98% untuk cara eksklusif dan 44,43-53,33% untuk cara tidak pribadi. Kehilangan air raksa (Hg) sebesar 6,13-8,06% untuk cara pribadi dan 4,13-5,26% untuk cara tidak langsung. Berdasarkan hasil percobaan terlihat adanya kecenderungan peningkatan perolehan emas sampai 14,58%, dan menurunkan kehilangan air raksa hingga 3,93%. Hasil percobaan pembuatan bijih emas dengan sistem amalgamasi tidak langsung ini diharapkan dapat dipraktekkan pada pertambangan rakyat maupun dalam industri pertambangan emas.

    Kebutuhan dunia akan emas pada saat ini cukup meningkat seiring dengan kemajuan teknologi Amalgamasi Tidak Langsung meningkatkan Perolehan Emas
    Gambar 2. Metode Amalgamasi Tidak Langsung.
    Keterangan gambar, pada Tahap 1 dan Tahap 2:
    Tahap pertama dijalankan penghalusan ukuran butir dalam amalgamator selama 7 jam, lalu baru tahap kedua, adalah amalgamasi selama 2 jam. Pada tahap amalgamasi ini, dijalankan pengurangan berat media giling 40-50%, ditambahkan air untuk menerima persentase pulp (gabungan) menjadi 30- 40%, dimasukkan merkuri dan dilaksanakan pengecekan pH (9-10). Setelah persiapan pengolahan akhir, amalgamator diputar kembali dengan kecepatan putar sekitar 40 rpm. Pengurangan berat media giling dan kecepatan putar bertujuan agar proses yang terjadi hanya proses pengadukan (agitasi), bukan proses penggerusan. Hasil amalgamasi baik cara langsung maupun tidak langsung sama-sama berbentukamalgam.

    Written by : Widodo, Aminuddin (Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI), Editor by Flyshgeost.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Senin, 15 Maret 2021

    Sejarah Dan Potensi Emas Aluvial Di Indonesia

    Emas Aluvial di Indonesia - Emas selaku salah satu komoditas tambang sudah dikenal dan diusahakan di Indonesia semenjak lebih dari seribu tahun yang lalu. Pendatang dari Cina telah menambang cebakan emas aluvial di Kalimantan pada kala keempat. Kegiatan tambang dalam dan tambang aluvial marak dijalankan oleh emigran Hindu dan penduduk setempat di Sumatera dan Sulawesi Utara.

    Tercatat pada manuskrip Cina berumur lebih dari 1000 tahun, yang telah menggambarkan kekayaan emas di Kepulauan Indonesia serta perihal adanya beberapa tambang emas (Van Leeuwen, 1994). Cebakan emas aluvial di Daerah Monterado, Kalimantan Barat pernah diusahakan oleh pendatang dari Cina pada awal periode 18 (Keyser & Sinay, 1993).

    Prospek di kawasan Sungai Gambir, Bungotebo, Jambi, pada tahun 1992, sehabis dilaksanakan pengupasan lapisan epilog berupa lempung dengan ketebalan sekitar dua meter, pada lapisan kaya emas di bawahnya ditemui keramik Cina berbentukcawan, sehingga ada kemungkinan harapan tersebut pernah diusahakan. Demikian juga cebakan emas di Daerah Meulaboh, NAD, dan Logas, Riau, pernah ditambang pada kala pendudukan Belanda dan Jepang (Van Leeuwen, 1994).

    Potensi Emas Aluvial di Indonesia banyak ditemui di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua. Emas aluvial dengan sumberdaya kecil ditemui juga di P. Jawa, ialah di Banyumas, Jawa Tengah. Cebakan emas aluvial di Indonesia biasanya pernah diusahakan, sehingga peluangpada saat ini ialah sumberdaya tersisa dari aktifitas penambangan pada periode kemudian.

    Eksplorasi emas aluvial secara besar besaran pernah dikerjakan pada tahun 1980-an sampai dengan awal tahun 1990-an, utamanya di Kalimantan dan Sumatera, oleh pelaku perjuangan pertambangan yang sebagian besar berskala kecil sampai menengah. Eksplorasi dijalankan pada daerah yang umumnya sudah dimengerti sebelumnya selaku sumber keterdapatan emas, adalah telah ditambang baik oleh pendatang dari Cina atau Belanda, maupun masyarakatlokal. Daerah sasaran eksplorasi dengan keadaan geologi berupa endapan gravel Resen – Kuarter dari endapan sungai aktif, endapan sungai purba yang telah tertimbun, serta paleodrainages.

    Sumberdaya dan cadangan emas pada beberapa kawasan kesempatan telah ditambang oleh pemilik perjuangan pertambangan, akan namun secara keseluruhan hanya berjalan beberapa tahun dan selsai dengan masih menyisakan sebagian besar sumberdayanya. Beberapa faktor penyebab khususnya ialah estimasi cadangan terlalu spekulatif, perlengkapan tidak sesuai, dan pembengkakan ongkos operasional, sehingga mempengaruhi nilai ekonomi pengusahaan pertambangannya (Van Leeuwen, 1994). Meskipun cebakan emas letakan/aluvial biasanya pernah diusahakan, namun potensi materi galian tertinggal berupa cebakan emas insitu dan komoditas bahan galian yang terkandung pada tailing masih memiliki peluang untuk diusahakan.

     Emas sebagai salah satu komoditas tambang sudah dikenal dan diusahakan di Indonesia sejak Sejarah dan Potensi Emas Aluvial di Indonesia
    Sumberdaya emas aluvial di beberapa daerah kesempatan (Van Leeuwen, 1994 & Sujono, 2004).
    Referensi: Makalah Ilmiah oleh Sabtanto Joko Suprapto (Kelompok Program Penelitian Konservasi-Pusat Sumber Daya Geologi.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Selasa, 23 Februari 2021

    Mineral Pirit Selaku Isyarat Adanya Emas

    Apa itu Mineral Pirit ?

    Pirit yaitu mineral berwarna kekuningan dengan kilap logam yang cerah. Pirit mempunyai rumus kimia FeS2 (disulfida besi) dan ialah mineral sulfida yang paling umum ditemui. Pirit bisa terbentuk pada suhu tinggi-rendah dan keterdapatannya bisa dalam batuan beku, metamorf dan sedimen meskipun dalam jumlahnya yang sedikit.

    Nama "pirit" berasal dari bahasa Yunani "pyr" yang berarti "api." Nama ini diberikan karena pirit dapat dipakai untuk membuat bunga api yang dibutuhkan untuk menciptakan api kalau dipukul terhadap logam atau materi keras yang lain.


    Di penduduk , pirit mempunyai berbagai julukan yang sangat populer diantaranya yakni "penghantar emas", "emas muda", bahkan ada yang juga menyebutnya selaku "emas imitasi". Hal ini dikarenakan pirit mempunyai warna mineral yang mirip emas.

    Dengan kilap logam dan berat jenis yang tinggi sering menjadikan orang keliru untuk membedakan pirit dengan emas, bahkan pada prospektor emas berpengalaman sekalipun. Namun, yang perlu diamati disini bahwa kedua mineral ini sering terbentuk tolong-menolong, bahkan pada beberapa deposit, pirit mengandung kandungan emas yang bernilai hemat untuk ditambang.

    Bagaimana Mengidentifikasi Mineral Pirit ?

    "Handspecimens" atau conto pirit biasanya gampang untuk diidentifikasi. Mineral ini senantiasa memiliki warna kekuningan, kilap logam dan berat jenis yang tinggi. Satu-satunya mineral yang memiliki sifat fisik yang seperti dengan pirit ialah markasit, suatu dimorph pirit dengan komposisi kimia yang serupa namun mempunyai struktur kristal ortorombik.

    Markasit tidak memiliki warna kuning terang seperti pirit, tetapi berwarna kuningan pucat kadang kala tampakdengan warna sedikit hijau. Markasit lebih ringkih dari pirit dan juga mempunyai berat jenis sedikit lebih rendah adalah 4,8.


    Sebenarnya pirit dan emas mampu dengan gampang dibedakan, emas sangat lembut dan akan penyok bila diberikan tekanan (emas sifatnya elastis). Emas mempunyai cerat berwarna kuning, sementara pirit berwarna hitam kehijauan. Selain itu emas memiliki berat jenis yang lebih tinggi dari pirit. Dengan Melakukan pengujian kecil akan membantu Anda membedakan antara pirit dengan emas.

    Pirit adalah mineral berwarna kekuningan dengan kilap logam yang cerah Mineral Pirit Sebagai Petunjuk Adanya Emas
    Gambar mineral pirit dan sifat fisiknya.

    Apa Kegunaan Mineral Pirit ?

    Pirit berisikan besi dan welirang (FeS2), namun mineral ini bukan ialah sumber utama dari komponen besi. Besi umumnya diperoleh dari bijih oksida seperti hematit dan magnetit. Deposit Oksida besi di alam jauh lebih besar dibandingkan besi sulfida dan juga lebih mudah mengekstraknya menjadi logam besi dibanding besi sulfida.

    Pirit digunakan selaku bijih utama dalam memproduksi belerang (welirang) dan asam sulfat. Saat ini sebagian besar sulfur diperoleh selaku produk sampingan dari pengolahan gas alam dan minyak mentah. Beberapa belerang terus diproduksi dari pirit selaku produk sampingan dari produksi emas.

    Penggunaan yang terpenting dari pirit sebenarnya ialah selaku mineral prospeksi yang mampu menandakan keberadaan bijih emas. Emas dan pirit terbentuk pada kondisi yang sama dan terbentuk tolong-menolong dalam suatu batuan. Dalam beberapa deposit, sejumlah emas terbentuk selaku inklusi dan substitusi dalam pirit.

    Akan namun, kita juga mesti berhati-hati karena pirit juga mampu terbentuk sebagai pengganti materi organik pada sedimen organik mirip batubara dan serpih hitam. Pembusukan bahan organik dalam batuan akan menyantap oksigen dan melepaskan welirang. Pada kondisi demikian, pirit tidak mampu dijadikan petunjuk akan keberadaan emas.

    Beberapa pirit mampu mengandung 0,25% berat emas ataupun lebih. Meskipun nilai ini yakni nilai terkecil dari bijih, tetapi harga emas yang sangat tinggi ditambah produk pirit mungkin akan menciptakan nilai tambang menjadi lebih irit.

    Misalnya, jikalau pirit mengandung 0,25% emas dan harga emas yaitu $1500 per troy ounce, maka 1 ton pirit akan berisi sekitar 73 troy ons emas senilai lebih dari $109.000. Namun ini bukan menjadi jaminan yang akan menghadirkan laba, karena dasar perhitungan keuntungan berada pada nilai "cost recovery" pengambilan emas dalam pirit.

    Pada sekitar tahun 1800-an, Pirit sungguh terkenal di amerika dan eropa alasannya dipakai selaku watu permata. Dahulu sebagian besar batu embel-embel disebut "markasit", tetapi sesungguhnya mereka ialah pirit.

    Markasit tidak sesuai untuk dijadikan tambahan sebab mineral ini cepat mengalami oksidasi, dan produk oksidasinya sungguh menyebabkan kerusakan fisik dari suatu aksesori. Namun, pirit pun bahwasanya bukanlah kerikil embel-embel yang manis alasannya adalah mineral ini mudah terkorosi.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Minggu, 21 Februari 2021

    Emas Aluvial (Placer) Dan Sejarah Perburuannya

    Emas aluvial umumdisebut juga dengan "emas placer". Oleh para andal geologi bijih (ore geologists), endapan placer ialah endapan "allochtonous" yang bernilai ekonomis. Endapan placer adalah endapan kelas terigen yang terbentuk oleh proses sedimenter biasa (ordinary sedimentary processes) yang mengendapkan atau mengkonsentrasi mineral-mineral berat. Umumnya proses pemisahan gaya berat alamiah ini dibantu oleh media air bergerak, meskipun ada juga yang terkonsentrasi lewat media padat dan angin. Mineral-mineral berat tersebut mesti terlebih dulu terbebaskan dari batuan sumbernya, mesti mempunyai berat jenis (densitas) yang tinggi, resisten secara kimia terhadap pelapukan, serta memiliki durabilitas tinggi (tahan terhadap proses-proses mekanik). Emas adalah salah satu mineral yang memenuhi syarat tersebut.

    Daya tarik, kekayaan, dan akomodasi dalam penambangan emas alluvial (placer) sudah mengakibatkan terjadinya berbagai perburuan (gold rush) dalam skala besar di dunia pertambangan. Endapan placer merupakan tipe endapan yang “poor man’s” (modal dengkul). Pekerja keras cuma membutuhkan sebuah sekop atau cangkul dan dulang (panner) untuk mengekstrak emas, dan dalam waktu dua ahad bisa menghimpun emas yang sangat banyak dan menjadi kaya-raya.

    Perburuan emas besar-besaran di California tahun 1849, di Australia pada 1850-an, serta penyerbuan yang penuh risiko bahaya di Klondike dan Alaska pada 1897, menunjukkan terjadinya penambangan emas aluvial yang besar-besaran hanya dalam waktu yang relatif singkat. Kondisi tersebut lalu disertai dengan penambangan emas primer yang lebih stabil. Berikutnya disusul oleh pembangunan settlement, agrikultur, industri, yang pada karenanya terbentuk suatu negara-negara besar. Besarnya pengaruh berburu emas alluvial bisa mendatangkan imigran dalam jumlah yang sangat besar ke kawasan-kawasan pertambangan tersebut di atas, yang kemudian diikuti oleh aneka macam pembangunan dan industri, dan pada akhirnya justru mengganti tempat yang semula terpencil dan sepi, menjadi negara dan negara bab yang besar (California, Alaska, Australia, dsb).

     Endapan placer adalah endapan kelas terigen yang terbentuk oleh proses sedimenter biasa  Emas Aluvial (Placer) dan Sejarah Perburuannya
    Gambar emas aluvial dan proses ekstraksinya.

    Menurut catatan sejarah, perburuan emas aluvial di California di tahun 1849 telah menjadikan hadirnya imigran dengan kapal-kapal besar dari berbagai tempat. Orang-orang indian yang berani, serta orang-orang dari sekitar Cape Horn datang dengan memakai perahu-perahu kecil seadanya yang sebetulnya kurang patut untuk ikut melakukan perburuan emas ini.

    Ada juga dongeng antik yang mempesona tentang perburuan emas aluvial (placer) ini; selaku perbandingan kepada kisah perburuan modern tersebut di atas, adalah cerita klasik wacana legenda Yunani. Menurut kisah yang ditulis Euxine, di tempat Colchis, para penambang pada dikala itu mengekstraksi emas aluvial dengan cara mencangkul gravel-gravel dari sungai dan memuatnya ke dalam "sluice boxes" yang dibuat dari kayu-kayu hutan. Lapisan-lapisan kayu akan mengikat/menjerat partikel-partikel emas; emas yang agresif akan terkocok dan terangkat keluar (berikutnya tinggal diambil), sedang yang halus akan terikat pada "wool" berair yang terbuat bulu-bulu domba, kemudian digantung di pohon untuk dikeringkan sehingga emas halusnya bisa terlepas. Cerita tentang tersebut kemudian hingga ke Yunani, dan Jason dengan Argonautsnya pribadi memasang layar di kapalnya, lalu berlayar menuju ke daerah tersebut.

    Pada era lalu, emas aluvial diekstraksi memakai kayu-kayu, yang diambil secara serampangan dari hutan dan dibentuk "sluice box" yang lebih terbaru, dan kulit sapi dipasang di atasnya selaku bahan "riffles" (penangkap emas halus). Pada dikala ini buatan emas aluvial tinggal sedikit bila dibandingkan dengan kisah indahnya di masa lalu. Endapan-endapan yang "easily discoverable" sudah ditemukan sehingga mengakibatkan perburuan emas aluvial akan lebih berkurang di masa mendatang. Saat ini, hanya sedikit kawasan-tempat eksplorasi yang mampu diharapkan menciptakan endapan yang gres.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Kamis, 18 Februari 2021

    Daerah Akumulasi Emas Aluvial (Placer)

    Daerah-daerah sungai yang terlalu rendah bukanlah ialah daerah yang favorit bagi akumulasi emas aluvial (placer), demikian juga dengan kawasan hulu sungai. Hal ini karena di tempat-kawasan tersebut suplai material sumber terbatas. Daerah yang paling manis ialah tempat pertengahan antara hulu dan hilir sungai.

    Ketika pemikiran air sungai melintasi “lantai” lembah yang licin, maka butiran-butiran emas serta gravel-gravelnya akan melintas dengan cepat tanpa atau cuma sedikit sekali memiliki peluang untuk terendapkan. Tetapi jika suatu sungai atau anak-anak sungainya mencapai lembah dengan gradien yang agak landai, maka tercapai keadaan yang ideal untuk terjadinya pengendapan dan pengkonsentrasian emas sehingga dapat membentuk deposit yang bernilai irit.

    Di daerah sungai bermeander dengan kecepatan aliran yang tinggi, pemikiran tercepat berada pada bagian luar meander. Sedangkan ajaran yang lambat berada di sisi sebaliknya. Perpotongan keduanya, di mana endapan gravel terbentuk, merupakan kawasan yang favorit bagi pengendapan butiran emas. Dengan terjadinya migrasi lateral dari meander tersebut, maka "pay streak" akan tertutupi dan akibatnya “berpindah” jauh dari "stream channel" asalnya. "Pay streak" yaitu area akumulasi mineral-mineral berat akibat konferensi aliran yang deras dengan ajaran yang lambat.

    daerah sungai yang terlalu rendah bukanlah merupakan tempat yang favorit bagi akumulasi em Tempat Akumulasi Emas Aluvial (Placer)
    Gambar beberapa model akumulasi emas aluvial pada sungai.

    Sebenarnya, emas aluvial (placer) tidak terbentuk di meander-meander hilir dari suatu sungai bau tanah, karena kecepatan alirannya tidak memungkinkan untuk mampu mentransport mineral-mineral berat mirip emas. Ketika sungai memangkas batuan berlapis yang sangat miring atau vertikal, mirip batu slate, sekis, atau perselingan lapisan yang garang dan halus, maka lapisan yang garang cenderung akan mencolokke atas, sedangkan yang halus akan terpotong.

    Proses tersebut diatas akan membentuk “riffles”. Bentuk "riffles" ini seperti dengan bagian-pecahan kayu yang dipaku di bab dasar sluice box untuk memisahkan emas pada proses "sluicing". Riffle-riffle alami ini ialah perangkap yang sungguh manis untuk menjebak butiran emas, dan mampu membentuk “bonanza” (endapan plaser yang sangat besar dan kaya).

    Pada ketika material-material dibawa oleh anak sungai yang beraliran cepat masuk ke sungai induk yang beraliran lambat, maka material-material tersebut akan terakumulasi dengan kecepatan yang menurun, dalam bentuk "pay streak" di sisi sungai yang terdekat. Jika sungai memotong lode (badan batuan yang termineralisasi), dan melewati bagian lode yang telah terkorosi (lapuk), maka "pay streak" akan menyebar sepanjang channel sungai di segi hilir dari lode tersebut.

    Butiran emas akan cenderung mengambil posisi di jalur "pay streak". Proses ini bisa dijadikan indikasi untuk menentukan hulu di mana emas berasal, dan kemudian akan mencirikan “lode induk” di kawasan sekitarnya. Dari sinilah para geologi juga mampu menemukan emas primer yang bernilai tinggi.

    Akumulasi emas aluvial menuntut adanya keadaan kesetimbangan yang kontinyu antara kecepatan sungai dengan akumulasi gravel. Gravel-gravel tidak boleh terlalu tebal, harus bergerak secara lamban ke arah hilir, dan harus benar-benarterendam secara keseluruhan dalam air. Ada ataupun tidaknya kondisi seperti ini di sebuah sungai sungguh memilih nilai ekonomis sebuah "pay streak" dan jarang-tidaknya disseminasi emas.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Rabu, 17 Februari 2021

    Ukuran, Kehalusan, Dan Bentuk Emas Aluvial

    Ukuran Emas Aluvial (Placer)

    Sebagian besar emas aluvial (placer) terdapat dalam bentuk butiran-butiran berukuran halus yang disebut “dust” (bubuk), tetapi oleh para penambang yang beruntung kadang ditemukan juga gumpalan-gumpalan atau bongkah-bongkah yang lebih besar yang disebut “nuggets”. Secara lazim kisaran ukuran nugget emas aluvial (placer) seperti biji-bijian hingga mirip kacang-kacangan, tetapi nuggets yang beratnya 1 - 10 pon (0,5 – 5 kg) juga cukup lazim ditemukan.

    Sampai saat ini nuggets terbesar yang pernah ditemukan ialah “the Welcome Stranger” yang ditemukan di Ballarat, Australia, yang beratnya 2.280 ons (sekitar 69 kg), “the Blanche Barkley” dari Victoria seberat 1.752 ons (sekitar 53 kg), dan “the Carson Hill” dari California seberat 1.296 ons (sekitar 39 kg). Di tahun 1936 ditemukan juga sebuah nugget seberat 1.752 ons di Pegunungan Ural (Rusia).

     tetapi oleh para penambang yang beruntung kadang ditemukan juga gumpalan Ukuran, Kehalusan, dan Bentuk Emas Aluvial
    Gambar berbagai macam ukuran dan bentuk emas aluvial (placer).

    Nugget paling besar dari Australia didapatkan sedikit di bawah singkapan, sehingga tidak digolongkan ke dalam jenis nugget aluvial sungai. Nugget terbesar yang dilaporkan dari Yukon seberat 85 ons (sekitar 2,6 kg). Pernah juga didapatkan nugget seberat 47 ons (sekitar 1,4 kg) dari Arizona dan 40 ons (sekitar 1,2 kg) dari Montana. Tentu saja kesemua nuggets tersebut termasuk nugget-nugget yang hebat (istimewa, di atas rata-rata). Jika kita ingin merata-ratakannya, maka secara umum partikel-partikel emas aluvial berskala pasir agresif.

    Masih ada ukuran emas aluvial yang lebih kecil, ialah partikel-partikel sangat halus yang disebut "flour" (tepung). Terestimasi bahwa emas "flour" dari Snake River rata-rata mengandung sekitar 5.000 warna. Float-float emas flour ini gampang dan cepat terekspose di udara terbuka, dan bisa terbawa hingga ratusan mil. Tingkat kehalusannya yang sangat ekstrim menerangkan terjadinya distribusi yang luas dari warna dalam keseluruhan lebar dan tebal gravel-gravel sungai.

    Bentuk Emas Aluvial (Placer)

    Bentuk emas aluvial lazimnya menyerupai disk (disclike), sehubungan tumbukan atau benturan kontinyu yang sudah dialaminya selama tertransportasi. Nugget lazimnya berbentuk rounded tetapi dengan outline (garis bentuk) yang tidak teratur. "Dust" dan "flour" berupa pellet-pellet pipih dan disk-disk tipis dengan tebal cuma sekitar 2 mikron. Emas yang terkristalisasi jarang ditemukan pada endapan aluvial, namun nugget Latrobe (23 ons, atau sekitar 700 gram) yang terdapat British Museum ialah contoh yang indah dari kristal emas yang sukses lolos dari tahap mutilation (pengrusakan).

    Kehalusan (Fineness) Emas Aluvial

    Kualitas atau fineness (kehalusan) dari emas biasa diekspresikan dalam parts per 1.000 (1.000 memperlihatkan emas murni) atau dalam satuan fine. Fineness emas aluvial bervariasi pada kisaran 500 – 999 fine; sedangkan pada vein 500 – 850 fine. Sebagian besar (mayoritas) emas aluvial kehalusannya di atas 800 fine. Peneliti menyimpulkan bahwa kehalusan rata-rata emas di vein California yaitu 850 fine, sedangkan pada emas aluvial Tersier rata-rata 930 – 950 fine.

    Disimpulkan juga bahwa fineness emas aluvial akan bertambah dengan bertambahnya jarak angkutandan menurunnya ukuran butir. Beberapa observasi menawarkan bahwa nugget-nugget "Klondike" memiliki fineness yang lebih besar pada bagian luar dibandingkan bab dalam. Observasi ini memperlihatkan bahwa sebagian perak pada bagian luar butiran-butiran emas tersebut telah mengalami pelarutan.

    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Senin, 15 Februari 2021

    Mineral Perkumpulan Emas Aluvial Dan Hubungannya Dengan Bedrock

    Mineral Asosiasi Emas Aluvial

    Gold-bearing gravels (gravel yang mengandung emas) umumnya sebagian besar terdiri atas pebble-pebble (kerakal) kuarsa yang durable. Sedangkan pebble-pebble lainnya (yang undurable) terkominusi atau terhancurkan secara kimia. Sehubungan dengan hal tersebut, maka endapan emas aluvial (placer) umumnya ditandai oleh gravel kuarsa yang putih, mirip pada “white channels” di Yukon, “white bars” di California, atau “white leads” di Australia. Pasir hitam, yang utamanya tersusun oleh magnetite dan ilmenite, merupakan perkumpulan yang bersahabat, begitu pula dengan “yellow sand” yang disusun oleh garnet, zircon, dan monazite, juga biasa didapatkan berasosiasi dengan emas aluvial.
     umumnya sebagian besar terdiri atas pebble Mineral Asosiasi Emas Aluvial dan Hubungannya Dengan Bedrock
    Gambar emas aluvial bareng ilmenit, kuarsa, dan magnetite.

    Hubungan Emas Aluvial dengan Bedrock

    Karakter batuan ganjal (bedrock) sungguh penting, baik dalam melokalisir emas aluvial maupun mempengaruhi recovery-nya. Batuan yang permukaannya halus biasanya kurang bisa diperlukan melokalisir emas, daripada batuan sedimen berlapis dengan kemiringan terjal yang dasarnya irregular, atau “riffles”, yang memiliki potensi menjebak emas.

    Batuan-batuan dekomposisi dan lempungan, serta batugamping yang mempunyai lubang-lubang akhir pelarutan, mirip "sinkhole" atau "pothole" memiliki potensi membentuk perangkap-perangkap yang bagus. Retakan atau celah-celah di permukaan bedrock umumnya merupakan tempat-tempat yang mampu dipenetrasi oleh butiran-butiran emas.

    Emas agresif lazimnya terdapat pada atau di bagian dasar bedrock, dan jarang terdapat di dalam gravel-gravel yang berada pada kedalaman 5 - 15 kaki (1,5 – 4,6 m). Biasanya terjadi degradasi dari bawah ke atas. Di beberapa kawasan didapatkan “false bedrock” yang umumnya berupa lapisan lempung kompak di dalam gravel. Lapisan ini berfungsi selaku lantai bagi gravel-gravel aluvial dan gold-bearing gravel lainnya.

    Pertumbuhan Emas dalam Gravel

    Apakah nugget-nugget emas yang besar memperlihatkan adanya perkembangan dalam gravels ?. Sebagian besar pendukung teori accretion (pertumbuhan) mengklaim bahwa nugget-nugget yang besar dan butiran-butiran yang bergairah dari emas aluvial yakni lebih besar ketimbang partikel-partikel emas primernya yang diobservasi dalam veins. Sehingga mereka berpendapat bahwa selama dalam perjalanannya, emas-emas aluvial ini “tumbuh”.

    Tetapi beberapa andal berpendapat bahwa emas aluvial murni hanya terbentuk secara mekanis, terikat/terkumpul satu sama lain, antara satu butir dengan butir yang lain secara mekanis, tidak lewat proses kemajuan secara kimia. Hasil uji poles dan gores yang dilaksanakan oleh beberapa peneliti menunjukkan bahwa struktur kristalin emas aluvial masih sama dengan yang berada pada emas vein (primer).

    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Jumat, 12 Februari 2021

    Daftar Perusahaan Tambang Emas

    Informasi yang disuguhkan dalam artikel ini merupakan berita nama perusahaan/perjuangan Tambang Emas, yang meliputi alamat kantor operasional, kantor sentra, nomor telepon, website, dan email. Data yang dihidangkan diperoleh dari unit eksplorasi/bikinan perusahaan-perusahaan milik negara, swasta maupun kontraktor aneh. Perusahaan Tambang Emas yang dicakup dalam daftar ini adalah perusahaan yang memiliki izin eksplorasi dan atau eksploitasi di seluruh Indonesia.

    Praktis-mudahan postingan ini dapat melengkapi kebutuhan info wacana Daftar Perusahaan Tambang Emas, sehingga dapat dimanfaatkan baik oleh perusahaan/usaha yang berkepentingan, maupun para pelanggan data lainnya yang membutuhkan. Disamping itu, gosip ini dibutuhkan juga dapat dipakai sebagai kerangka observasi atau studi khusus berikutnya.


    Informasi yang disajikan dalam postingan ini merupakan informasi nama perusahaan Daftar Perusahaan Tambang Emas
    Gambar ilustrasi tambang emas.

    Perusahaan Tambang Emas di Indonesia

    NUSA HALMAHERA MINERALS, PT
    KOMODITAS : EMAS
    KANTOR OPERASIONAL : JL. SAM RATULANGI NO. 48, MANADOTELP. (0431) 844-740, FAX. (0431) 844-741
    KANTOR PUSAT : JL. SAHID GOSOWONG CILANDAK TIMUR PASAR MINGGU JAKARTA SELATAN, JAKARTA, 12510 TELP +62 21 78831211

    BUMI SUKSESINDO, PT
    KOMODITAS : EMAS
    KANTOR OPERASIONAL : PULAU MERAH KEL. PESANGGRAHAN JAWA TIMUR 68488 TELP. 0333-710368 FAX.0333-7110088 EMAIL : bsibatu dotcom
    KANTOR PUSAT : CIMB PLAZA NIAGA 8 TH FLOOR SUITE 802 JL JEND. SUDIRMAN KAV.25 JAKARTA 12920 TELP. 021-29410806 FAX.021-29039500 EMAIL : yunizar.imamsyah@bsibatu dotcom

    SORIKMAS MINING, PT
    KOMODITAS : EMAS, TEMBAGA
    KANTOR OPERASIONAL : JL. TORSIOJA KEC. KOTANOPAN, KAB. MANDAILING NATAL, TELP. (0636) 41408, FAX. (0636) 41408
    KANTOR PUSAT : INTERNATIONAL FINANCIAL CENTRE (IFC), 9th Floor, JL. JENDERAL SUDIRMAN, KAV. 22 – 23, 12920 Telephone +62 21 57903050


    GEMALA BORNEO UTAMA, PT
    KOMODITAS : EMAS DAN PERAK
    KANTOR OPERASIONAL : PULAU-PULAU TERSELATAN, MALUKU BARAT DAYA, MALUKU
    KANTOR PUSAT : Jl. ABUSERIN III No.54, CILANDAK, KOTA JAKARTA SELATAN JAKARTA 12420, Indonesia Telephone +62 21 75913125

    INDOMURO KENCANA / STRAITS. PT
    KOMODITAS : EMAS
    KANTOR OPERASIONAL : DIRUNG CAMP, PT. INDOMURO KENCANA / STRAITS KM. 6, KEC. TANAH SIANG
    KANTOR PUSAT : JL. SULTAN ISKANDAR MUDA KAV. V-TA WISMA PONDOK INDAH 600 LT. 6, JAKARTA 12310

    AGINCOURT RESOURCES, PT
    KOMODITAS : EMAS
    KANTOR OPERASIONAL : JL. PADANGSIDEMPUAN, SIBOLGA KM.3,5 KEL. AEK PINING KEC. BATANG TORU, TAPANULI SELATAN, SUMATERA UTARA TELP. (0634) 370330, FAX.(0634)370331
    KANTOR PUSAT : WISMA PONDOK INDAH 2 LEVEL 12 SUITE 1201 JL. SULTAN ISKANDAR MUDA, KAV. VII A JAKARTA SELATAN

    NEWMONT NUSA TENGGARA, PT
    KOMODITAS : EMAS, TEMBAGA
    KANTOR OPERASIONAL : TOWN SITE, KEC. SEKONGKANG, SUMBAWA BARAT, NTB TELP. (0372) 635318, FAX. (0372)635319 JL. SRIWIJAYA NO. 258 MATARAM 83126
    KANTOR PUSAT : MENARA RAJAWALI LT.26 JL. LINGKAR KUNINGAN, MEGA KUNINGAN, JAKARTA TELP. (021) 57994600, FAX. (021) 5761464


    FREEPORT INDONESIA COMPANY, PT
    KOMODITAS : EMAS, TEMBAGA
    KANTOR OPERASIONAL : JL. MANDALA RAYA SELATAN NO. 1, KUALA KENCANA, TIMIKA, PAPUA TELP. (0901) 432-345, FAX. (0901) 432060 PO BOX 2072, TEMBAGA PURA 98100 TELP. (0901) 432189, FAX. (0901) 432209
    KANTOR PUSAT : PLAZA 89 LT. 9 JL. HR.RASUNA SAID KAV X-7 NO.6, JAKARTA 12940 TELP. (021) 2591818, FAX. (021) 2591785

    BATUTUA WAY KANAN MINERAL, PT
    KOMODITAS : EMAS, PERAK
    KANTOR OPERASIONAL : DSN MOJOKERTO KAMP DONO MULYO KEC BANJIT
    KANTOR PUSAT : LEVEL 9 ROOM 931 PATRA OFFICE TOWER JL GATOT SUBROTO KAV.34 JAKARTA TELP. 021 52900051 FAX.021 52900684

    GAG NIKEL, PT
    KOMODITAS : EMAS, TEMBAGA
    KANTOR OPERASIONAL : JL. BASUKI RAHMAD KM.8, NO.8 SORONG UTARA 98416 TELP. (0591) 327-511 FAX. (0591) 325-388
    KANTOR PUSAT : GEDUNG ANEKA TAMBANG LT.3 JL. LETJEN SIMATUPANG TELP. 570-6281, FAX. 573-5919 Homepage : www.bhp.com.au.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Rabu, 23 Desember 2020

    Mengenal Emas, Logam Mulia Dengan Simbol Bagian Au

    Mungkin inilah kata yang sempurna untuk menggambarkan logam mulia ini: Berwarna kuning, sering dipuja-puja oleh kaum hawa, salah satu syarat untuk menikah, banyak diincar oleh perampok, bahkan mampu dipakai untuk mengunyah makanan (klau gigi palsunya terbuat dari logam ini cieciecie..).

    Tanpa berbasa-bau lagi, pada potensi ini .com akan menjajal membicarakan perihal emas, tetapi bukan mas eko, mas parto, mas sugeng, dan mas-mas lainnya ya.. Mari kita mulai.

    Pengertian Emas

    Emas yakni komponen kimia yang dalam tabel periodik merupakan bab kalangan B dari famili I dengan simbol Au (Bahasa Latin: 'aurum') dan nomor 79 bareng dengan perak dan tembaga. Emas merupakan logam transisi (trivalen dan univalen) yang kuning, mengkilap, lunak, elastis, berat, dan mudah ditempa sampai dengan ketebalan 0,00001 mm.

    Emas tidak bereaksi dengan pada umumnya zat kimia lainnya, tetapi permukaannya dapat menjadi kusam oleh klorin dan fluorin. Logam ini banyak terdapat sebagai bungkal (nugget) emas atau serbuk dalam batuan dan pada endapan aluvial, serta merupakan salah satu logam yang mampu dijadikan mata uang (coinage). Kode ISO untuk emas yakni XAu. Emas dapat melebur pada suhu sekitar 1.000 derajat celcius.

    Jenis-jenis Emas, Sifat Fisik, dan Asosiasi Mineralnya

    Kekerasan emas berkisar antara 2,5 - 3 dalam skala Mohs sebanding dengan mineral kalsit. Emas biasanya berasosiasi dengan mineral pengotor (gangue minerals) antara lain kuarsa, karbonat, turmalin, dan fluorit. Secara alamiah, emas terdapat dalam bentuk emas native, emas telurida, elektrum yang ialah jenis lain dari emas native dengan kandungan perak lebih besar dari 20% dan sejumlah paduan emas dengan unsur-komponen sulfur, antimon, dan selenium. Selain itu, mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang sudah teroksidasi. Emas biasanya terikat di dalam sulfida-sulfida logam dan hasil pelapukannya antara lain pirit, kalkopirit, galenit, stibnit, tetrahedrit, sfalerit, arsenopirit, dan molibdenit.

    Berat jenis emas bergantung pada perlakuannya, jenisnya, dan kandungan logam lain yang terpadu dengannya. Sebagai teladan emas tuang mempunyai BJ 19,3, emas suling (distilled gold) 19,26, drawn gold 19,25, cold rolled sheet 19,296 dan precipitated gold oleh CH2O 19,29. Titik leburnya yakni 1.045 derajat celcius dan titik didihnya sekitar 2.500 derajat celcius (McGraw Hill Encyclopedia of Science and Technology).

    Emas terbentuk dalam beraneka ragam adonan yang khususnya mengandung logam-logam perak (Ag), tembaga (Cu) dan timbal (pb). Beberapa telurida Au dan Au-Ag lazimnya terbentuk sebagai silvanit, calaverit, petzit, krennerit dan nagyagit. Antimonida, aurostibit dan AuSb2 dalam cebakan-cebakan mengandung emas; bersama dengan selenida emas mengandung Ag, fischesserit, Ag3AuSe2, sulfida emas mengandung Ag, uytenbogaardit, bismuthid, maldonit, dan Au2Bi. Mineral-mineral bijih Au yang utama berbentuklogam murni, aurostibit dan bermacam-macam telurida.

    Mungkin inilah kata yang tepat untuk menggambarkan logam mulia ini Mengenal Emas, Logam Mulia dengan Simbol Unsur Au
    Karakteristik atau sifat-sifat fisik emas.

    Warna emas secara alami beragam tergantung ukuran partikelnya. Emas precipitated umumnya berwarna coklat, namun ada juga yang mempunyai bayangan hitam, ungu, biru, dan merah muda (pink). Dalam lembaran tipis, lazimnya tembus cahaya dan memancarkan cahaya kehijauan. Sebagai paduan, warna kuningnya bermacam-macam tergantung jenis logam paduannya. Paduan emas-perak contohnya, membuat warna kuning emas menjadi lebih muda, sedangkan dengan tembaga warna kuning tersebut akan menjadi lebih renta atau agak kemerahan. Para andal tambahan menyebut emas putih (monel) bila emas dipadukan dengan platinium sejumlah 25% atau 12% paladium.

    Mungkin inilah kata yang tepat untuk menggambarkan logam mulia ini Mengenal Emas, Logam Mulia dengan Simbol Unsur Au
    Emas sekunder, butiran emas aluvial, dan tabel kelompok mineral bijih emas.

    Kandungan Emas dalam Batuan

    Kandungan emas dalam kerak bumi rata-rata 0,005 ppm, perbandingan Au dan Ag 0,07. Rata-rata kandungan Au dalam batuan beku: 0,004 ppm dalam ultramafik; 0,007 ppm dalam gabro-basalt; 0,005 ppm dalam diorit-andesit; dan 0,003 ppm pada granit-riolit. Sementara kandungan Au dalam batuan sedimen: 0,03 ppm dalam batupasir dan konglomerat; 0,04 ppm dalam serpih; dan 0,003 ppm dalam batugamping.

    Apa itu Kadar Emas?

    Kemurnian emas diukur dengan karat, memberikan seberapa murni emas yang terkandung dalam suatu paduan. Istilah karat ini sering dipakai orang untuk merujuk kepada kadar emas. Satu karat sama dengan 1/24 bab emas atau 4,1667%. Emas 24 karat berarti emas murni, sedangkan emas 18 karat mengandung 18 bagian emas dan 6 bab paduan.

    Bergantung pada wilayahnya, emas tambahan di Indonesia bermacam-macam dalam ukuran karat, namun biasanya berkisar antara 22 sampai dengan 24 karat. Inggris menggunakan patokan 22 karat koin emas setara dengan 91,67% Au dan 8,33% Cu dengan warna agak kemerahan. Sedangkan Amerika, Jerman, dan Italia membuat koin emas dengan perbandingan 77,78% Au dan 22,22% Cu.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Rabu, 16 Desember 2020

    Sejarah Penambangan Emas Di Indonesia

    Penambangan emas di Indonesia telah dimulai sejak lebih dari seribu tahun lalu dengan kehadiran imigran dari Cina yang menambang emas di beberapa wilayah, dilanjutkan pada Jaman Hindu, pendudukan Belanda dan Jepang. Selama zaman kolonial Belanda (1600-1942) pertumbuhan penambangan emas sungguh terbatas. Beberapa cadangan bijih emas yang didapatkan pada masa ini di daerah Lebong, ialah Lebong Donok dan Lebong Tandai, Provinsi Bengkulu. Penemuan cebakan emas lainnya adalah di daerah Banten Selatan yang diketahui sebagai tambang emas Cikotok milik PT Aneka Tambang. Disamping itu pula terdapat inovasi-penemuan cebakan emas lainnya dalam jumlah yang relatif kecil.

    Pada tahun 1939, buatan logam emas total tercatat sebesar 2,5 ton, yang setengahnya berasal dari Lebong Tandai. Selama Perang Dunia II, semua tambang emas tersebut ditutup dan sesudah perang hanya beberapa tambang yang dibuka kembali tergolong Tambang Emas Cikotok. Produksi emas sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga pertengahan tahun 1980-an tidak memperlihatkan peningkatan yang memiliki arti. Produksi total yang tercatat pada tahun 1985 berjumlah sekitar 2,6 ton, dengan lebih dari 90% dari jumlah tersebut merupakan produk sampingan konsentrat tembaga yang dihasilkan PT Freeport Indonesia di Papua (dulu Irian Jaya), sedangkan sisanya berasal dari bikinan PT Aneka Tambang di Cikotok.

    Di Pulau Sumatera, emas telah lama diusahakan oleh rakyat. Kegiatan penambangan emas terbaru ditandai dengan dibukanya tambang Lebong Donok, Bengkulu pada tahun 1899. Jenis cebakan yang dijalankan ialah cebakan emas primer. Usaha itu disusul oleh pembukaan tambang-tambang lain seperti Simau (1910), Salida (1914), Lebong Simpang (1921) dan Tambang Sawah (1923). Tambang Mangani di Sumatera Barat mulai berproduksi pada tahun 1913, tambang yang diusahakan oleh perusahaan Equator ini bertahan sampai tahun 1931, kemudian beralih kepemilikan dan dibuka kembali pada tahun 1939 oleh Marsman's Algemeen Exploratie Maatschappij atau lebih diketahui MAEM.

    Penambangan emas di Indonesia telah dimulai sejak lebih dari seribu tahun lalu dengan keda Sejarah Penambangan Emas di Indonesia
    Data produksi emas 1996-2011 dan foto sejarah penemuannya di Indonesia.

    Tambang-tambang lain yang dibuka setelah abad 1930-an ialah tempat Belimbing, Gunung Arum pada tahun 1935 dan dikontrol olehh perusahaan Barisan, daerah Bulangsi dikelola oleh Sumatra Goldmijn Ltd dan Muara Sipongi pada 1936. Selain menambang bijih emas primer, MAEM juga mengusahakan emas yang berasal dari endapan aluvial (sekunder) di Meulaboh Aceh yang dibuka pada tahun 1941 dan berjalan sampai pecahnya Perang Dunia II. Tambang emas aluvial lain terdapat di Logas Riau dan diusahakan oleh perusahaan Bengkalis.

    Di Kalimantan Barat, orang-orang Cina sejak dahulu sudah melakukan penambangan emas, akan namun kesannya kurang memadai dibandingkan dengan hasil tambang emas di Sumatera. Tambang-tambang emas yang meningkat ialah tambang-tambang berskala kecil yang diusahakan oleh rakyat. Hal yang serupa juga berjalan di Sulawesi Utara.

    Cebakan bijih emas primer yang ditemukan di daerah Cikotok mulai diproduksi pada 1940 dan diusahakan oleh perusahaan Zuid Bantam (Anonim, 1998). Pembangunan tambang emas Cikotok dilaksanakan oleh N.V Mynbouw Maatschappy Zuid Bantam (NV.MMZB) pada tahun 1936 hingga 1939, pada dikala itu pabrik di Pasirgombong untuk pertama kalinya berproduksi. Cadangan bijih emas pada waktu itu yaitu sebesar 569.041 ton dengan kadar Au 8,4 g/ton dan Ag 481 g/ton. Tambang emas Cikotok dan Cikondang dan sejumlah tambang emas di Sumatera (Simau, Lebong, Simpang, Mangani, Logas, dan Meulaboh) serta tambang emas di Sulawesi Utara (Tapaibekin) tetap berlangsung meskipun pecah Perang Dunia II.

    Di zaman Jepang, tambang-tambang tersebut tetap beroperasi dan diatur oleh perusahan Jepang berjulukan Mitsui Kosha Kabunshiki Kaisha dengan tujuan terutama mengambil timah hitam dari tambang Cirotan untuk keperluan militer. Antara tahun 1945-1948, yang ialah tahun usaha kemerdekaan, tambang emas Cikotok dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia dibawah pengawasan Jawatan Pertambangan Pusat Republik Indonesia.

    Selama kala agresi militer Belanda ke-2 pada tanggal 23 Desember 1948, Tambang Cikotok kembali dikuasai oleh Belanda sampai pengukuhan kedaulatan pada simpulan tahun 1949. Sementara itu NV.MMZB sudah kembali untuk meneruskan bisnisnya, namun tambang dan pabrik mengalami kerusakan berat selama pendudukan Jepang dan selama tahun-tahun revolusi selanjutnya. Setelah mengenali bahwa untuk merehabilitasi dan membangun kembali tambang tersebut membutuhkan ongkos besar sekali, maka perusahaan tadi menetapkan untuk menjual tambang tersebut terhadap NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan (NV.PPP).

    NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan kemudian melaksanakan rehabilitasi tambang pada tahun 1954 dan mulai berproduksi pada tahun 1957. Pengelola terakhir tambang ini yaitu Unit Pertambangan Emas Cikotok, tetapi dengan makin menipisnya cadangan sehingga tidak hemat untuk di eksploitasi maka pada selesai tahun 1994 produksinya tidak boleh dan pada Januari 1995 statusnya berkembang menjadi Proyek Eksplorasi dan Pengembangan Emas dan Perak Cikotok yang dikelola oleh PT Aneka Tambang.

    Umumnya dari tahun 1950 sampai dengan tahun 1970-an perjuangan pertambangan emas hanya melaksanakan atau merehabilitasi sisa perusahaan tembang emas sebelum perang dunia ke-2. Kegiatan penelusuran emas pada waktu itu belum maksimal alasannya adalah undang-undang/peraturan, kebijakan pemerintah perihal emas, harga dan lain-lain kurang mendukung pembukaan tambang emas baru.

    Tambang emas sebelum perang dunia ke-2 yang direhabilitasi kembali oleh NV PPP anak perusahaan Bank Industri Negara adalah Tambang Cikotok dan Logas di Riau. Beberapa bekas tambang sebelum perang diusahakan oleh rakyat dalam bentuk pertambangan rakyat, mirip di Bengkulu, Kalimantan, dan Sulawesi Utara. Minat swasta gres meningkat sesudah tahun 1970-an dengan membaiknya harga emas antara tahun 1974-1975. Hampir semua kawasan yang mengandung peluangemas, Kuasa Pertambangan-nya (KP) telah dipegang oleh swasta nasional atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

    Dari 369 KP Eksplorasi yang tercatat di tahun 1980, terdapat 56 KP Eksplorasi emas yang terdiri atas 22 KP dimiliki oleh BUMN dan 34 KP dimiliki oleh swasta nasional. Sedangkan KP Eksplorasi waktu itu baru berjumlah 2 buah yang dimiliki PT Aneka Tambang. Tahun 1982 terdapat 8 KP Eksploitasi, diantaranya 3 KP milik swasta nasional dan sisanya milik BUMN. Umumnya KP emas yang ditangani Swasta Nasional berjalan kurang tanpa hambatan kerena kekurangan modal, ketrampilan, dan teknologi. Penemuan mineral emas yang penting di Indonesia antara tahun 1967 sampai 2005 terekam dalam tabel di bawah ini.


    Penambangan emas di Indonesia telah dimulai sejak lebih dari seribu tahun lalu dengan keda Sejarah Penambangan Emas di Indonesia
    Penemuan emas di Indonesia antara tahun 1967-2005.

    Hasil kegiatan eksplorasi yang dijalankan pada kala 1980-an, pada saat ini sebagian perusahaan tambang emas masih berproduksi tetapi beberapa telah ditutup alasannya adalah cadangan bijihnya telah habis. Pada tahun 1990 bikinan emas dan perak dihasilkan oleh PT Aneka Tambang, PT Lusang Mining, PT Ampalit Mas Perdana, PT Monterado Mas Mining, PT Aratutut, PT Bakri Hadis Perdana, PT Tambang Timah Perkasa, dan tambang rakyat.

    Selain dari perusahaan-perusahaan tersebut, emas dan perak juga dihasilkan sebagai produk samping dalam konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia (PT FI) dan mulai tahun 2000, PT Newmont Nusa Tenggara juga menghasilkan emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang diolahnya. Hingga saat ini, Indonesia ialah salah satu negara yang memiliki cadangan emas paling besar di dunia, dengan buatan optimal emas di Indonesia pada tahun-tahun tertentu.

    Sumber Data dan Foto:
    Data Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Koleksi Foto Pusat Sumberdaya Geologi.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Sabtu, 12 Desember 2020

    Kegunaan (Pemanfaatan) Emas

    Apa saja Manfaat Emas? - Sejak dulu emas diketahui selaku materi pemanis, lambang kesejahteraan, atau disimpan untuk dana moneter. Keinginan orang untuk memiliki emas sudah menyebabkan terjadinya tukar barang, invasi, penguasaan kolonisasi dan eksplorasi di beberapa kawasan di dunia mirip di India, Asia, Afrika, dan Liberia. Kegunaan emas yang begitu multi lini dan presisi membuatnya menjadi idola untuk diperebutkan.

    Pemanfaatan emas yang bernilai tinggi juga menjadi salah satu pendorong ditemukannya benua Amerika. Keserakahan para Conguistadore terhadap emas sering menjadikan terjadinya penjarahan, perampokan, bahkan pembunuhan. Disamping itu, "demam" emas juga menyebabkan terjadinya komunitas masyarakat baru yang dibarengi dengan datangnya industri-industri pendukung yang lain.


    Pada zaman terbaru, kegunaan emas yang utama ialah untuk dana moneter yang diwujudkan dalam bentuk bulion sebagai cadangan untuk setiap duit kertas yang dikeluarkan. Karena sifatnya yang lunak sehingga mudah ditempa, emas digunakan sebagai aksesori.

    Lihat juga tentang: Daerah Penghasil Emas

    Paduan emas dengan logam lain seperti tembaga, perak, nikel, atau paladium menjadikan adanya istilah emas putih, hijau, dan kuning dalam dunia aksesori. Emas juga dipakai selaku materi pelapis, dekorasi pada gelas dan keramik, bahan penyepuh, book binding, huruf, dan hiasan yang lain. Selain itu, emas juga diharapkan selaku materi dalam industri kimia, pengerjaan gelas dan kedokteran gigi (Wahyudi, 1995).

    Sejarah Penggunaan Emas

    Sejarah penggunaan emas ialah hal yang penting dikaji: mulai dari awal sejarah umat insan hingga sekitar 1000 SM, penggunaan emas terutama hanya terbatas selaku ornamen (dekorasi), hiasan, dan simbol kekuasaan para raja. Hal ini sering disebut era ornamentatif dalam sejarah logam mulia.

    Setelah tahun 1000 SM, emas memasuki era barunya selaku alat tukar (duit) dan sirkulasi secara bebas hingga sekitar tahun 1916 M. Tahap ini disebut kala moneter dalam sejarah logam ini, walaupun dalam jumlah tertentu penggunaannya selaku hiasan masih berlanjut.


    Setelah Perang Dunia I pemanfaatan emas sebagai alat tukar dikurangi dan pada risikonya dibatasi dibanyak negara, kecuali untuk keperluan pelengkap dan era ini berlanjut hingga sekarang. Walaupun demikian, disejumlah negara warga negara diizinkan memiliki emas dalam jual beli logam.

    Baca juga tentang: Genesa Emas

    Sejak tahun 1950 terjadi peningkatan penggunaan emas dalam industri, hal itu menjadi tanda bahwa emas memasuki tahap berikutnya ialah masa industri dalam sejarah logam. Secara khusus, penggunaan emas sungguh tergantung pada fungsi tradisionalnya yaitu :
    1. Sebagai ukuran keuangan (monetary measure) oleh pemerintah dan bank sentral dalam pembayaran internasional
    2. Nilai intrinsiknya sebagai logam yang paling manis/indah
    3. Sifat kimianya yang inert (tidak bereaksi)
    4. Sifat mampu dibentuk (malleability, serta sifat menghantarkan listrik dan panas yang sangat bagus)

    Pemanfaatan Emas di Era Modern

    Pada dunia moneter internasional, emas dipakai dalam bentuk batangan emas murni, tablet, dan koin dengan spesifikasi kandungan emas tertentu. Untuk fungsi lain, emas digunakan dalam bentuk murni atau berupa gabungan dengan logam lain seperti perak, platina, dan tembaga.

    Sulit bagi kita memilih secara tepat komposisi penggunaan emas tahunan diantara terlalu banyak jenis penggunaan emas. Terdapat banyak alasan untuk ini, diantaranya yakni kecenderungan forum keuangan tertentu dan individu untuk mengakibatkan logam ini sebagai simpanan. Kelangkaannya juga menjadi salah satu penyebab terjadinya penimbunan logam ini, sehingga menurunkan pemakaian untuk bidang lain.

    Jual-beli emas, selain untuk perhiasan, tujuan industri dan sebagainya adalah dihentikan secara aturan di banyak negara. Walaupun demikian, penimbunan emas secara tradisional terjadi di negara-negara Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

     Sejak dulu emas dikenal sebagai bahan perhiasan Kegunaan (Pemanfaatan) Emas
    Gambar penggunaan emas untuk embel-embel dan investasi.

    Diperkirakan sekitar 20% produksi emas tahunan dunia masuk ke pemerintah-pemerintah dan bank sentral selaku cadangan moneter, sekitar 5% masuk ke tangan perseorangan atau perusahaan, dan sisanya 75% atau sekitar 36 juta oz dipakai dalam pembuatan (pabrikasi) barang-barang tertentu. Dari bab terakhir itu, sekitar 60% dikomsumsi oleh industri pengerjaan gigi palsu, suplemen dan koin; sisanya digunakan dalam sejumlah besar alat-alat elektronik dan industri lain.

    Penggunaan Emas di Zaman Kuno

    Emas yakni logam ornamen/hiasan para raja dan kaum aristokrat dengan warna alami yang menggoda, berkilau, dan bertekstur mirip sutra. Sejak zaman kuno logam cantik ini secara tradisi sudah dinikmati selaku tambahan pribadi, khususnya dalam bentuk cincin dan bermacam-macam aksesori yang lain. Sejumlah emas dipakai dalam mata pena, medali, jam tangan, dan gigi imitasi.

    Emas juga telah digunakan sejak zaman awal sejarah dalam pembuatan piala, cangkir, vas bunga, petih mayat, dan barang-barang lainnya. Dari semua penggunaan tersebut, emas lazimnya dipadukan dengan tembaga atau perak, kemurnian emas paduan dinyatakan dalam "karat". Emas murni disebut "emas 24 karat".

    Lihat juga tentang: Emas Aluvial

    Emas murni atau emas dengan kandungan perak dan tembaga yang kecil mampu ditempa hingga membentuk lembaran sungguh tipis dengan ketebalan 0,000005 inchi. Dalam bentuk lembaran tipis ini, emas sudah dipakai untuk banyak tujuan dekorasi bangunan, patung, dan benda lain semenjak zaman pra-Alkitab.

    Sifat Emas Menentukan Jenis Pemanfaatannya

    Lapisan tipis emas di "las" ke logam-logam dasar mirip nikel, tembaga, ataupun perunggu serta mampu dibalutkan untuk membuat bentuk-bentuk yang rumit tanpa memecahkan lapisan tipis emas tersebut. Material mirip itu disebut piringan berisi emas (gold-filled plate) dan digunakan secara luas dalam aneka macam jenis suplemen, rangka jam, rangka kacamata, dan lain-lain. Penggunaan emas di bidang industri pada dasarnya bergantung pada karakteristik emas seperti:
    1. Sifat lunaknya
    2. Sifat gampang membentuk paduan dengan logam yang lain (perak, tembaga, dan platina)
    3. Sifat ductility dan malleability yang sangat baik
    4. Sifat menghantarkan listrik dan panas yang sangat baik
    5. Sifat kimianya yang inert sehingga tahan kepada korosi oleh oksigen, sulfur dan senyawa-senyawa kimia, termasuk nyaris semua asam tunggal

    Hampir semua emas di bidang industri dikomsumsi oleh industri elektro dan industri rekayasa listrik dimana produk-produknya memiliki cakupan yang luas mulai dari pelapis pipa vakum, material khusus kontak listrik, kawat listrik, konduktor mutu tinggi, untuk mencetak sirkuit komputer, radio, dan televisi.

    Dalam jumlah banyak, bagian emas juga digunakan oleh industri dalam pembuatan paduan logam tungku temperatur tinggi, materi pelapis khusus alat kimia dan nuklir, inframerah dan reflaktor panas pada pesawat terbang dan pesawat ruang angkasa serta selaku pelindung panas untuk pesawat jet dan mesin roket. Kaca jendela berlapis emas untuk bangunan pada iklim panas, beling mobil dipanaskan listrik (windscreens heated electrically) memiliki lapisan tipis emas transparan dan konduktif (bersifat menghantarkan panas), pesawat terbang, kapal laut, dan lokomotif.

    Emas juga dikomsumsi oleh industri pencetakan (printing) dan furnitur dalam bentuk cat emas dan industri keramik dalam bentuk "emas cair" organik untuk aplikasi tanah liat (pottery) dan barang-barang gelas (glassware). Pada liring dan proses perlakuan lain, adonan emas organik direduksi meninggalkan suatu film tipis emas yang terkait secara besar lengan berkuasa pada perangkat keramik atau gelas. Sejumlah kecil emas juga digunakan untuk mewarnai gelas, sedikit garam emas dipakai pada proses fotografi tertentu dan antisipasi medis.

    Dampak Perkembangan Penggunaan Emas

    Apabila kita tinjau ke belakang, setidaknya 5000 tahun terakhir sejarah emas, kita menyaksikan bahwa logam yang paling berharga dan paling anggun/indah ini telah memainkan tugas yang hebat, bahkan kadang-kadang dominan dalam pengalaman/sejarah insan dan kemajuannya, pertama sebagai suplemen, kemudian sebagai alat tukar (uang logam), selanjutnya sebagai media/alat tukar internasional dan sekarang selaku unsur yang mesti ada dalam industri.

    Kita juga menyaksikan bahwa emas telah memancing insan melaksanakan pekerjaan baik dan buruk. Pada segi pertama, impian mempunyai logam ini menunjukkan kita banyak sekali inovasi baik pada bidang kimia maupun geografi; pada sisi kedua demam emas (auri sacra fames) telah memicu penaklukan, penjajahan, dan perbudakan aneka macam bangsa, perkelahian masyarakatdan perlakuan keji insan.

    Prospek emas di masa depan, kita melihat suatu industri dimana emas akan memainkan peran yang berkembangdalam produksi komputer kecepatan tinggi, telekomunikasi, wahana ruang angkasa, farmasi, dan ribuan barang-barang hasil kecerdasan manusia pada peradaban masa depan. Kita juga mengerti bahwa manusia tidak akan kehilangan pesonanya terhadap logam yang sudah usang dikaguminya karena keelokan alamiah dan kualitasnya yang tahan lama.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Rabu, 02 Desember 2020

    Pembentukan Emas : Kristalisasi Magma, Sublimasi, Metasomatisme, Dan Hidrotermal

    Hai sahabat geologinesia, sesudah sebelumnya kita membahas perihal apa itu emas, sejarah penambangan emas, dan faedah emas maka pada potensi ini geologinesia akan membahas perihal genesa atau pembentukan emas ditinjau dari sudut pandang ilmu geologi. Pembahasan perihal genesa atau proses terbentuknya emas yang dihidangkan dalam postingan ini lebih mengacu kepada pembentukan emas secara primer, sedangkan untuk emas sekunder (aluvial/placer) akan kita diskusikan pada kesempatan berikutnya.


    Secara umum, emas terbentuk menurut 4 rancangan yakni: kristalisasi magma, sublimasi, metasomatisme kontak, dan proses hidrotermal. Dari ke-4 desain di atas jelas terlihat bahwa asal mula pembentukan emas sungguh akrab relevansinya dengan tingkah laris magma. Simak penjelasannya dibawah ini.

    Kristalisasi Magma

    Magma memiliki sifat selalu bergerak ke segala arah (mobile). Salah satu pergerakannya yaitu intrusi, yakni penerobosan magma pada lapisan batuan/kulit bumi menuju ke permukaan bumi dan mengisi retakan-retakan atau celah-celah batuan yang ada di kulit bumi. Dalam perjalan ini, intrusi magma akan mengalami penurunan suhu dan tekanan yang mengakibatkan terjadinya kristalisasi mineral-mineral silikat. Proses kristalisasi berakibat pada terbentuknya mineral-mineral silikat dan mineral-mineral sisa cairan magma, termasuk terbentuknya emas porfiri (bergairah) yang mengkristal balasan pembekuan magma.

    Sublimasi

    Sublimasi ialah proses pengendapan langsung mineral dari uap atau gas. Pembentukan mineral merupakan proses kecil bila dibandingkan dengan proses-proses yang lain. Prinsip proses tersebut terletak pada penurunan suhu maupun tekanan. Endapan mineral biasanya terbentuk akibat dua atau lebih gas yang bereaksi. Cebakan emas sublimasi terbentuk karena terbawa oleh uap atau gas yang bereaksi.

    Metasomatisme Kontak

    Proses intrusi magma menyisihkan larutan dan gas bersuhu tinggi dan kalau bersentuhan dengan dinding batuan bercelah mampu menyebabkan reaksi yang menghasilkan mineral-mineral gres. Pembentukan bijih emas pada proses ini diakibatkan oleh magma kaya bijih bersinggungan dengan batuan samping yang reaktif (metasomatisme kontak), sehingga terbentuk emas yang biasanya mempunyai tekstur garang.

    Baca juga: Amalgamasi Emas

    Proses Hidrotermal

    Hasil final proses pembekuan magma yang mengintrusi yakni cairan sisa magma yang mengandung konsentrasi logam-logam tergolong emas. Cairan ini disebut larutan hidrotermal yang menenteng logam-logam ke daerah pengendapan gres. Endapan hidrotermal kebanyakan berkaitan dengan alterasi atau proses ubahan.

     setelah sebelumnya kita membahas mengenai  Pembentukan Emas : Kristalisasi Magma, Sublimasi, Metasomatisme, dan Hidrotermal
    Gambar rancangan sistem hidrotermal (sumber: Nature.com).

    Dari alterasi inilah dihasilkan perubahan susunan baik mineral maupun kimia batuan balasan efek cairan hidrotermal. Perubahan yang terjadi mampu berupa rekristalisasi, pembentukan mineral baru, penyusunan kembali komponen kimia, atau mampu menghasilkan perubahan sifat fisik seperti permeabilitas dan porositas batuan.

    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Senin, 30 November 2020

    Mengenal Tipe Mineralisasi Emas-Tembaga Porfiri Dan Skarn

    Emas-tembaga pada porfiri biasanya terletak di lingkungan busur kepulauan (island arc). Daerah tersebut mengalami penunjaman (subduction) yang kuat sehingga terjadi pengendapan mineralisasi porfiri (garang), sebagai pola contohnya busur magmatik PNG-Papua. Asosiasi emas dengan tembaga porfiri secara umum dibuat oleh batuan kalk-alkalin sampai alkalin pada busur volkanik dan pada umumnya busur tersebut berasosiasi dengan penunjaman.


    Sedangkan cebakan skarn terbentuk pada tempat magmatisme yang mengintrusi batugamping. Intrusi kebanyakan berhubungan dengan deposit-deposit porfiri dari batuan diorit, granit, tonalit, monzonit, dan granodiorit. Intrusi ini umumnya menjadi batuan beku dalam (stock) vertikal (1 - 2 km).

    Kebanyakan deposit emas-tembaga porfiri dan skarn terjadi pada sekitar 2 juta tahun yang lalu (Tersier - Miosen). Tatanan tektonik skarn banyak bekerjasama dengan sistem porfiri pada batas pemekaran lempeng (convergent plate margin), terutama pada batas benua yang aktif bergerak (active continental margin). Pada busur kepulauan, magma berkomposisi menengah - basa yang berasosiasi dengan batugamping terumbu sering menciptakan cebakan skarn yang kaya magnetit.

    tembaga pada porfiri umumnya terletak di lingkungan busur kepulauan  Mengenal Tipe Mineralisasi Emas-Tembaga Porfiri dan Skarn
    Gambar berbagai versi pembentukan endapan tipe porfiri.

    Jenis cebakan emas yang terbentuk pada tipe mineralisasi mirip ini ialah umumnya dalam bentuk lode emas kuarsa, tersebar (disseminated), dan mineral ikutannya. Lode emas kuarsa terdiri dari banyak sekali jenis endapan. Walaupun demikian, semua endapan lode ialah urat-urat kuarsa-emas yang berasal dari pengendapan larutan hidrotermal, baik itu berbentukpenggantian (replacement) unsur-unsur pada dinding batuan maupun berbentukpengisian rongga-rongga terbuka (cavity filling) di sepanjang zona rekahan.

    Pada endapan emas tersebar (disseminated) berisikan butiran-butiran halus emas yang tersebar di dalam batugamping lempungan dan batugamping dolomitan. Bijih ini terbentuk alasannya adalah proses penggantian oleh larutan hidrotermal kepada komponen-unsur pada batuan induk, sedangkan endapan emas ikutan terbentuk sebagai unsur ikutan dalam bijih logam dasar dan hanya bisa diperoleh kalau konsentrat logam dasar tersebut dilebur atau dimurnikan.


    Contoh cebakan emas yang berasosiasi dengan tembaga pada porfiri dan skarn yaitu Ertzberg dan Grasberg (Papua), Batu Hijau (NTB), Tombalilato (Sulawesi Utara), Pulau Bacan, Kailaka, Sayoang, Raroang, Raiau, Pigaraja (Maluku), dan Tapanuli Selatan (Sumatera Utara).

    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Rabu, 25 November 2020

    Mengenal Mineralisasi Emas-Tembaga (Au-Cu) Sulfidasi Tinggi

    Jumpa lagi bareng emas atau sobat mampu menyaksikan daftar isi dan label pada laman blog ini biar memudahkan penelusuran atas artikel sebelumnya.

    Baca juga: Mengenal Tipe Mineralisasi Emas-Tembaga Porfiri dan Skarn

    Perlu dimengerti bahwa versi endapan emas-tembaga (Au-Cu) sulfidasi tinggi sama dengan versi endapan tipe porfiri adalah terdapat di jalur gunungapi dan cuma sedikit didapatkan di busur belakang. Jenis deposit ini pada mulanya terbentuk dari larutan asam panas yang didominasi oleh gas reaktif yang berasal dari magma, uap, dan gas (H2O, CO2, SO, HCl, HF).

    Selanjutnya, magma, uap, dan gas-gas tersebut akan naik dan berpindah secara vertikal dan lateral melalui patahan/struktur serta melalui permeabilitas batuan untuk berikutnya akan bereaksi dengan batuan samping dan mengalami proses pencampuran larutan. Tipe endapan emas-tembaga sulfida tinggi ini lebih sering bereaksi dengan batuan volkanik yang bersifat alkali (kalk-alkali).

    Jenis cebakan dari tipe yang seperti ini biasanya adalah lode emas kuarsa dan epitermal. Endapan emas epitermal sulfidasi tinggi dapat berbentukurat-urat hidrotermal kuarsa, karbonat, barit, dan fluorit yang mengandung emas native atau emas telurida serta sejumlah perak.

    Baca juga: Inilah Pemanfaatan Emas yang Paling Utama

    Gambar model endapan emas epitermal sulfidasi tinggi.

    Secara lazim, endapan sulfidasi tinggi ini terbentuk sebagai akhir pengisian rongga-rongga oleh larutan hidrotermal dan sering terjadi pada batuan-batuan volkanik Tersier yang mengalami proses alterasi berpengaruh. Kenampakan di lapangan biasanya terbentuk pada batuan andesit dan riodasit yang memperlihatkan daerah ubahan yang luas, umumnya beberapa km persegi.

    Baca juga: Dimanakah Bisa Kita Jumpai Emas Aluvial (Placer) ?

    Daerah yang prospek untuk versi cebakan mineralisasi logam ini terdapat di Miwah bagian Kepala Burung dan Bomberai (Papua), serta di Rinca dan Watuasa (NTT). Dengan semakin gencarnya eksplorasi emas di kawasan indonesia, diharapkan akan bermunculan tipe-tipe mineralisasi logam yang lebih bervariatif, sehingga dapat menambah wawasan kita perihal versi depositnya.
    Sumber https://www.geologinesia.com/

    Senin, 23 November 2020

    Mengenal Tipe Mineralisasi Emas Sulfida Rendah

    Hai teman geologinesia jumpa lagi kita dalam pembahasan mengenai mineralisasi emas sulfida. Setelah sebelumnya kita membicarakan mengenai mineralisasi emas sulfida tinggi, maka untuk postingan kali ini kita akan membicarakan perihal tipe mineralisasi emas sulfida rendah (Au Low Sulfidation).

    Emas sulfida rendah intinya terbentuk sama dengan mineralisasi emas di metode porfiri. Untuk lebih gampang memahaminya, geologinesia akan membagi emas sulfida jenis ini menjadi 2 macam ialah:
    1. Emas-Kuarsa Sulfida Rendah (Au-Quartz Low Sulfidation)
    2. Emas serta Logam Dasar Dalam Batuan Karbonat

    Baca juga: Mineralisasi Emas-Tembaga Sulfida Tinggi


    Emas-Kuarsa Sulfida Rendah (Au-Qz Low Sulfidation)

    Emas-kuarsa sulfida rendah terbentuk di tatanan tektonik yang berkaitan dengan sistem porfiri yaitu umumnya terbentuk di busur vulkanik, hanya sedikit didapatkan di busur belakang. Mereka terbentuk pada tahap tamat sistem porfiri atau proses intrusi yang terdapat di sekeliling intrusi porfiri.

    Kenampakan emas sulfida ini di lapangan mampu berbentukurat kuarsa maupun breksi dengan tebal beberapa sentimeter sampai beberapa meter. Kuarsa di metode ini umumnya bentuknya garang serta banyak mengandung mineralisasi sulfida seperti pirit, kalkopirit, galena, sfalerit, arsenpirit, hematit maupun magnetit berbentuk kristal indah.

    Disini emas diendapkan melalui proses pemanasan (boiling) maupun oleh pencampuran larutan sisa magma juga air meteorik (air dalam batuan). Jenis cebakan mineralisasi emas tipe ini adalah berbentuklode emas kuarsa epitermal.

    Contoh cebakan jenis ini di Indonesia ada di Arinem (Garut), Cikondang (Cianjur), Jampang (Jawa Barat), Bengkayang (Kalimantan Barat), serta Kokap (Kulon Progo).

    Baca juga: Mineralisasi Emas-Tembaga Porfiri dan Skarn


    Berdasarkan beberapa teori para ahli geologi, dihasilkan versi sistem hidrotermal yang berhubungan dengan pembentukan endapan mineral epitermal emas sulfida tinggi maupun sulfida rendah.

    Sistem emas sulfida rendah diasumsikan berada disisi struktur vulkanik. Garis titik-titik memperlihatkan jalur penguapan bermuatan gas, sedangkan garis putus-putus memperlihatkan fatwa perlahan ke bawah udara teroksidasi air asam sulfat (Giggenbach, 1992).

    Hai sobat geologinesia jumpa lagi kita dalam pembahasan mengenai mineralisasi emas sulfida Mengenal Tipe Mineralisasi Emas Sulfida Rendah
    Gambar tekstur banded penciri emas sulfida rendah.

    Emas dan Logam Dasar di Batuan Karbonat (Au Carbonate Base Metal)

    Emas maupun logam dasar dalam batuan karbonat terbentuk pada busur volkanik serta letaknya lebih akrab ke permukaan dari intrusi porfiri. Endapan ini umumnya berasosiasi bareng diatrema tufa atau breksi hidrotermal, atau mampu juga di kubah akhir tektonik (endogenous dome).

    Breksi ialah batuan yang sungguh penting alasannya adalah lazimnya akan selalu berasosiasi dengan pembentukan bijih emas. Breksi berupa batuan klastik tersusun oleh fragmen batuan yang diikiat oleh matriks. Mineral-mineral hidrotermal umumnya mengisi rongga-rongga antar fragmen.

    Baca juga: Genesa Pembentukan Emas berdasarkan Ilmu Geologi

    Hai sobat geologinesia jumpa lagi kita dalam pembahasan mengenai mineralisasi emas sulfida Mengenal Tipe Mineralisasi Emas Sulfida Rendah
    Kenampakan mineralisasi logam dasar dalam batuan karbonat.

    Model endapan ini terbentuk alasannya adalah pencampuran larutan sisa magma bersama air dalam batuan kaya CO2 akrab permukaan. Kenampakan emas sulfida rendah di lapangan mampu berbentukstockwork maupun breksi karbonatan.

    Jenis endapan yang biasanya terjadi pada model cebakan mirip ini diantaranya yakni lode emas kuarsa epitermal. Prospek cebakan endapan versi ini banyak terdapat di Kelian (Kalimantan Timur) juga di Ajibarang (Jawa Tengah).
    Sumber https://www.geologinesia.com/